|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Adalah novelis dan
intelektual Tunisia Hassouna Mosbahi yang menurunkan kalimat berikut
mengenai asal muasal pergolakan di negerinya melalui perbincangan antara
dia dan sastrawan Tunisia lain bernama Awlad Ahmed. “Serentak setelah
perbincangan usai, Awlad Ahmed mengatakan kepada saya, ‘Dengarkan: di
tempat kelahiran saya di Sidi Bouzid sedang terjadi kerusuhan serius.
Seorang anak muda bernama Mohamed Bouazizi bunuh diri sebagai protes
atas sempitnya lapangan pekerjaan. Sekarang kemarahan rakyat meledak.
Mereka turun kejalan, terjadi bentrokan dengan polisi.”
Dari Sidi
Bouzid inilah kemudian api liar revolusi Arab itu menjalar ke berbagai
penjuru, tidak saja di Tunisia, tetapi juga ke seantero dunia Arab yang
kini sudah berlangsung hampir setahun. Revolusi Tunisia dikenal di Barat
dengan sebutan Revolusi Jasmine (Jasmine nama bunga di Tunisia). Di
Tunisia sendiri lebih dikenal dengan sebutan “Thaurat al-Karama”
(Revolusi Harga Diri).
Nama terakhir inilah yang lebih tepat
karena melalui revolusi martabat dan harga diri rakyat mau dipulihkan
yang selama ini tidak dihiraukan oleh penguasa otokrat. Dengan membakar
diri sendiri pada 17 Desember 2010, pemuda Bouazizi yang malang itu
telah memicu meledaknya sebuah perubahan radikal yang tidak saja
membakar Tunisia, tetapi apinya menjalar ke seluruh dunia Arab.
Dengan tergulingnya Presiden Ben Ali pada 14 Januari 2011 yang kemudian
melarikan diri ke Arab Saudi, revolusi Tunisia telah berjaya menebang
pohon tirani Arab di negeri yang baru saja mengadakan pemilu damai yang
dimenangkan oleh Partai Ennahdah sekalipun dengan perolehan suara di
bawah 50 persen.
Partai itu mengusung bendera Islam moderat,
meniru pola Turki di bawah Erdogan. Siapa tahu suasana pemilu damai
Tunisia ini akan ditiru oleh negara-negara Arab lainnya pascatumbangnya
berbagai sistem diktator, seperti yang terjadi di Mesir dan Libya. Bagi
pihak-pihak yang antidemokrasi, biarkan saja menawarkan sistem lain
dengan syarat didukung rakyat dan mampu memberi keadilan merata dan
memulihkan harga diri mereka yang sekian lama tertindas.
Bagaimana
kira-kira masa depan revolusi Arab ini, tidak mudah untuk dikatakan.
Banyak sekali faktor penentu yang terlibat di dalamnya. Tetapi,
setidak-tidaknya, dunia Arab kini telah berubah, bukan diawali dari
istana atau tekanan dari luar, melainkan sepenuhnya digerakkan oleh
kesadaran rakyat di tingkat akar rumput, seperti kenekatan seorang
Mohamed Bouazizi yang menyulut kemarahan luas.
Mesir dalam tempo
dekat juga akan mengadakan pemilu, kemudian tahun depan akan disusul
oleh Libya yang situasinya lebih ruwet, terutama karena adanya campur
tangan NATO dalam upaya penggulingan Qadafi pada 20 Oktober 2011. Proses
kematian Qadafi ini telah memicu kontroversi yang luas di Barat dan
dunia Arab. Entah bagamana solusinya di kemudian hari, kita tunda saja
untuk mengatakannya.
Berbeda dengan Tunisia dan Libya yang
membatasi akses terhadap informasi, baik media cetak/elektronik maupun
dunia maya, Presiden Mubarak justru membuka sumber informasi secara luas
yang ternyata kemudian telah mempercepat keruntuhan rezimnya. Di era
yang serbadigital ini, mengebiri sumber-sumber informasi bagi rakyat
banyak tidak banyak faedahnya lagi.
Dasawarsa kedua abad ke-21
adalah sebuah testimoni bagi revolusi Arab yang pasti tidak mungkin
dibendung lagi. Dengan segala kemungkinan munculnya korban-korban baru
dalam revolusi Arab, optimisme Mosbahi perlu kita ikuti: “Di Tunisia,
Mesir, Libya, dan di negara-negara Arab lainnya, elite politik dan
intelektual cukup mampu menghadapi cobaan-cobaan sulit yang ada di depan
mereka.
Elite seperti inilah yang menjadi ‘ikat pinggang
pengaman’ di saat revolusi-revolusi baru Arab itu melaksanakan maksud,
tujuan, dan sasaran mereka. Inilah sebenarnya yang didambakan oleh para
martir tak berdosa dan yang mula-mula dari semua ini adalah seorang
pemuda melarat bernama Mohamed Bouazizi.” Kita serahkan sepenuhnya
kepada Sang Pencipta hidup dan mati, bagaimana selanjutnya perjalanan
ruh pemuda dari Sidi Bouzid ini. Saya tidak bisa beri komentar.
Di
tengah optimisme Mosbahi, kita turunkan pula pertanyaan tajam dari
penyair dan novelis Yaman Ali al-Muqri dalam menjawab persoalan: “Badai
dari Timur: Apakah revolusi Arab akan bertahan atau hanya sesuatu yang
akan berlalu?” Inilah ujung artikel Muqri: “Oleh sebab itu, pertanyaan
dari semua pertanyaan tetap saja: akankah strategi untuk me raih
modernisasi bisa tampil atau setiap partai berusaha memaksakan
ideologinya sendiri saat diberikan peluang untuk pegang kekuasaan?
Akankah pusat kekuasaan ingat bahwa jalan [demo rakyat di jalan] punya
kemampuan untuk menurunkannya setiap waktu, sebagaimana berlaku bagi
para pendahulnya?”
Bagi saya, hasil renungan para sastrawan ini
patut benar dipertimbangkan oleh kaum elite demi hari depan revolusi
Arab yang adil. Karena, denyut nadi mereka pada hakikatnya adalah wakil
nurani rakyat yang menderita.
Sumber : http://republika.co.id:8080/koran/28/148305/Revolusi_Arab_dalam_Sorotan_III |