|
Bila Anda mendengar seorang jaksa atau hakim
yang mau pindah ke tempat yang lebih basah, pasti ada anak kalimat berupa
pertanyaan yang mengiringinya: harus bayar berapa? Tidak hanya itu. Mau jadi
polisi, tentara, jadi PNS, apalagi mau bekerja di BUMN, hampir pasti harus
diberi minyak pelumas. Cerita tentang ini tidak pernah kering, bertali
berkelindan, ruwet, ujungnya: duit. Apalagi jika Anda ingin jadi anggota DPR,
pusat atau daerah, pasti harus punya modal untuk itu. Modal itu tidak cukup
hanya kepintaran, integritas, komitmen, tetapi Anda punya dana berapa. Dengan
dana yang cukup, nilai-nilai moral ini hanyalah menempati posisi ke sekian.
Dalam kondisi budaya lagi kumuh ini, uang adalah
raja yang berkuasa penuh. Persekongkolan pengusaha dengan dunia perbankan dan
praktek jual-beli perkara adalah panorama lain yang semakin menyengsarakan
rakyat kita. Tentu di sana-sini ada saja perkecualian, tetapi itu hanyalah riak-riak
kecil yang pasti ditelan gelombang air yang kumuh itu.
Apakah tidak ada kekuatan pencerahan dan pencerdasan melalui berbagai media?
Ada, tetapi belum berdaya. Dalam budaya yang serba kumuh ini, telah datang para
penjaja obat pembersih dengan tawaran-tawaran yang memukau. Ada yang datang
dengan resep spiritual, agama, ekonomi, dan politik, tetapi keadaan tetap tidak
berubah. Pangsa pasar yang bernama Indonesia masih saja tidak bersih. Adalah
penyair Pakistan, Mohammad Iqbal, yang pernah memberikan sindiran tajam tentang
sebuah masyarakat dan budaya yang sedang sakit, sementara berbagai resep telah
ditawarkan, tetapi tak satu pun yang mujarab:
Yang mengherankan
Bukanlah karena Anda
Punya mukjizat [penyembuh] seperti Al-Masih
Yang mengherankan
Adalah sakit pasien Anda
Bertambah parah
Barangkali Indonesia sedang berada dalam lingkaran sindiran itu. Belum satu pun
masalah mendasar yang dapat diselesaikan secara tuntas: korupsi, politik uang,
penegakan hukum, mental aparat yang tidak banyak berbeda dengan mental maling,
otonomi daerah yang banyak persoalan, dan sederetan masalah yang berjibun.
Dulu orang menyalahkan sistem demokrasi yang tak langsung. Lalu MPR membuat
undang-undang tentang demokrasi langsung, tapi situasi belum juga semakin
membaik. Angka pengangguran tetap tinggi karena lapangan kerja yang amat
sempit. Suasana desa lengang tanpa gairah, semuanya serba sulit dan mencekam.
Lalu berduyun-duyun migrasi ke kota-kota untuk menjadi penganggur dengan
membawa segudang masalah pula. Muncullah di mana-mana daerah gelap yang dihuni
warga miskin tak berdaya, sementara anak bertambah juga.
Dalam pada itu, pendidikan sejak kita merdeka pun tidak memberdayakan anak
didik. Yang lahir umumnya bukan manusia merdeka yang kreatif, melainkan warga
yang serba bergantung pada negara. Maka tidak mengherankan antrean panjang
untuk menjadi PNS, karena lorong yang lain tertutup rapat. Adapun yang lolos
dari lingkaran pengap ini adalah mereka yang bermental raja wali, yang umumnya
didapatkan di luar sistem pendidikan. Sekalipun manusia tipe ini jumlahnya
masih minoritas, hari depan Indonesia banyak menaruh harapan kepadanya.
Dalam pertemuan saya bersama M.T. Zen dengan alumni ITB Jakarta baru-baru ini,
saya menjumpai di sana anak-anak Indonesia yang bermental raja wali itu.
Dibukanya usaha bisnis di luar negeri dan berhasil, karena iklim dalam negeri
tidak kondusif untuk berusaha. Mereka berprinsip, jangan habiskan energi di
dalam negeri karena pasti kacau dan sangat melelahkan.
Ibarat seorang pasien, Indonesia kini sedang menunggu anak-anak bangsa kreatif
yang punya integritas untuk perbaikan masa depan bagi semua. Mereka ini bisa
berasal dari perguruan tinggi, madrasah/pesantren, dan dari lembaga-lembaga
nonformal. Kantong-kantong kreatif ini mulai bermunculan dari rahim berbagai
subkultur bangsa. Mereka bekerja secara profesional, tidak untuk diri sendiri,
tetapi untuk kepentingan yang lebih besar.
Umumnya mereka adalah warga yang beragama secara tulus, autentik, dan tidak
main politik yang penuh intrik dan gesekan itu. Sekalipun budaya Indonesia pada
umumnya masih kumuh, mereka ini telah dan sedang membangun kantong-kantong
budaya bersih, karena idealisme mereka yang tahan banting, bukan idealisme
instan. Semestinya pemimpin-pemimpin formal memberi fasilitas kepada warga tipe
ini, sekiranya para pemimpin itu punya kepekaan dan kecerdasan dalam membaca
peta masyarakat kita yang dililit berbagai masalah yang rumit ini.
Dalam lingkaran budaya yang sudah sehat dan bersih, para penjual obat dan resep
dengan serba janji penyembuhan, barang dagangannya tidak pernah laku. Mereka
benar-benar telah tercerahkan oleh pengalaman hidupnya yang pahit, berliku,
tetapi kaya.
Contoh serupa juga saya jumpai pada sedikit perusahaan swasta yang berpedoman
pada prinsip good governance (tata kelola pemerintahan yang baik),
sekalipun mereka bergerak dalam dunia swasta. Dalam dunia usaha yang sehat
inilah sakit si pasien menjadi sembuh karena lingkungan yang segar, manusiawi,
dan menggairahkan. "Virus" dari kantong-kantong sehat inilah yang
harus cepat ditularkan ke berbagai penjuru, agar Indonesia benar-benar bangkit
secara sehat, berdaulat, dan percaya diri.
|