|
Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Sewaktu masih berada di PP Muhammadiyah, kesadaran kebangsaan saya belum setajam seperti sekarang. Semakin banyak saya mengenal dapur republik ini, semakin terluka rasa kebangsaan saya, sementara elite politik seperti tenang-tenang saja, termasuk mungkin elite Muhammadiyah di lembaga-lembaga negara. Kesimpulan sementara adalah: sangat minoritas orang Indonesia yang bisa diajak berfikir jauh ke depan. Sebagian besar larut dalam kultur pragmatisme tunanurani. Teman-teman lintas agama yang masih berupaya memakai bahasa hati seperti tenggelam begitu saja ditelan gelombang kelompok-kelompok yang tunamoral yang terus menerus menggerogoti APBN/APBD. Akibatnya, jika gelombang destruktif ini tidak dihentikan segera, yang tersisa buat Indonesia masa depan hanyalah pepes kosong. Pertanyaannya adalah siapa yang mampu menghentikan? Apa yang disebut masyarakat sipil, Muhammadiyah termasuk di dalamnya, masih dalam kondisi lemah untuk mengubah segala penyimpangan yang tengah berlaku secara ganas dan sistemik.
Dalam membantu bangsa dan negara, Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah berbuat cukup banyak dan penuh arti. Tetapi Muhammadiyah tidak pernah siap menghadapi segala kemungkinan nahas (nasib sial) jika suatu saat negara ini menjadi gagal. Dalam Khutbah Iftitah Tanwir di Denpasar beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengucapkan ini: Jika negara ini tersungkur, Muhammadiyah akan turut tersungkur. Alasannya sederhana saja. Muhammadiyah memang belum pernah berfikir serius tentang format alternatif bagi bangsa dan negara ini. Semestinya pada periode abad ke-2 keberadaannya, masalah-masalah besar tentang bangsa dan negara ini harus menjadi kajian Muhammadiyah yang di era saya belum berfikir sejauh itu. Kegiatan-kegiatan sambilan yang melibatkan saya akhir-akhir ini semakin menyadarkan saya tentang betapa bangsa dan negara ini telah disia-siakan oleh para elitenya yang mati rasa. Bahwa Muhammadiyah sibuk dengan masalah awal dan akhir bulan Ramadhan, tidak ada yang salah di situ, karena memang diperlukan.
Tetapi membiarkan bangsa dan negara ini semakin tenggelam di tengah-tengah kerakusan para elitenya: politik dan ekonomi, sama artinya dengan mengkhianati diktum yang tercantum pada Bab II Pasal 4 Ayat 1 Anggaran Dasar Muhammadiyah 2005: “Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Semakin batang usia ini mendekati maut, diktum ini terasa semakin mendera jiwa saya. Apa makna gerakan Islam, da’wah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang bersumber al-Qur’an dan sunnah, bila dihadapkan kepada kondisi Indonesia yang semakin rapuh. Tanpa ada terobosan radikal dalam gerak Muhammadiyah untuk perbaikan bangsa dan negara ini, harapan masa depan yang ceria belum terbayang sama sekali. Apa yang pernah saya lakukan di saat berada di PP diukur dengan kesadaran kebangsaan di usia sepuh ini, saya menarik nafas panjang dan dalam karena malu. Malu sekali, tetapi tidak perlu menyesal!
Saya merasa serba terlambat untuk mengerti tentang dapur Indonesia yang semakin tak terurus ini. Tidak ada masalah fundamental yang selesai di negara ini: korupsi yang menggurita, kerusakan lingkungan yang semakin parah, sistem perpajakan yang ambur-adul, kondisi bea cukai yang telah lama jadi sarang penyamun, perbankan dan pertambangan yang dikuasai asing, wajah perpolitikan yang bopeng tanpa harapan, dan 1001 masalah lain yang sedang melilit sekujur tubuh bangsa dan negara ini. Saya tidak tahu bagaimana cara mengurai timbunan dan jibunan masalah-masalah besar ini untuk dihiraukan oleh kalangan Muhammadiyah dengan puluhan perguruan tingginya itu. Tanpa bergerak secara strategis untuk menjawab tantangan ini, maka harapan agar Muhammadiyah tampil sebagai salah satu pilar utama sebagai penopang Indonesia yang lagi menderita ini, maka da’wah kita hanyalah akan tetap berkutat di pinggir-pinggir arus besar destruktif yang tengah mengharu-birukan perjalanan bangsa kita ke depan.
(Khusus ditulis untuk Suara Muhammadiyah)
|