| Kado Film |
|
|
|
| Tuesday, 01 November 2011 | |
|
Namun, ia tetap bersemangat sampai film berdurasi 90 menit itu usai. ”Film ini menggambarkan realitas yang mencemaskan di Indonesia,” kata Buya yang masih tampak bersemangat ketika berbincang dengan wartawan.
”Kalau pemerintah sungguh berniat menyelesaikan masalah kebangsaan, harus menyebarluaskan film ini supaya ditonton banyak orang, agar keluarga Indonesia dan anak muda mampu melawan beragam bentuk fundamentalisme.” Film ”kado” peringatan Hari Sumpah Pemuda itu diadaptasi dari kisah nyata berdasarkan penelitian Maarif Institute tentang fenomena fundamentalisme agama di kalangan kaum muda. Paduan ketidakharmonisan keluarga, kesulitan ekonomi, frustrasi sosial-politik, dan sempitnya pandangan keagamaan adalah rumput kering yang siap terbakar kapan pun. Berulang-ulang Buya menyatakan, ”Kelompok fundamentalisme itu tak bermoral karena membajak pesan-pesan kemanusiaan agama. Anak muda yang terjebak dalam doktrin hitam putih keagamaan sesungguhnya tengah menggali kubur masa depannya sendiri.”
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




Meski sudah naik ojek menerobos kemacetan Jakarta, Buya Syafii Maarif
(76) tetap terlambat menghadiri pemutaran perdana film Mata Tertutup
di Jakarta, Kamis (27/10) malam. Film produksi Maarif Institute dan SET
Film, besutan sutradara Garin Nugroho, itu sudah berjalan 15 menit saat
Buya tiba.