Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Sep 30 2006
AFGANISTAN : NEGERI YANG TERKOYAK PDF Print E-mail
Sunday, 01 October 2006

Afghanistan, sebuah negeri papa yang malang, sejak beberapa tahun terakhir terus saja dikoyak perang, baik perang saudara antarsuku atau faksi kepentingan maupun perang melawan pendudukan asing. Dengan jumlah penduduk sekitar 30 juta, pendapatan per kepala hanyalah sekitar 100 dolar. Harapan hidup rata-rata di bawah 50 tahun, kematian bayi sekitar 160 per 1.000 kelahiran. Total jumlah dokter beberapa tahun yang lalu hanyalah 2.556. Selama seperempat abad terakhir, dua paham modern: komunisme dan kapitalisme, telah menyerbu negeri miskin itu dengan menggunakan para elite Afghan yang telah tercuci otaknya.

Afghanistan sebelah timur dan selatan berbatasan dengan Pakistan, barat dengan Iran, utara dengan negara-negara Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan, jauh ke utara dengan Cina. Jadi, negeri ini dikelilingi negara-negara muslim, tetapi tidak berdaya menolong Afghanistan, karena mereka juga sibuk dengan urusan negerinya masing-masing. Masih terlalu sulit bagi Islam untuk membuat mereka akur. Sebab utamanya, egoisme dan subjektivisme sejarah telah mengalahkan kehendak Islam yang menegaskan bahwa semua orang beriman itu bersaudara. Kepentingan sesaat tampaknya jauh lebih dominan. Dengan angka kelahiran rata-rata 4,77%, jumlah penduduk Afghanistan tumbuh cepat, sekalipun angka kematian bayi juga tinggi.

Sekarang, di bawah komando NATO (Organisasi Perjanjian [Pertahanan] Atlantik Utara), ribuan tentara asing ada di sana; Inggris 5.000, Jerman 2.750, Belanda 2.000, Kanada 2.000, Italia 1.600, Amerika Serikat 1.300 plus 19.700 yang tidak di bawah Nato, Prancis 1.000, Spanyol 600, Rumania 560, dan Turki 450. Jumlah keseluruhannya 39.915 (Molly Moore dan John Ward Anderson, ''NATO faces crisis in Afghanistan" dalam The Wall Street Journal, 19 September 2006, halaman 18).

Di antara pasukan multinasional itu, yang paling sulit adalah posisi Turki yang muslim. Lantaran sebagai anggota Nato, negara ini harus terlibat di sana.

Sekalipun perang suku dan faksi politik sering juga berekecamuk, rakyat Afghan pada prinsipnya tidak bisa dijajah bangsa lain. Fakta inilah yang tidak mau disadari negara asing, demi kepentingan penguasaan aliran minyak dunia, seperti yang terdapat di Laut Kaspi.

Dari penduduk yang mayoritas Islam itu, pengikut Suni 84%, Syiah 15%, lainnya 1%. Islam telah masuk ke kawasan ini sejak abad ke-7, tetapi baru di bawah Mahmud Ghazni (998-1031) agama ini dipeluk rakyat banyak. Sebelumnya, pada abad ke-3-8 Masehi, agama Buddha yang dominan.

Ghazni adalah panglima perang perkasa yang merambah jalan bagi Islam di sana melalui penaklukan. Jadi, tidak seluruhnya salah bila disebut bahwa dakwah Islam juga berkembang mengikuti penaklukan militer. Yang salah adalah jika dikatakan bahwa penduduk dipaksa masuk Islam, karena cara ini ditentang keras Al-Quran dan umumnya dipatuhi para penguasa.

Perang saudara dan konflik politik yang berlainan ideologi sudah berlangsung lama. Tidaklah mengherankan jika pada 1965-1972 telah berlaku pergantian lima perdana menteri, karena polarisasi politik nasional yang tajam sesama muslim. Sudah tentu berpihak pada salah satu faksi tidak dapat dimasukkan dalam kategori jihad, sekalipun para pemimpinnya menggunakan ayat-ayat Al-Quran. Umat banyak umumnya terbelah menurut kecenderungan ideologi pemimpin faksinya, apakah itu Islam politik atau marxisme.

Jika ditengok ke belakang, pada abad ke-19 Tsar Rusia dan Inggris selalu berebut pengaruh di Afghanistan yang oleh Rudyard Kipling dikatakan sebagai "Great Game" (Permainan Besar). Baru di akhir abad itu, batas-batas yang sekarang diciptakan. Memasuki abad ke-21, anak-anak Afghan hidup dalam kepedihan demi kepedihan dalam serba ketidakpastian akibat bentrokan politik yang tidak ada habis-habisnya, baik konflik internal maupun karena perang melawan penjajah asing. Kata orang, generasi mudanya "knows nothing but war" (tidak tahu apa-apa, kecuali perang).

Saya menangisi perihnya nasib mereka. Islam sendiri sudah lama tidak menjadi pegangan hidup mereka dalam cara berbangsa dan bernegara. Ini, bagi saya, perkara amat serius. Tidak saja diderita oleh Afghanistan. Seluruh bangsa muslim di muka bumi lebih banyak memakai Islam sebagai label luar dan untuk KTP (seperti di Indonesia), bukan sebagai pegangan dan pedoman hidup transendental dalam upaya menciptakan peradaban yang adil dan ramah di muka bumi.

Osama bin Laden, dengan teologi mautnya untuk melawan kapitalisme dan neo-imperialisme modern yang menghina dunia Islam, bukanlah opsi yang dapat dibenarkan. Baik imperialisme maupun teologi maut pasti akan sama-sama bermuara ke harakiri peradaban.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

NetOp School Student
Capture One 5 Pro for Mac
HostMonitor Enterprise
Bigasoft DVD to MP4 Converter
Roxio Toast 11 Titanium MAC
Adobe Illustrator CS4 for Mac
Autodesk 3ds Max 2012
Microsoft Expression Studio 4 Web Professional
Ashampoo 3D CAD Professional 2
Norton AntiVirus 11 for MAC