|
Afghanistan, sebuah negeri papa yang malang,
sejak beberapa tahun terakhir terus saja dikoyak perang, baik perang saudara
antarsuku atau faksi kepentingan maupun perang melawan pendudukan asing. Dengan
jumlah penduduk sekitar 30 juta, pendapatan per kepala hanyalah sekitar 100
dolar. Harapan hidup rata-rata di bawah 50 tahun, kematian bayi sekitar 160 per
1.000 kelahiran. Total jumlah dokter beberapa tahun yang lalu hanyalah 2.556.
Selama seperempat abad terakhir, dua paham modern: komunisme dan kapitalisme,
telah menyerbu negeri miskin itu dengan menggunakan para elite Afghan yang
telah tercuci otaknya.
Afghanistan sebelah timur dan selatan berbatasan
dengan Pakistan, barat dengan Iran, utara dengan negara-negara Turkmenistan,
Uzbekistan, dan Tajikistan, jauh ke utara dengan Cina. Jadi, negeri ini
dikelilingi negara-negara muslim, tetapi tidak berdaya menolong Afghanistan,
karena mereka juga sibuk dengan urusan negerinya masing-masing. Masih terlalu
sulit bagi Islam untuk membuat mereka akur. Sebab utamanya, egoisme dan
subjektivisme sejarah telah mengalahkan kehendak Islam yang menegaskan bahwa
semua orang beriman itu bersaudara. Kepentingan sesaat tampaknya jauh lebih
dominan. Dengan angka kelahiran rata-rata 4,77%, jumlah penduduk Afghanistan
tumbuh cepat, sekalipun angka kematian bayi juga tinggi.
Sekarang, di bawah komando NATO (Organisasi Perjanjian [Pertahanan] Atlantik
Utara), ribuan tentara asing ada di sana; Inggris 5.000, Jerman 2.750, Belanda
2.000, Kanada 2.000, Italia 1.600, Amerika Serikat 1.300 plus 19.700 yang tidak
di bawah Nato, Prancis 1.000, Spanyol 600, Rumania 560, dan Turki 450. Jumlah
keseluruhannya 39.915 (Molly Moore dan John Ward Anderson, ''NATO faces crisis
in Afghanistan" dalam The Wall Street Journal, 19 September 2006,
halaman 18).
Di antara pasukan multinasional itu, yang paling sulit adalah posisi Turki yang
muslim. Lantaran sebagai anggota Nato, negara ini harus terlibat di sana.
Sekalipun perang suku dan faksi politik sering juga berekecamuk, rakyat Afghan
pada prinsipnya tidak bisa dijajah bangsa lain. Fakta inilah yang tidak mau
disadari negara asing, demi kepentingan penguasaan aliran minyak dunia, seperti
yang terdapat di Laut Kaspi.
Dari penduduk yang mayoritas Islam itu, pengikut Suni 84%, Syiah 15%, lainnya
1%. Islam telah masuk ke kawasan ini sejak abad ke-7, tetapi baru di bawah
Mahmud Ghazni (998-1031) agama ini dipeluk rakyat banyak. Sebelumnya, pada abad
ke-3-8 Masehi, agama Buddha yang dominan.
Ghazni adalah panglima perang perkasa yang merambah jalan bagi Islam di sana
melalui penaklukan. Jadi, tidak seluruhnya salah bila disebut bahwa dakwah
Islam juga berkembang mengikuti penaklukan militer. Yang salah adalah jika
dikatakan bahwa penduduk dipaksa masuk Islam, karena cara ini ditentang keras
Al-Quran dan umumnya dipatuhi para penguasa.
Perang saudara dan konflik politik yang berlainan ideologi sudah berlangsung
lama. Tidaklah mengherankan jika pada 1965-1972 telah berlaku pergantian lima
perdana menteri, karena polarisasi politik nasional yang tajam sesama muslim.
Sudah tentu berpihak pada salah satu faksi tidak dapat dimasukkan dalam
kategori jihad, sekalipun para pemimpinnya menggunakan ayat-ayat Al-Quran. Umat
banyak umumnya terbelah menurut kecenderungan ideologi pemimpin faksinya,
apakah itu Islam politik atau marxisme.
Jika ditengok ke belakang, pada abad ke-19 Tsar Rusia dan Inggris selalu
berebut pengaruh di Afghanistan yang oleh Rudyard Kipling dikatakan sebagai
"Great Game" (Permainan Besar). Baru di akhir abad itu, batas-batas
yang sekarang diciptakan. Memasuki abad ke-21, anak-anak Afghan hidup dalam
kepedihan demi kepedihan dalam serba ketidakpastian akibat bentrokan politik
yang tidak ada habis-habisnya, baik konflik internal maupun karena perang
melawan penjajah asing. Kata orang, generasi mudanya "knows nothing but
war" (tidak tahu apa-apa, kecuali perang).
Saya menangisi perihnya nasib mereka. Islam sendiri sudah lama tidak menjadi
pegangan hidup mereka dalam cara berbangsa dan bernegara. Ini, bagi saya, perkara
amat serius. Tidak saja diderita oleh Afghanistan. Seluruh bangsa muslim di
muka bumi lebih banyak memakai Islam sebagai label luar dan untuk KTP (seperti
di Indonesia), bukan sebagai pegangan dan pedoman hidup transendental dalam
upaya menciptakan peradaban yang adil dan ramah di muka bumi.
Osama bin Laden, dengan teologi mautnya untuk melawan kapitalisme dan
neo-imperialisme modern yang menghina dunia Islam, bukanlah opsi yang dapat
dibenarkan. Baik imperialisme maupun teologi maut pasti akan sama-sama bermuara
ke harakiri peradaban.
|