Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Sep 02 2006
JOTAKAN PDF Print E-mail
Sunday, 03 September 2006

Jotakan istilah Jawa dibaca jotak-an (berseteru/berselisih). Ada lagi ungkapan Jawa lainnya, neng-nengan (diam-diaman/saling tidak bersapaan). Sifat ini biasanya lebih banyak dijumpai di kalangan anak kecil dan pemuda-pemudi, kadang-kadang oleh sebab yang sepele, seperti seorang anak kalah main kelereng atau sedikit dikibuli temannya. Jotakan di kalangan orang tua tentu disebabkan oleh masalah yang ada substansinya. Dalam Islam, jotakan hanya dihalalkan selama tiga hari. Setelah itu harus berdamai, saling memaafkan, sekalipun dalam kenyataan umat Islam tidak selalu mudah melakukannya.

Tetapi, dalam sejarah modern Indonesia, ada jenis jotakan yang dahsyat sekaligus menggelikan, dilakukan oleh para petinggi, baik yang sedang berkuasa maupun yang sudah jatuh. Saya akan menyebut beberapa nama di sini, bukan untuk memberi nilai kurang kepada mereka, melainkan semata-mata untuk mengingatkan kita semua, bangsa ini, bahwa orang tua pun ternyata tidak sunyi dari sifat itu. Saya akan menyoroti nama-nama besar ini: Soekarno, Mohammad Hatta, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahham Wahid, Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono dengan kualifikasinya masing-masing.

Soekarno dan Hatta pernah bekerja sama sampai Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden di akhir 1956. Soekarno dari sub-kultur Jawa-Bali, Hatta dari sub-kultur Minangkabau, sekalipun kabarnya dari pihak ibu mengalir juga darah Jawa. Soekarno membela demokrasi lebih pada tataran wacana, sementara dalam praktek sifat otoritariannya, terutama di masa akhir kariernya, lebih mengemuka. Hatta sebaliknya, demokrat dalam teori dan praktek. Kedua tokoh ini pernah dikenal sebagai dwi-tunggal, tetapi kemudian karena perbedaan pandangan politik yang cukup tajam, kongsi keduanya berantakan dengan segala kerugian bagi bangsa ini.

Namun ada sisi lain yang menarik. Hubungan pribadi Soekarno-Hatta tetap terjalin. Sewaktu Soekarno berada dalam tahanan rumah, Hatta-lah yang mewakili dirinya pada saat pernikahan Guntur. Si bayi Guntur ini, sewaktu kedua pemimpin itu disandera para pemuda di Rengasdengklok, pernah pipis di pangkuan Hatta. Ketika Guntur ragu akan kesediaan Hatta untuk mewakili ayahnya, Soekarno dengan tegas mengatakan bahwa Hatta pasti bersedia. Tampaknya Soekarno paham betul, Hatta bukanlah tipe manusia jotakan.

Situasi akan sangat berbeda bila kita menjejerkan Soekarno dan Soeharto. Sekalipun ada ungkapan mendhem jero mikul dhuwur (mengubur dalam memikul tinggi) dari Soeharto terhadap pendahulunya, hubungan keduanya sampai Soekarno wafat, 21 Juni 1970, tidak pernah membaik. Bahkan kabarnya, Soekarno selama dalam tahanan tidak diperlakukan secara wajar dan manusiawi oleh rezim yang sedang berkuasa. Dalam kasus semacam ini, saya tidak tahu apakah istilah jotakan masih relevan. Jika dipakai juga, perlu ditambah dengan jotakan sampai menulang sumsum.

Panorama lain yang tidak kurang dahsyatnya adalah hubungan Soeharto dan Habibie. Sejak Soeharto turun sampai hari ini, hubungan keduanya tidak pernah pulih. Berkali-kali Habibie ingin sowan, tetapi pintu Cendana terkunci rapat bagi yang pernah menjadi anak emas ini yang menyebut Soeharto sebagai profesornya. Puncak dari hubungan manis terlihat pada saat pesawat Tetuko diujicobakan beberapa tahun sebelum pergantian rezim. Semuanya bersorak, semuanya memuji. Indonesia sedang memasuki era dirgantara.

Dalam kasus Habibie dengan Abdurrahman Wahid tidak banyak yang harus dikomentari, karena gesekan keras tidak pernah terjadi. Habibie cukup legowo sewaktu pidato pertanggungjawabannya tidak didukung oleh mayoritas suara di MPR. Maka, datanglah giliran Abdurrahman untuk memimpin negara. Belum sampai 10 bulan berkuasa, legitimasi moral dan sosial terhadapnya turun drastis, sekalipun masih bertahan sampai 21 bulan untuk kemudian digantikan Megawati.

Abdurrahman Wahid, yang menilai kejatuhannya tidak konstitusional, untuk beberapa lama terjadi jotakan tidak serius dengan Megawati yang sebelumnya sebagai wakil presiden. Setelah keduanya sama-sama tidak lagi di istana, hubungan menjadi cair kembali, sekalipun tidak semanis pada saat keduanya runtang-runtung (pergi bersama) ke beberapa daerah dalam rangka safari politik tentunya. Sekarang keduanya sama-sama berang kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dulu pernah menjadi bawahan mereka karena dinilai belum juga berhasil memperbaiki bangsa ini.

Jotakan terakhir yang tidak kurang menariknya terjadi antara Megawati dan SBY yang sampai hari ini masih neng-nengan. Lagi-lagi pemicunya bertalian dengan masalah politik kekuasaan. Bukankah politik itu mudah memecah dan berpecah, sementara dakwah merangkul dan mempersatukan?

Akhirnya, bangsa ini tidak perlu terlalu terkejut bila mendengar, misalnya, perang panah antar-suku, saling membunuh antar-etnis, baku hantam antar-kampung. Jika di akar rumput bisa saling menumpahkan darah, antar-pemimpin cukup dengan jotakan dan neng-nengan saja. Indonesia ini hebat, bukan? Siapa bilang tidak?

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Prev   Next >

Autodesk AutoCAD Electrical 2011
Adobe InCopy CS5 for Mac
Ice Pattern MAC
Lynda Excel VBA in Depth
Wondershare Video Converter Platinum
Print Window MAC
OmniFocus MAC
Adobe Acrobat X Professional Student & Teacher Edition
Apple Logic Express 9
WeaverBox MAC
Apple iLife 11
Ashampoo Snap 3