|
Jotakan istilah Jawa dibaca jotak-an (berseteru/berselisih). Ada lagi
ungkapan Jawa lainnya, neng-nengan (diam-diaman/saling tidak bersapaan).
Sifat ini biasanya lebih banyak dijumpai di kalangan anak kecil dan
pemuda-pemudi, kadang-kadang oleh sebab yang sepele, seperti seorang anak kalah
main kelereng atau sedikit dikibuli temannya. Jotakan di kalangan orang
tua tentu disebabkan oleh masalah yang ada substansinya. Dalam Islam, jotakan
hanya dihalalkan selama tiga hari. Setelah itu harus berdamai, saling
memaafkan, sekalipun dalam kenyataan umat Islam tidak selalu mudah
melakukannya.
Tetapi, dalam sejarah modern Indonesia, ada
jenis jotakan yang dahsyat sekaligus menggelikan, dilakukan oleh para
petinggi, baik yang sedang berkuasa maupun yang sudah jatuh. Saya akan menyebut
beberapa nama di sini, bukan untuk memberi nilai kurang kepada mereka,
melainkan semata-mata untuk mengingatkan kita semua, bangsa ini, bahwa orang
tua pun ternyata tidak sunyi dari sifat itu. Saya akan menyoroti nama-nama
besar ini: Soekarno, Mohammad Hatta, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahham Wahid,
Megawati, dan Susilo Bambang Yudhoyono dengan kualifikasinya masing-masing.
Soekarno dan Hatta pernah bekerja sama sampai Hatta mengundurkan diri sebagai
wakil presiden di akhir 1956. Soekarno dari sub-kultur Jawa-Bali, Hatta dari
sub-kultur Minangkabau, sekalipun kabarnya dari pihak ibu mengalir juga darah
Jawa. Soekarno membela demokrasi lebih pada tataran wacana, sementara dalam
praktek sifat otoritariannya, terutama di masa akhir kariernya, lebih
mengemuka. Hatta sebaliknya, demokrat dalam teori dan praktek. Kedua tokoh ini
pernah dikenal sebagai dwi-tunggal, tetapi kemudian karena perbedaan pandangan
politik yang cukup tajam, kongsi keduanya berantakan dengan segala kerugian
bagi bangsa ini.
Namun ada sisi lain yang menarik. Hubungan pribadi Soekarno-Hatta tetap
terjalin. Sewaktu Soekarno berada dalam tahanan rumah, Hatta-lah yang mewakili
dirinya pada saat pernikahan Guntur. Si bayi Guntur ini, sewaktu kedua pemimpin
itu disandera para pemuda di Rengasdengklok, pernah pipis di pangkuan Hatta.
Ketika Guntur ragu akan kesediaan Hatta untuk mewakili ayahnya, Soekarno dengan
tegas mengatakan bahwa Hatta pasti bersedia. Tampaknya Soekarno paham betul,
Hatta bukanlah tipe manusia jotakan.
Situasi akan sangat berbeda bila kita menjejerkan Soekarno dan Soeharto.
Sekalipun ada ungkapan mendhem jero mikul dhuwur (mengubur dalam memikul
tinggi) dari Soeharto terhadap pendahulunya, hubungan keduanya sampai Soekarno
wafat, 21 Juni 1970, tidak pernah membaik. Bahkan kabarnya, Soekarno selama
dalam tahanan tidak diperlakukan secara wajar dan manusiawi oleh rezim yang
sedang berkuasa. Dalam kasus semacam ini, saya tidak tahu apakah istilah jotakan
masih relevan. Jika dipakai juga, perlu ditambah dengan jotakan sampai
menulang sumsum.
Panorama lain yang tidak kurang dahsyatnya adalah hubungan Soeharto dan
Habibie. Sejak Soeharto turun sampai hari ini, hubungan keduanya tidak pernah
pulih. Berkali-kali Habibie ingin sowan, tetapi pintu Cendana terkunci rapat
bagi yang pernah menjadi anak emas ini yang menyebut Soeharto sebagai
profesornya. Puncak dari hubungan manis terlihat pada saat pesawat Tetuko diujicobakan
beberapa tahun sebelum pergantian rezim. Semuanya bersorak, semuanya memuji.
Indonesia sedang memasuki era dirgantara.
Dalam kasus Habibie dengan Abdurrahman Wahid tidak banyak yang harus
dikomentari, karena gesekan keras tidak pernah terjadi. Habibie cukup legowo
sewaktu pidato pertanggungjawabannya tidak didukung oleh mayoritas suara di
MPR. Maka, datanglah giliran Abdurrahman untuk memimpin negara. Belum sampai 10
bulan berkuasa, legitimasi moral dan sosial terhadapnya turun drastis,
sekalipun masih bertahan sampai 21 bulan untuk kemudian digantikan Megawati.
Abdurrahman Wahid, yang menilai kejatuhannya tidak konstitusional, untuk
beberapa lama terjadi jotakan tidak serius dengan Megawati yang
sebelumnya sebagai wakil presiden. Setelah keduanya sama-sama tidak lagi di
istana, hubungan menjadi cair kembali, sekalipun tidak semanis pada saat
keduanya runtang-runtung (pergi bersama) ke beberapa daerah dalam rangka safari
politik tentunya. Sekarang keduanya sama-sama berang kepada Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY) yang dulu pernah menjadi bawahan mereka karena dinilai belum juga
berhasil memperbaiki bangsa ini.
Jotakan terakhir yang tidak kurang menariknya terjadi antara Megawati
dan SBY yang sampai hari ini masih neng-nengan. Lagi-lagi pemicunya bertalian
dengan masalah politik kekuasaan. Bukankah politik itu mudah memecah dan
berpecah, sementara dakwah merangkul dan mempersatukan?
Akhirnya, bangsa ini tidak perlu terlalu terkejut bila mendengar, misalnya,
perang panah antar-suku, saling membunuh antar-etnis, baku hantam
antar-kampung. Jika di akar rumput bisa saling menumpahkan darah,
antar-pemimpin cukup dengan jotakan dan neng-nengan saja.
Indonesia ini hebat, bukan? Siapa bilang tidak?
|