|
Ahmad Syafii Maarif
Dari kalangan istana, saya mendapat info
bahwa dimulai Oktober 2011 akan ada gaya baru dalam pemerintahan KIB II.
Kita belum bisa menerka gaya baru model apa yang ingin ditunjukkan
setelah dua tahun pertama kabinet banyak menuai kritik dari berbagai
kalangan. Gaya baru itu mungkin berkaitan dengan isu reshuffle kabinet
yang pada 2010 juga pernah dilontarkan, tetapi kemudian menghilang
ditiup angin lalu. Media ramai menyoroti tentang menteri-menteri mana
yang rapornya merah dan menteri mana pula yang bisa bertahan. Seorang
menteri yang sangat mencintai jabatannya bahkan mengatakan bahwa dia
tidak akan diganti, seolah-olah dialah yang menentukan.
Bagi
saya, adanya reshuffle atau tidak sama saja, kecuali bagi nama baru yang
akan dilantik jadi menteri, tentu bahagia sekali. Sebuah posisi yang
amat dirindukan oleh rata-rata elite politik Indonesia. Perkara nanti
punya prestasi sebagai menteri atau nol sama sekali adalah urusan
belakangan. Yang penting dia punya riwayat hidup yang fotonya terpampang
di pigura KIB II setelah yang punya kuasa memilihnya sebagai menteri
penerus untuk tiga tahun yang akan datang. Bukankah dulu ada seorang
yang setelah mengetahui dirinya diangkat menjadi menteri, bahkan
langsung sujud syukur sebagai tanda bahagia yang hampir tanpa batas.
Beberapa hari yang lalu dalam sebuah pertemuan, saya kebetulan duduk
dekat seorang menteri, yang menurut ceritanya tidak peduli ada arahan
atau tidak, dia tetap bekerja dengan tekun demi amanat yang diembannya
sebagai menteri. Saya tidak bertanya tentang rapornya menurut penilaian
publik.
Boleh jadi teman ini berkata benar, dia telah bekerja
maksimal dalam batas-batas wewenangnya tanpa hirau apa kata orang
tentang kinerjanya. Sebagai menteri tentu punya parameter yang jelas
tentang sampai di mana program yang sudah dirumuskannya berhasil atau
belum berhasil bila ditempatkan dalam bingkai waktu yang telah
dirancang.
Saya tidak ingin tahu berapa jumlah menteri KIB II ini
yang harus diganti karena saya sudah telanjur tidak banyak punya
harapan bahwa tiga tahun mendatang akan terjadi perubahan fundamental
dalam pemerintahan ini, sekalipun dijubahi dengan ungkapan "gaya baru".
Seorang wartawan senior bahkan sampai mengatakan bahwa perubahan yang
diwacanakan itu tidak akan menjadi kenyataan karena semuanya bertalian
dengan karakter seseorang.
Publik bisa saja membuat daftar
tentang sekian menteri punya rapor merah dan perlu segera diganti yang
membuat partai-partai menjadi ribut seperti kehilangan keseimbangan.
Saya malah ingin berangkat lebih jauh, bagaimana kalau yang punya hak
prerogatif dalam menentukan dan menangani masalah-masalah besar di
negara ini justru rapornya merah? Pertanyaan ini terpaksa saya sebutkan
di sini semata-mata untuk mewakili opini publik yang dicelotehkan di
berbagai sudut Tanah Air, di warung-warung kopi, hampir di seluruh
nusantara.
Saya tidak punya jawaban pasti untuk pertanyaan itu
selain mengatakan bahwa inilah baru hasil demokrasi prosedural dan
serimonial Indonesia yang telah berjaya menampilkan figur publik yang
ternyata sarat dengan keraguan dalam mengambil keputusan-keputusan
penting. Berbagai masalah bangsa dan negara telah datang silih berganti:
korupsi, terorisme, kecelakaan laut, darat, dan udara, adalah pertanda
tidak efektifnya pemerintahan ini. Belum lagi kita membuat daftar dosa
dan dusta birokrat dengan politik uang yang sudah sangat menjamur,
sistem perpajakan dan bea cukai yang sangat buruk, sehingga untuk
menutupi APBN harus memperbesar pinjaman pemerintah: domestik dan luar
negeri.
Dalam sistem demokrasi, solusinya selalu dikaitkan dengan
proses dan hasil pemilu reguler, kecuali berlaku perubahan-perubanan
besar tak terduga yang bagi saya harus melalui koridor konstitusi. Di
sinilah dilemanya: orang ingin perubahan dalam tempo cepat, tetapi
selalu terbentur dengan karakter seseorang, sebagaimana wartawan senior
di atas menyimpulkan. Revolusi? Saya tidak bisa membayangkan bagaimana
corak dan jalannya revolusi itu nanti. Kesimpulannya: mari kita ikuti
perkembangan politik Tanah Air dengan saksama, arif, dan dengan kepala
dingin, kemudian bersama dengan teman-teman lain berupaya menemukan
jalan ke luar yang terbaik tanpa meneteskan darah anak bangsa. |