Sep 27 2011
Mengapa Bom (Bunuh Diri) di Solo PDF Print E-mail
Tuesday, 27 September 2011

ImageFajar Riza Ul Haq

Aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh, Solo, selepas kebaktian hari Minggu (25/9) sangat melukai nurani kemanusiaan. Peristiwa ini hanya berselang dua minggu sejak proses rajutan damai di Ambon dirongrong kembali.

Aksi tidak beradab ini terjadi justru di kota yang selama ini identik dengan karakter gerakan protes massa, termasuk kekerasan kolektif. Untuk menyebut sebagian contoh adalah pembakaran Balaikota Solo (1999), kerusuhan Mei dan keruntuhan Orde Baru (1998), sentimen anti-China dan pembakaran toko-toko China yang merembet ke daerah Pati (1980), perusakan toko-toko China (1966), kerusuhan PKI dengan kelompok nasionalis dan agama (1965), gerakan anti-swapraja (1945-1949), munculnya komunisme (1923), dan pemogokan petani (1919).

 

Fenomena bom bunuh diri kali ini juga menarik dicermati mengingat tindakan pelaku teror ibarat mengotori salah satu ”rumah ideologisnya” sendiri: Solo!

Kota yang kini dipimpin Joko Widodo ini memang dikenal sebagai kota bersumbu pendek, sebagaimana ditunjukkan studi Takashi Siraishi (1997) dan Nurhadiantomo (2003). Dalam catatan sejarahnya, hampir setiap dekade Kota Solo dilanda aksi kerusuhan dan kekerasan massal. Oleh karena itu, beberapa instalasi militer memagari kota batik ini dengan alasan keamanan sehingga pernah ada yang menjulukinya sebagai kota garnisun.

Pasca-Orde Baru, radikalisme keagamaan jadi fenomena sosiologis-antropologis yang menonjol di masyarakat Solo. Tidak sedikit sosok-sosok penting yang menginspirasi bahkan jadi rujukan gerakan-gerakan Islam radikal di Indonesia berasal dari Solo, seperti Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir. Di kota ini pula gembong terorisme paling dicari, Noordin M Top, menemui ajalnya disergap Densus 88 pada September 2009.

Aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton merupakan yang pertama kali terjadi di Solo, paling tidak dalam kurun 10 tahun terakhir ini, sejak fenomena bom bunuh diri muncul sebagaimana dicatat Litbang Kompas (25/9).

Ada yang tak biasa dalam kasus terakhir ini jika mempertimbangkan kesejarahan dan karakter radikalisme Solo. Belum pernah terjadi ada anggota jaringan terorisme Solo yang membakar rumahnya sendiri. Tindakan sang pelaku seakan mengabaikan proses transformasi sosial yang sedang terjadi, khususnya sejak Joko Widodo-Rudi memimpin. Ada semacam proses domestifikasi karakter orang Solo seperti pernah disinyalir Moeslim Abdurrahman. Saya cenderung melihat kehadiran aktor, bahkan mungkin jaringan eksternal dalam latar belakang teror ini telah memungkinkan Solo jadi korban aksi bom bunuh diri.

Mengapa gereja?

Secara umum, kehadiran kelompok-kelompok Islam radikal tidak dianggap sebagai ancaman oleh kelompok Kristen di Solo. Namun, pada tingkat tertentu tak jarang muncul resistensi dalam pelbagai ekspresi sebagai respons terhadap meningkatnya radikalisme kelompok keagamaan tertentu. Isu kristenisasi dan pelecehan agama sering kali memicu ketegangan hubungan antarkelompok agama tersebut.

Misalnya, Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS) memprotes keras seorang pendeta karena dianggap melecehkan Nabi Muhammad dalam satu acara bincang-bincang di radio pada 2000. Bulan Ramadhan lalu, pihak MUI Kota Solo meminta pihak gereja yang biasa mengadakan buka puasa bersama agar menghentikan kegiatannya meski praktik ini sudah berlangsung tahunan.

Namun, aksi kali ini bisa dikatakan sebagai pengecualian. Pelaku teror sengaja merencanakan dan melakukan bom bunuh diri di satu gereja di tengah kota yang selama ini relatif tidak mengalami masalah dengan kelompok Muslim. Perlu dipikirkan alasan dan motif lebih jauh jika ada kelompok Muslim di Solo yang dapat memaklumi tindakan pelaku. Terlebih jika nanti ditemukan bukti pelaku orang ”asing” (wong njobo). Presiden SBY sudah mengonfirmasi hal itu ketika jumpa pers. Sasaran gereja bukan tujuan utamanya.

Pada akhirnya, satu hal yang bisa kita petik dari tragedi bom bunuh diri di Solo—juga di Masjid Mapolresta Cirebon, April lalu—adalah bahwa terorisme bukan semata persoalan agama. Sangat disesalkan, pemerintah telah membiarkan adanya kondisi- kondisi yang memungkinkan aksi kekerasan dan teror itu terus berlanjut. Tidak ada kemauan politik yang kuat untuk memutus mata rantai kekerasan.

Oleh karena itu, mengutip pesan singkat (SMS) Pdt Andreas Yewangoe, ”kita harus mampu keluar dari perangkap kekerasan teror”. Membiarkan diri kita jatuh ke dalam lingkaran kekerasan dan teror berarti merelakan masyarakat kita hidup dalam rasa ketakutan dan kebencian tak bertepi kepada sesama. Kita tidak bisa berpangku tangan meski negara belum sepenuhya siuman bertindak.

Fajar Riza Ul Haq Direktur Eksekutif Maarif Institute; Menulis Tesis Gerakan Islam Radikal di Solo

 

 
< Prev   Next >

Autodesk 3ds Max 2010 32 & 64 Bit
Microsoft Windows 7 Professional 64 Bit
Paragon Partition Manager 10 Professional
ACID Pro 7
Adobe InCopy CS5
Autodesk AutoCAD MEP 2011
Phone Wallpaper X for MAC
Adobe Photoshop Lightroom 3
Autodesk Navisworks Simulate 2010 32 & 64 Bit
iFinance MAC
Joboshare DVD Creator
QuarkXPress 8 for Mac
Lynda Excel 2010 Managing Multiple Worksheets and Workbooks
Lynda Creating a First Web Site with Dreamweaver CS5