|
Yang brutal Bush dan Israel, yang lumpuh
diplomasi Arab, dan yang menjadi korban pada umumnya rakyat yang tak berdosa.
Situasi di Lebanon, Palestina, Irak, dan Afghanistan sudah lama ibarat neraka
dunia. Fundamentalisme Kristen politik di bawah pimpinan Bush yang
berkolaborasi dengan zionisme telah memicu munculnya "Islam"
fundamentalis di bawah tokoh-tokoh Sunni dan Syi'i.
Mereka seperti tidak punya pilihan lain, kecuali
menghadang maut, demi harga diri dan kemerdekaan. Di Lebanon Selatan, dipimpin
oleh Hassan Nashrallah dengan pasukan Hizbullah yang Syi'i di bawah patron Iran
tetapi juga menganut teologi maut, seperti halnya kaum Taliban di Afghanistan
yang Sunni. Di Irak, di bawah pimpinan Muqtada al-Shadr, tokoh Syi'i yang
militan dengan pendukung setia kaum Shadriyyin.
Dalam situasi yang serba tertindas ini, akan sangat sulit bagi kita untuk
berbicara tentang Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Namun sebagian dari
kita yang tidak langsung terlibat secara fisik dan mental di daerah konflik
jangan sampai kehilangan arah moral: Islam hadir ke bumi adalah untuk membangun
peradaban yang berwajah ramah, asri, dan adil, bukan untuk meluluhlantakkan
penduduk bumi. Cita-cita besar ini tidak boleh lenyap dari otak dan hati umat,
betapapun kejamnya musuh membinasakan kita.
Amerika Serikat di bawah Bush bersama Israel kini sedang membangun kebiadaban
teknologi perang baru atas nama demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Menghadapi
kenyataan yang serba dilematis dan sulit ini, tidak ada jalan lain bagi manusia
normal, muslim dan nonmuslim, kecuali menggalang kerja sama untuk menyelamatkan
spesies makhluk hidup, beragama atau ateis, dari kehancuran total karena ulah
dua fundamentalisme yang kini sedang berhadapan. Yang satu berteknologi
supercanggih, yang lain punya senjata teologi maut yang tidak kurang ngeri dan
dahsyatnya.
Sekiranya Amerika tidak meneruskan petualangan neo-imperialismenya di bumi,
gagasan teologi maut tidak perlu muncul. Runtuhnya dua gedung kembar di New
York pada 11 September 2001 adalah salah satu karya teologi maut itu. Sekarang
Amerika sudah semakin tersisih dari pergaulan dunia, tetapi tetap saja tuli dan
mati rasa.
Dua nomor terakhir mingguan Newsweek (24 dan 31 Juli 2006) dengan bahasa
keras dan tajam telah menembak Bush dan Israel akibat kebuasan, kekejaman, dan
gelap mata di Lebanon Selatan yang kini sedang menjadi ajang peperangan. Hizbullah
di bawah pimpinan Nashrallah terus saja menembakkan roket ke sasaran-sasaran
industri di Israel Utara dengan korban yang terus bergelimpangan. Sebaliknya,
bom-bom Israel dengan membabi buta sedang menggempur Lebanon, tidak peduli
kantor perwakilan PBB dan telah membunuh empat tentara pengawas badan dunia
itu.
Ada pertanyaan teologis yang sulit dijawab: Tuhan berpihak ke mana, kepada
siapa? Doa panjang yang disampaikan umat Islam seperti tak didengar. Tetapi
Al-Quran dalam banyak ayat menegaskan bahwa Tuhan tidak netral dalam sejarah.
Dia selalu berpihak pada manusia baik, sabar, takwa, dengan landasan iman yang
tahan banting. Dari perspektif ini, Tuhan tidak mungkin berpihak pada petualang
penghancur peradaban.
Tetapi, mengapa umat Islam terus saja dalam posisi lemah dan kalah? Kelemahan
dan kekalahan sebenarnya adalah masalah dunia belaka yang dapat dicari
sebab-sebab pokoknya. Pada hemat saya, sebab utama itu terletak pada diri kita
yang telah membuang Al-Quran jauh ke tempat yang hina. Siapa di antara kita
sekarang yang benar-benar menjadikan Kitab Suci ini sebagai acuan utama dan
pertama jika sedang menghadapi masalah kemanusiaan yang besar dan gawat? Saya
rasa hampir tidak ada. Yang dijadikan rujukan selama sekian abad adalah
subjektivisme sejarah dan kepentingan nasionalistik sesaat.
Memang Al-Quran masih dibaca, tetapi apakah benang merah pandangan dunianya
sudah dipahami secara benar dan cerdas? Mengapa Sunni dan Syi'i masih saja baku
hantam di berbagai bagian dunia? Tidak hanya itu, sesama Sunni, sesama Syi'i,
juga telah lama saling menghancurkan. Kalau demikian faktanya, jangan bertanya
lagi tentang doa yang tidak terkabul. Perlu introspeksi total secara tulus dan
berani, siapa kita sebenarnya? Apakah semua negara Arab benar-benar ingin melihat
sebuah Palestina merdeka? Siapa dulu yang juga mendukung serangan multinasional
terhadap Irak?
Sudahlah, mari kita sama-sama melakukan taubat, mohon ampun kepada Allah atas
segala kesalahan persepsi kita terhadap Islam yang sudah sangat jauh dari cita-cita
Al-Quran dan nabi akhir zaman, Muhammad SAW.
|