Who's Online

Syndicate

Aug 05 2006
KEBRUTALAN DAN KELUMPUHAN PDF Cetak E-mail
Saturday, 05 August 2006

Yang brutal Bush dan Israel, yang lumpuh diplomasi Arab, dan yang menjadi korban pada umumnya rakyat yang tak berdosa. Situasi di Lebanon, Palestina, Irak, dan Afghanistan sudah lama ibarat neraka dunia. Fundamentalisme Kristen politik di bawah pimpinan Bush yang berkolaborasi dengan zionisme telah memicu munculnya "Islam" fundamentalis di bawah tokoh-tokoh Sunni dan Syi'i.

Mereka seperti tidak punya pilihan lain, kecuali menghadang maut, demi harga diri dan kemerdekaan. Di Lebanon Selatan, dipimpin oleh Hassan Nashrallah dengan pasukan Hizbullah yang Syi'i di bawah patron Iran tetapi juga menganut teologi maut, seperti halnya kaum Taliban di Afghanistan yang Sunni. Di Irak, di bawah pimpinan Muqtada al-Shadr, tokoh Syi'i yang militan dengan pendukung setia kaum Shadriyyin.

Dalam situasi yang serba tertindas ini, akan sangat sulit bagi kita untuk berbicara tentang Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Namun sebagian dari kita yang tidak langsung terlibat secara fisik dan mental di daerah konflik jangan sampai kehilangan arah moral: Islam hadir ke bumi adalah untuk membangun peradaban yang berwajah ramah, asri, dan adil, bukan untuk meluluhlantakkan penduduk bumi. Cita-cita besar ini tidak boleh lenyap dari otak dan hati umat, betapapun kejamnya musuh membinasakan kita.

Amerika Serikat di bawah Bush bersama Israel kini sedang membangun kebiadaban teknologi perang baru atas nama demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Menghadapi kenyataan yang serba dilematis dan sulit ini, tidak ada jalan lain bagi manusia normal, muslim dan nonmuslim, kecuali menggalang kerja sama untuk menyelamatkan spesies makhluk hidup, beragama atau ateis, dari kehancuran total karena ulah dua fundamentalisme yang kini sedang berhadapan. Yang satu berteknologi supercanggih, yang lain punya senjata teologi maut yang tidak kurang ngeri dan dahsyatnya.

Sekiranya Amerika tidak meneruskan petualangan neo-imperialismenya di bumi, gagasan teologi maut tidak perlu muncul. Runtuhnya dua gedung kembar di New York pada 11 September 2001 adalah salah satu karya teologi maut itu. Sekarang Amerika sudah semakin tersisih dari pergaulan dunia, tetapi tetap saja tuli dan mati rasa.

Dua nomor terakhir mingguan Newsweek (24 dan 31 Juli 2006) dengan bahasa keras dan tajam telah menembak Bush dan Israel akibat kebuasan, kekejaman, dan gelap mata di Lebanon Selatan yang kini sedang menjadi ajang peperangan. Hizbullah di bawah pimpinan Nashrallah terus saja menembakkan roket ke sasaran-sasaran industri di Israel Utara dengan korban yang terus bergelimpangan. Sebaliknya, bom-bom Israel dengan membabi buta sedang menggempur Lebanon, tidak peduli kantor perwakilan PBB dan telah membunuh empat tentara pengawas badan dunia itu.

Ada pertanyaan teologis yang sulit dijawab: Tuhan berpihak ke mana, kepada siapa? Doa panjang yang disampaikan umat Islam seperti tak didengar. Tetapi Al-Quran dalam banyak ayat menegaskan bahwa Tuhan tidak netral dalam sejarah. Dia selalu berpihak pada manusia baik, sabar, takwa, dengan landasan iman yang tahan banting. Dari perspektif ini, Tuhan tidak mungkin berpihak pada petualang penghancur peradaban.

Tetapi, mengapa umat Islam terus saja dalam posisi lemah dan kalah? Kelemahan dan kekalahan sebenarnya adalah masalah dunia belaka yang dapat dicari sebab-sebab pokoknya. Pada hemat saya, sebab utama itu terletak pada diri kita yang telah membuang Al-Quran jauh ke tempat yang hina. Siapa di antara kita sekarang yang benar-benar menjadikan Kitab Suci ini sebagai acuan utama dan pertama jika sedang menghadapi masalah kemanusiaan yang besar dan gawat? Saya rasa hampir tidak ada. Yang dijadikan rujukan selama sekian abad adalah subjektivisme sejarah dan kepentingan nasionalistik sesaat.

Memang Al-Quran masih dibaca, tetapi apakah benang merah pandangan dunianya sudah dipahami secara benar dan cerdas? Mengapa Sunni dan Syi'i masih saja baku hantam di berbagai bagian dunia? Tidak hanya itu, sesama Sunni, sesama Syi'i, juga telah lama saling menghancurkan. Kalau demikian faktanya, jangan bertanya lagi tentang doa yang tidak terkabul. Perlu introspeksi total secara tulus dan berani, siapa kita sebenarnya? Apakah semua negara Arab benar-benar ingin melihat sebuah Palestina merdeka? Siapa dulu yang juga mendukung serangan multinasional terhadap Irak?

Sudahlah, mari kita sama-sama melakukan taubat, mohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan persepsi kita terhadap Islam yang sudah sangat jauh dari cita-cita Al-Quran dan nabi akhir zaman, Muhammad SAW.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >