Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jul 08 2006
TEOLOGI MAUT PDF Print E-mail
Sunday, 09 July 2006

Tragedi 11 September 2001 telah mengubah peta hubungan antar-bangsa, khususnya antara dunia muslim dan Barat, utamanya Amerika Serikat (AS). Sejak George Bush berkuasa, Gedung Putih didominasi kekuatan neo-konservatif yang melihat dunia dengan kacamata hitam-putih: ''bersama kami atau musuh kami''.

Mantan Wakil Presiden Al Gore dari Partai Demokrat bahkan menyebut pemerintahan Bush sebagai gerombolan pengkhianat. Sebuah ungkapan yang teramat pedas. Toh, perlawanan atas rezim Bush tak semata dari partai lawan. Kaum konservatif yang menjadi bagian dari Partai Republik makin tidak paham dengan politik luar negeri Bush.

Menurut penulis Stefan Halper dan Jonathan Clarke, keduanya pendukung Partai Republik, kaum neo-konservatif bersatu dalam tiga tema. Pertama, sebuah kepercayaan yang berhulu pada keyakinan agama bahwa kondisi umat manusia didefinisikan sebagai pilihan antara baik dan jahat. Celakanya, ukuran benar dalam karakter politik itu ditentukan oleh kemauan mereka sendiri untuk menghadapi pihak lain.

Kedua, penentu utama dalam hubungan antar-negara terletak pada kekuatan militer dan kesediaan untuk menggunakannya. Ketiga, fokus terpenting adalah Timur Tengah dan Islam global sebagai panggung utama bagi kepentingan seberang laut AS (lihat: Stefan Halper & Jonathan Clarke, America Alone: the Neo-Conservatives and the Global Order. Cambridge: Cambridge University Press, 2004, halaman11).

Butir pertama jelas menunjukkan bahwa Amerika merasa sebagai komandan kebenaran yang berhak menghitam-putihkan dunia. Sebuah sikap arogan yang amoral. Butir kedua adalah filosofi primitif yang kambuh demi mendukung petualangan imperialistik. Butir ketiga telah menempatkan Islam sebagai tertuduh yang harus diawasi 24 jam sehari.

Tetapi hendaklah diingat bahwa Osama bin Laden menjadi besar dalam pemberitaan dunia justru karena AS yang mendidiknya. Selama lebih tujuh tahun dia berjuang di Afghanistan untuk menghalau komunisme bersama pasukan Amerika. Dalam batas tertentu, Abu Bakar Ba'asyir, seorang kiai sederhana, menjadi besar karena Amerika pula. Dalam kaitan dengan Ba'asyir ini, kepada Ralph L. Boyce, mantan Duta Besar Amerika di Jakarta, pernah saya katakan bahwa Amerika telah membuat seekor kucing menjadi singa perkasa.

Derita rakyat Palestina, Afghanistan, Irak, dan Chechnya telah membebani batin umat Islam sejagat. Tapi ada sebuah ironi bahwa tak seluruh negara Arab sungguh-sungguh mendukung terbentuknya Palestina merdeka. Juga invasi AS dan sekutunya ke Irak malahan mendapat bantuan dari kalangan negara Arab. Akibatnya, peta politik kawasan itu menjadi ruwet. Benar, Saddam Husein adalah seorang tiran yang kejam, tetapi apa hak negara asing menjarah negeri itu?

Maka benarlah Noam Chomsky, bahwa penjarahan atas Irak hanya karena keserakahan terhadap minyak. Ia memberi sindiran tajam: ''Orang disuruh percaya bahwa Amerika telah membebaskan Irak, bahkan sekiranya hasil pokoknya adalah letis (sayuran yang dipakai untuk ramuan salada) dan acar, sedangkan sumber energi utama dunia ada di Afrika Tengah'' (lihat: wawancara Michael Hastings dengan Chomsky, Newsweek, 9 Januari 2006, halaman 52).

Jadi ada kekuatan destruktif yang kini sedang mengancam dunia, yakni kepongahan dan keserakahan kapitalistik Bush. Lalu apa kaitannya Teologi Maut dengan doktrin: berani mati karena tidak berani hidup? Atau dalam frase Melayu kuno: ''Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah''.

Osama bin Laden, Ayman al-Zawahiri, adalah di antara idola penganut Teologi Maut ini. Atas nama jihad, mereka telah mengancam masyarakat dunia dengan bom bunuh diri. Mungkin di Palestina, Irak, dan Afghnistan, untuk melawan penjajahan asing, praktek semacam itu dapat dipahami, sekalipun belum tentu dapat dibenarkan.

Yang sungguh di luar nalar, praktek serupa dilakukan di Indonesia melalui ledakan bom di Bali, Marriot, dan di Kedutaan Besar Australia. Mengapa Indonesia dijadikan target bom oleh orang-orang seperti Dr. Azahari, Noor Din M. Top, warga Malaysia, dan pengikutnya di Indonesia?

Di Malaysia, mereka tidak punya ruang untuk melakukan praktek biadab itu. Kondisi ekonomi yang relatif baik di sana telah mencegah rakyat untuk berbuat nekat dengan bom bunuh diri. Di Indonesia, faktanya adalah: utang luar negeri Rp 1.300 triliyun, megakorupsi yang menggurita, pengangguran yang makin parah, aparat yang lemah, peradilan yang sering menjadi panggung sandiwara, pembalakan kayu yang telah merampok kekayaan bangsa dalam puluhan triliyun rupiah, dan kepemimpinan yang tidak efektif.

Di bawah kondisi buram semacam ini, Teologi Maut merupakan barang dagangan yang ada saja pembelinya. Atas nama jihad, para pembeli ini ingin cepat-cepat meninggalkan dunia fana yang penuh kekejaman ini, sebab di seberang sana sudah ada bidadari dengan senyum manis sedang menanti kedatangan mereka. Allah-lah yang tahu, agama macam apa pula yang dianut kelompok ini!

*Cendekiawan muslim, guru besar sejarah

 

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
Next >

Adobe Creative Suite 5.5 Web Premium Student & Teacher Edition MAC
Symantec Norton PartitionMagic 8.0
Ace Utilities 64 Bit
Quite A Box Of Tricks MAC
Lynda Encore CS5 Essential Training
Autodesk AutoCAD Map 3D 2012
Joboshare DVD Creator
Lynda Photoshop CS5 for Photographers
Corel VideoStudio Pro X2
Lynda OneNote 2010 New Features