|
Tragedi 11 September 2001 telah mengubah peta
hubungan antar-bangsa, khususnya antara dunia muslim dan Barat, utamanya
Amerika Serikat (AS). Sejak George Bush berkuasa, Gedung Putih didominasi
kekuatan neo-konservatif yang melihat dunia dengan kacamata hitam-putih:
''bersama kami atau musuh kami''.
Mantan
Wakil Presiden Al Gore dari Partai Demokrat bahkan menyebut pemerintahan Bush
sebagai gerombolan pengkhianat. Sebuah ungkapan yang teramat pedas. Toh,
perlawanan atas rezim Bush tak semata dari partai lawan. Kaum konservatif yang
menjadi bagian dari Partai Republik makin tidak paham dengan politik luar
negeri Bush.
Menurut penulis Stefan Halper dan Jonathan Clarke, keduanya pendukung Partai
Republik, kaum neo-konservatif bersatu dalam tiga tema. Pertama, sebuah
kepercayaan yang berhulu pada keyakinan agama bahwa kondisi umat manusia
didefinisikan sebagai pilihan antara baik dan jahat. Celakanya, ukuran benar
dalam karakter politik itu ditentukan oleh kemauan mereka sendiri untuk
menghadapi pihak lain.
Kedua, penentu utama dalam hubungan antar-negara terletak pada kekuatan militer
dan kesediaan untuk menggunakannya. Ketiga, fokus terpenting adalah Timur
Tengah dan Islam global sebagai panggung utama bagi kepentingan seberang laut
AS (lihat: Stefan Halper & Jonathan Clarke, America Alone: the
Neo-Conservatives and the Global Order. Cambridge: Cambridge University
Press, 2004, halaman11).
Butir pertama jelas menunjukkan bahwa Amerika merasa sebagai komandan kebenaran
yang berhak menghitam-putihkan dunia. Sebuah sikap arogan yang amoral. Butir
kedua adalah filosofi primitif yang kambuh demi mendukung petualangan
imperialistik. Butir ketiga telah menempatkan Islam sebagai tertuduh yang harus
diawasi 24 jam sehari.
Tetapi hendaklah diingat bahwa Osama bin Laden menjadi besar dalam pemberitaan
dunia justru karena AS yang mendidiknya. Selama lebih tujuh tahun dia berjuang
di Afghanistan untuk menghalau komunisme bersama pasukan Amerika. Dalam batas
tertentu, Abu Bakar Ba'asyir, seorang kiai sederhana, menjadi besar karena
Amerika pula. Dalam kaitan dengan Ba'asyir ini, kepada Ralph L. Boyce, mantan
Duta Besar Amerika di Jakarta, pernah saya katakan bahwa Amerika telah membuat
seekor kucing menjadi singa perkasa.
Derita rakyat Palestina, Afghanistan, Irak, dan Chechnya telah membebani batin
umat Islam sejagat. Tapi ada sebuah ironi bahwa tak seluruh negara Arab
sungguh-sungguh mendukung terbentuknya Palestina merdeka. Juga invasi AS dan
sekutunya ke Irak malahan mendapat bantuan dari kalangan negara Arab. Akibatnya,
peta politik kawasan itu menjadi ruwet. Benar, Saddam Husein adalah seorang
tiran yang kejam, tetapi apa hak negara asing menjarah negeri itu?
Maka benarlah Noam Chomsky, bahwa penjarahan atas Irak hanya karena keserakahan
terhadap minyak. Ia memberi sindiran tajam: ''Orang disuruh percaya bahwa
Amerika telah membebaskan Irak, bahkan sekiranya hasil pokoknya adalah letis
(sayuran yang dipakai untuk ramuan salada) dan acar, sedangkan sumber energi
utama dunia ada di Afrika Tengah'' (lihat: wawancara Michael Hastings dengan
Chomsky, Newsweek, 9 Januari 2006, halaman 52).
Jadi ada kekuatan destruktif yang kini sedang mengancam dunia, yakni kepongahan
dan keserakahan kapitalistik Bush. Lalu apa kaitannya Teologi Maut dengan
doktrin: berani mati karena tidak berani hidup? Atau dalam frase Melayu kuno:
''Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah''.
Osama bin Laden, Ayman al-Zawahiri, adalah di antara idola penganut Teologi
Maut ini. Atas nama jihad, mereka telah mengancam masyarakat dunia dengan bom
bunuh diri. Mungkin di Palestina, Irak, dan Afghnistan, untuk melawan
penjajahan asing, praktek semacam itu dapat dipahami, sekalipun belum tentu
dapat dibenarkan.
Yang sungguh di luar nalar, praktek serupa dilakukan di Indonesia melalui ledakan
bom di Bali, Marriot, dan di Kedutaan Besar Australia. Mengapa Indonesia
dijadikan target bom oleh orang-orang seperti Dr. Azahari, Noor Din M. Top,
warga Malaysia, dan pengikutnya di Indonesia?
Di Malaysia, mereka tidak punya ruang untuk melakukan praktek biadab itu.
Kondisi ekonomi yang relatif baik di sana telah mencegah rakyat untuk berbuat
nekat dengan bom bunuh diri. Di Indonesia, faktanya adalah: utang luar negeri
Rp 1.300 triliyun, megakorupsi yang menggurita, pengangguran yang makin parah,
aparat yang lemah, peradilan yang sering menjadi panggung sandiwara, pembalakan
kayu yang telah merampok kekayaan bangsa dalam puluhan triliyun rupiah, dan
kepemimpinan yang tidak efektif.
Di bawah kondisi buram semacam ini, Teologi Maut merupakan barang dagangan yang
ada saja pembelinya. Atas nama jihad, para pembeli ini ingin cepat-cepat
meninggalkan dunia fana yang penuh kekejaman ini, sebab di seberang sana sudah
ada bidadari dengan senyum manis sedang menanti kedatangan mereka. Allah-lah
yang tahu, agama macam apa pula yang dianut kelompok ini!
*Cendekiawan muslim, guru besar sejarah
|