Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jul 21 2001
BANGSA BUDAK JIWA KERDIL PDF Cetak E-mail
Sunday, 22 July 2001

BUNG Hatta dalam kritiknya kepada Bung Karno yang dinilai telah membunuh demokrasi atas nama "Demokrasi Terpimpin", pada 1960, mengutip pengarang Jerman, Schiller, yang menyatakan: "Suatu masa besar dilahirkan abad, tetapi masa besar menemui manusia kecil."

Hatta melihat, setelah 15 tahun merdeka, para pemimpin Indonesia menyia-nyiakan peluang besar yang diberikan sejarah, sehingga mereka gagal membangun sebuah sistem politik yang sehat. Partai-partai terlibat dalam sengketa berketiak ular, yang kemudian membuat Bung Karno menjadi tidak sabar.

Maka, melalui sebuah dekrit, ia membubarkan Majelis Konstituante pada 1959, membekukan UUDS, dan memberlakukan kembali UUD 1945. Pada 1961, parlemen pun mengalami nasib yang sama. Dengan demikian, partai-partai telah menggali kuburnya sendiri dalam sebuah pusara politik. Tenggang waktu 15 tahun ternyata belum cukup bagi bangsa ini untuk belajar bagaimana mengisi kemerdekaan, agar rakyat terbebas dari penderitaan lahir-batin. Harapan orang banyak lebih sering dijawab dengan retorika kosong.

Kini, kita berada di awal abad ke-21. Rasa-rasanya kita belum banyak beranjak dari posisi sebagai bangsa yang belum pandai belajar dari kegagalan-kegagalan masa lampau. Pentas nasional masih saja dipenuhi manusia-manusia kerdil yang rabun ayam. Saling berebut posisi dan keuntungan jangka pendek, jika perlu melalui money politics. Sebagian memang telah menjadi kaya secara mendadak berkat hoki politik yang menyertainya. Moral politik sudah lama menghilang. Hanya sedikit yang menghiraukan nasib bangsa yang sedang terpuruk dan merana, dengan angka pengangguran sekitar 41 juta, ini.

Rakyat sudah terlalu lama dijadikan kelinci percobaan oleh para pemimpin yang telah lupa lautan, lupa daratan. Ajaibnya, sebagian rakyat justru seperti menikmati situasi yang sedang gerah dan tidak menentu ini. Quo vadis Indonesia? Inilah pertanyaan yang menghinggapi sebagian besar orang yang berpikir. Pertanyaan itu belum jelas jawabannya hingga saat ini.

Sejak proklamasi, kita telah memiliki empat presiden: Soekarno (1945-1966), Soeharto (1966-1998), Habibie (1998-1999), dan Abdurrahman Wahid (1999-), yang memerintah dalam periode yang bervariasi.

Dua yang pertama cukup lama, yang ketiga hanya 17 bulan, sedangkan yang keempat sedang berada dalam bidikan Sidang Istimewa MPR, 1 Agustus nanti, jika tidak dipercepat. Akhir karier dua presiden pertama tidaklah elok, sama-sama dihujat dan menjadi bulan-bulanan pers dan demo. Habibie bernasib lebih terhormat, karena setelah pidato pertanggungjawabannya ditolak mayoritas anggota MPR, ia mundur sebagai calon presiden untuk periode berikutnya. Maka, muncullah nama Abdurrahman Wahid yang diusulkan secara tergopoh- gopoh, oleh kelompok yang menyebut dirinya "poros tengah".

Dengan mengalahkan Megawati dalam Sidang Umum MPR 1999, terpilihlah Abdurrahman Wahid sebagai presiden keempat RI. Banyak harapan mula- mula tertumpah pada tokoh yang digelari humanis itu. Tetapi, setelah berjalan sekitar 20 bulan, yang terlihat justru keadaan Indonesia yang makin parah. Belum satu pun masalah fundamental bangsa: politik, keamanan, ekonomi, sosial, dan moral, yang bisa dipulihkan secara berarti. Ibarat kapal, republik ini seperti berlayar tanpa kompas. Tabrak kiri, tabrak kanan, tanpa henti. Atau, apakah kita memang akan tenggelam di bawah seorang nakhoda yang tak mengenal arah?

Banyak orang berpendapat, sumber keruwetan itu justru melekat pada perilaku presiden sendiri, dengan gaya kepemimpinannya yang semau gue, seperti dia bukan seorang presiden dari sebuah bangsa besar. Bila memecat menterinya, sering tanpa sopan santun. Korban pertama adalah Jenderal Wiranto, kemudian disusul oleh banyak yang lain. TNI dan Polri diobok-obok. Ancaman dekrit meluncur berkali-kali. Orang lalu sama bertanya: masih adakah etika politik? Abdurrahman tampaknya telah menyia-nyiakan peluang emas yang diberikan sejarah kepadanya, padahal ia hanya tokoh dari sebuah partai kecil.

Poros tengah akhirnya menyesal, tetapi seperti kata pepatah: menyesal kemudian tiada guna. Kini, di atas ring pertarungan politik ada tontonan menarik: antara presiden dan rivalnya, DPR/MPR. Siapa yang berjiwa kerdil akan segera terlihat setelah pertarungan itu. Adapun nasib rakyat banyak tampaknya belum sempat dipikirkan oleh semua pihak, sebab bangsa ini sedang sibuk menggelar pertarungan habis-habisan itu. Mudah-mudahan tidak akan ada darah tertumpah. Setelah itu, bangsa ini harus normal kembali, siapa pun nakhodanya nanti. Kita semua telah sangat lelah dan letih.

Indonesia jelas memerlukan suasana baru, dan mungkin juga nakhoda baru yang pandai belajar dari kegagalan di masa silam. Mungkin nakhoda itu tidak perlu terlalu pintar, tetapi yang rendah hati, pandai memilih para pembantunya, mau mendengarkan orang lain melalui telinga batin. Di atas itu semua, ia harus sadar betul bahwa tantangan yang tengah dihadapi bangsa ini benar-benar kompleks dan teramat berat.

Dosa dan dusta masa lampau telah membawa kita pada situasi nahas seperti sekarang ini. Janganlah volume dosa dan dusta itu diperbesar lagi, karena kita sudah berada di ambang batas kesabaran. Bila MPR masih gagal juga mencari nakhoda yang tepat dalam cuaca buruk dan situasi kritis ini, mari kita akui bersama bahwa kita memang bangsa kerdil, jika bukan bangsa budak.

Budak bukan karena kakinya dirantai, melainkan dalam pengertian telah kehilangan jiwa merdeka. Rayuan uang dan kedudukan telah melumpuhkan hati nurani dan menidurkan akal sehat. Alangkah malangnya nasib Indonesiaku!

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 

Microsoft Office Enterprise 2007
Adobe Creative Suite 5.5 Design Premium Student & Teacher Edition MAC
File List Builder
Zend Studio MAC
Quiz press MAC
AMS Photo Collage Maker
Bigasoft WMV Converter
Adobe Photoshop CS5.5 Extended Student & Teacher Edition MAC
Corel VideoStudio Pro X2
Model2Icon MAC