Who's Online

Saat ini ada 1 tamu online

Syndicate

Jun 24 2000
AMNESIA BERUNTUNGLAH PARA KORUPTOR PDF Cetak E-mail
Saturday, 24 June 2000

SECARA semantik perkataan amnesia berasal dari bahasa Yunani, yaitu terdiri dari a= tidak, dan mnasthai= ingat. Jadi, amnesia berarti tidak ingat. Dalam kamus Inggris biasanya diberi keterangan bahwa penderita amnesia adalah orang yang kehilangan memori, total atau sebagian, akibat kerusakan otak atau karena keguncangan jiwa. Apakah otak dan jiwa bangsa kita, kini, telah mengalami kerusakan sehingga dengan gampang melupakan masa silam? Inilah persoalannya.

Saya bukanlah seorang dokter. Oleh sebab itu, saya tak akan berbicara tentang amnesia dari sudut ilmu medis. Saya ingin menghubungkannya dengan sikap mental bangsa kita yang mudah lupa, berdasarkan pengalaman sejarah yang belum terlalu lama. Kita ambil saja kejadian 1970-an, saat koran Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis membongkar korupsi besar- besaran di Pertamina, sehingga utang perusahaan milik negara itu mencapai US$ 12 milyar.

Kasus ini tidak pernah diselesaikan secara hukum, karena pemerintahan Soeharto telah mengambil alih masalahnya. Diambil alih artinya masalah itu tak perlu diselesaikan secara hukum. Dengan bergulirnya waktu, orang lalu melupakan penyebab kebobrokan perusahaan negara itu. Ibnu Sutowo, sang direktur utama, tidak diapa-apakan. Kebangkrutan Pertamina, kala itu, hanya dianggap sebagai ongkos pembangunan. Bukankah waktu itu pembangunan sedang dijadikan panglima?

Tahun 1974 meletus "Peristiwa Malari". Disebut-sebut dua jenderal sedang bertarung sebagai penyebabnya: Ali Moertopo dan Soemitro, dengan menggunakan mahasiswa, yang antara lain dipimpin Hariman Siregar. Dua jenderal luput dari hukuman bui, sementara Hariman dikorbankan melalui "pengadilan", dan dipenjarakan.

Sampai hari ini, belum ada kejelasan yang tuntas tentang apa sebenarnya yang terjadi antara dua jenderal itu. Peradilan tidak lebih dari perpanjangan tangan penguasa. Dengan bergulirnya waktu, orang pun melupakan peristiwa yang menggemparkan itu.

Belum terlalu lama ada megakorupsi Eddy Tansil dan abangnya, Hendra Rahardja, ada kasus Jamsostek, kasus Andi Ghalib, sebelumnya ada pula kasus Marsinah, dan 1001 macam penyimpangan dan ketidakpastian lain. Toh, akhirnya, semua itu masuk ke dalam lingkaran amnesia kita. Dan yang masih agak ramai adalah kasus Bank Bali, Buloggate, dan KKN Soeharto. Tapi, yakinlah pembaca, semuanya itu nanti menghilang ditelan cakrawala amnesia.

Maka, beruntunglah para koruptor, penggarong harta negara, dan mereka yang mahir dalam permainan patgulipat, karena mereka hidup dalam lingkungan masyarakat pelupa dan "pemaaf". Mungkin, bangsa ini sudah terlalu lelah dan kehabisan energi, sehingga apatisme terasa di mana-mana. Kemudian karena dihadapkan ke jalan serba buntu, sebagian masyarat jadi anarkis dan brutal. Kriminalitas sudah merupakan berita harian, tidak saja di perkotaan, melainkan juga telah melebar ke pedesaan. Lingkungan hidup kita, pada banyak kawasan, sudah tak aman lagi.

Lalu, tengok pula keadaan peradilan kita. Andaikan satu kasus dapat disidangkan di peradilan, masih terbuka peluang untuk menyogok aparat, sehingga putusan hakim dapat dibeli. Inilah fakta keras yang membebani kita semua. Dan beban itu makin hari bertambah berat. Orang yang tidak tabah dapat saja otak belakangnya pecah, saking tak tahannya memikul beban psikologis yang mengimpit itu.

Indonesia yang secara teoretik adalah sebuah negara hukum (rechtsstaat), tapi kenyataan selama empat dasawarsa adalah negara kekuasaan (machtsstaat). Etika politik yang dikembangkan selama itu bukanlah etika demokratik, melainkan etika otoritarian, etika terserah penguasa. Dialah yang menentukan salah dan benar, hitam dan putih. Alangkah malang dan buruknya nasib kita semua.

Di bawah pemerintahan Gus Dur, tanda-tanda perbaikan hampir-hampir belum terlihat, sementara kegelisahan dan ketidakpastian masa depan tetap saja menghantui bangsa ini. Rezim ini seperti tidak paham apa yang harus dikerjakan. Ia kehilangan perspektif dan kesungguhan. Dengan demikian, kebebasan politik ternyata tidak selalu membuahkan perbaikan bagi kehidupan kolektif kita.

Dalam pada itu, kita akan memasuki era AFTA (ASEAN Free Trade Area, Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN) tahun 2002/2003. Sudah dapat diperkirakan bahwa kita akan kerepotan bersaing dengan mitra bisnis dari lingkungan ASEAN, karena kualitas kita yang serba medioker. Pendidikan kita sudah lama tak bermaya (bahasa Malaysia: lesu) dalam mencetak manusia-manusia tangguh, mandiri, kreatif, dan sigap dalam memanfaatkan peluang. Anggaran pendidikan kita yang sangat kecil, yang direalisasikan hanya 6%-7% - sekalipun Tap MPRS XXVII/1966 menentukan 25%- telah makin memorak-porandakan dunia pendidikan kita.

Sementara itu, elite politik puncak kita bersama kroninya dan konglomerat sibuk dalam keserakahan sentralistik yang amoral, yang makin menggiring bangsa ini ke tubir kehancuran menyeluruh. Keadaan ini diperparah oleh proses disintegrasi bangsa. Resolusi Kongres Papua II tidak boleh dipandang enteng. Gerakan mereka dirancang dengan tujuan tunggal: Papua merdeka!

Apakah gempuran dari pukulan sejarah, yang telah dan sedang menerpa bangsa ini, akan dapat menyadarkan kita untuk pandai belajar dari kesalahan dan kegagalan masa lampau? Atau kita semua akan tetap tenggelam dan berkubang dalam lumpur amnesia? Peringatan itu sudah lebih dari cukup, namun telinga belum juga mau mendengar.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya