Who's Online

Syndicate

Jan 22 2000
MALUKU: TRAGEDI KEMANUSIAAN DAN JIHAD PDF Cetak E-mail
Saturday, 22 January 2000

IBN Batutah, pengelana muslim jauh di abad-abad silam, kabarnya menyebut Maluku sebagai Jazirat Al-Muluk (Semenanjung Raja-raja), saking banyaknya jumlah tokoh panutan karismatik (raja) di pelbagai penjuru negeri itu. Dari sudut tinjauan perdagangan global masa lalu, Maluku dikenal sebagai pusat rempah-rempah, seperti cengkeh, pala, dan fuli, yang pada saat itu tidak dijumpai di belahan dunia lain.

Agama Islam bertapak di sana sejak abad ke-14, sebagai agama resmi Kesultanan Ternate. Islamlah yang kemudian membentengi Maluku -sekalipun tidak seluruhnya berhasil- dari serbuan penetrasi Eropa: Portugis (abad ke-16) dan VOC Belanda (abad ke-17).

Ada dua tujuan yang hendak diraih orang Eropa di Maluku: berdagang dan menyiarkan agama. Portugis dengan Katoliknya, Belanda dengan Protestannya. Dalam pergumulan antara kedua kekuatan Eropa itu, Katolik terdesak, Protestan unggul. Dengan demikian, pergumulan yang lebih seru kemudian adalah antara Islam dan Protestan, sampai hari ini.

Menghadapi kekuatan asing itu, umat Islam sudah sejak abad ke-16 menyatakan dan melakukan jihad. Tetapi, pihak musuh sering unggul dalam persenjataan dan teknik perang. Namun, secara keseluruhan, di Maluku sampai hari ini, populasi muslim masih lebih banyak dibandingkan dengan Kristen (60:40). Dalam lingkungan Kristen sendiri, perbandingannya adalah: 35% Protestan, dan 5% Katolik.

Di kalangan Protestan memang terdapat kelompok agresif, radikal, dan militan, yang ingin secepatnya mengubah perimbangan pemeluk agama antara Islam dan Kristen. Deklarasi RMS (Republik Maluku Selatan) pada 18 Januari 1950 adalah di antara usaha mereka untuk menciptakan sebuah republik mayoritas Kristen di kawasan itu.

Sekalipun sudah ditumpas, RMS sebagai cita-cita politik tidak pernah mati di kawasan itu. Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa kekuatan neo- imperialis melalui agen-agen domestiknya juga telah turut dalam drama maut di Maluku kini.

Era reformasi adalah saat yang tepat untuk sekali lagi meminta perhatian dunia akan eksistensi RMS itu, dengan dukungan kuat dari sementara gereja dan tokoh-tokoh mereka yang bermukim di Belanda. Merekalah tampaknya yang diam-diam memasok senjata organik ke Maluku. Akibatnya, umat Islam yang lugu itu menjadi sasaran pembantaian sejak setahun yang lalu, diawali dengan Idul Fitri Berdarah pada 19 Januari 1999, sampai hari ini. Ingat, ulang tahun RMS pada 18 Januari.

Ungkapan jihad terpaksa disegarkan kembali, setelah di berbagai tempat di sana umat Islam diserang oleh kelompok-kelompok bersenjata organik berkat bantuan asing itu. Ini ditambah lagi karena ada pihak aparatur keamanan dan oknum pemda yang sudah tidak netral lagi. Jika saja ada netralitas dari aparatur, dan umat Islam punya senjata yang seimbang, barangkali saja pembantaian tidak akan berlaku, sebab melawan untuk mempertahankan diri merupakan bagian dari prisip jihad dalam lslam.

Dari informasi otentik terakhir yang kita terima, pada tingkat akar rumput, di Ambon khususnya, umat Islam pun sudah muak dengan kata damai, sebab selalu saja dikhianati. Kalau situasi psikologis sudah berada pada point of no return seperti itu, kita dapat membayangkan bahwa kematian bukan lagi sesuatu yang ditakuti, melainkan dihadang setiap saat.

Apakah begini cara kita mengurus bangsa ini, membiarkan berlakunya dendam sejarah tak berkesudahan dengan korban yang terus berjatuhan? Agama dan akal sehat jelas mengutuk semua cara semacam itu, kecuali agama yang dipakai sebagai alat dan kendaraan politik. Semua agama dapat saja disalahgunakan untuk tujuan-tujuan jahat seperti yang sedang kita saksikan di panggung sejarah dalam berbagai periode. Apa yang terjadi di Maluku adalah penyalahgunaan agama demi meraih tujuan duniawi yang rendah dan amoral.

Sampai hari ini, rakyat kita di kawasan itu berbunuh-bunuhan, sementara aparatur seperti membiarkan semuanya itu berlaku. Dengan kenyataan itu, jika umat Islam dipaksa untuk menyatakan jihad dalam membela diri dan kehormatan agama mereka, apa yang salah? Lembaga swadaya masyarakat dan bahkan Komnas HAM yang biasanya sangat lantang bersuara, dalam kasus Maluku, mengapa lebih banyak bungkam?

Dalam kapasitas sebagai Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, saya bersama Ketua PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) Maluku, dan seorang teman dari Makassar, pada 11 Januari lalu menemui Kasum TNI Letnan Jenderaal Suaidi Marasabessy di Markas Besar TNI Cilangkap. Kami mohon agar penyerangan dan pembunuhan terhadap umat Islam di Maluku dihentikan segera.

Kita semua berharap agar cara-cara kolonial, baik Portugis dan Belanda, jangan dilanjutkan, sebab akibatnya akan sangat fatal bagi sesama dan bangsa Indonesia yang kini masih belum putus dirundung malang.

Di samping fatal, cara-cara serupa itu adalah sisa sampah peradaban yang semestinya sudah kita masukkan ke dalam museum sejarah untuk selama- lamanya. Ingat sila kedua Pancasila: "Kemanusiaan yang adil dan beradab". Mengapa sebagian anak bangsa ini justru masih bertualang dalam kebiadaban?

Akhirnya, kita ingatkan agar pejabat-pejabat tinggi negara jangan mengeluarkan pernyataan-pernyataan ngawur yang hanya akan memperburuk situasi di Maluku yang memang sudah buruk itu. Berhematlah dalam memproduksi pernyataan, dan belajarlah memasang telinga ke bumi agar informasi yang diterima bersifat akurat, jujur, adil, dan komprehensif. Bangsa ini sudah sangat lelah dengan perangai elite politik selama ini.

* Ketua Umum PP Muhammadiyah, dan dosen di Universitas Negeri Yogyakarta.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 24 April 2008 )
 
Berikutnya >