Who's Online

Syndicate

Mar 20 1999
DPA MALU KARENA KETUA PDF Cetak E-mail
Saturday, 20 March 1999

DASAR konstitusi negara kita tentang Dewan Pertimbangan Agung (DPA) ada pada Bab IV Pasal 16 UUD 1945 yang berbunyi: "(1) Susunan Dewan Pertimbangan Agung ditetapkan dengan Undang-Undang; (2) Dewan ini berkewajiban memberi jawab atas pertanyaan Presiden dan berhak memajukan usul kepada Pemerintah." Untuk mengatur Dewan telah dibuat dua undang- undang, yaitu Undang-Undang (UU) Nomor 3/1967 jo UU Nomor 4/1978. Dalam UU 1967, anggota Dewan ditetapkan 27 orang, sedangkan dalam UU 1978 naik menjadi 45 orang.

Kiprah DPA sejak lama tidak banyak diketahui publik, karena memang tertutup untuk umum, sehingga masyarakat bertanya: apa kerja lembaga tinggi negara yang satu itu? Pertanyaan tersebut terjawab sejak DPA yang dilantik Juni 1998 membuka diri untuk wartawan. Tiga bulan pertama, pamor Dewan meroket. Diawali dengan pemilihan pimpinan yang demokratis, serta menolak susunan pimpinan paket seperti yang berlaku sebelumnya.

Dalam perjalanan waktu, Ketua Dewan yang semestinya menampilkan diri sebagai seorang negarawan ternyata tidak lebih dari pada seorang partisan politik yang cerdas membaca peta, tapi sering berlindung di bawah payung DPA. Beberapa anggota menjadi menyesal, mengapa dulu tidak berhati-hati dalam memilih ketua. Rasa menyesal itu bercampur dengan rasa malu setelah melihat penampilan ketuanya yang kadang-kadang dinilai orang sangat arogan dan tidak tahu diri. Belum lagi, adanya gugatan dari Kemal Idris dan Ali Sadikin yang merasa tercemar oleh pernyataan sang ketua. Oleh berbagai sumber, saya diberi tahu, teman kita itu lebih merupakan beban bagi Habibie yang risih mengikuti perangai dan pernyataan-pernyataan politiknya yang jauh dari santun dan kearifan.

Yang juga merepotkan adalah kesan yang ditunjukkan kepada masyarakat bahwa dirinya begitu dekat dengan presiden. Yang lebih fatal lagi adalah pernyataan yang menyebut-nyebut etnisitas tertentu yang perlu ditonjolkan, sesuatu yang dikubur sejak Sumpah Pemuda 1928. Bukankah pernyataan- pernyataan semisal itu malah merapuhkan semangat persatuan nasional yang kini dalam ujian berat? Sense of history teman kita ternyata amatlah lemah.

Dalam kasus ini, kita melihat bahwa pengalaman hidup seseorang dalam usia hampir berkepala tujuh, belum tentu membawanya ke tingkat kedewasaan politik yang diperlukan. Egoisme golongan dan subjektivisme pribadi sering lebih menonjol dan dominan.

Kalaulah orang menyadari akan kondisi bangsa dan negara yang terpasung dalam berbagai krisis, seharusnya DPA dapat menciptakan rasa sejuk kepada anak bangsa yang sedang menderita keperihan yang akut. Tetapi, perangai teman kita telah menciptakan situasi sebaliknya. Lalu, orang menyimpulkan: rupanya tidak ada lagi lembaga tinggi negara yang dapat diharapkan sebagai pedoman dan payung pelindung. Pemihakan yang vulgar kepada suatu kekuatan politik dari seorang tokoh formal adalah indikasi dari ketidakmatangan dan kekerdilan jiwa. Akibatnya hanya satu: kontraproduktif terhadap kekuatan politik yang dibelanya mati-matian dan tanpa rasa malu itu.

Pertanyaan selanjutnya adalah: dapatkah wibawa DPA dipulihkan kembali seperti penampilannya selama tiga bulan pertama? Jawabannya akan sangat tergantung keberanian Dewan menegur ketuanya, agar bersedia menjaga dan memelihara mertabat lembaga tinggi itu. Untuk itu, tidak salah bila dalam sidang pleno minggu ketiga bulan ini, masalah itu dibicarakan secara baik, sopan, jujur, dan penuh kearifan. Saya menginginkan agar Dewan yang mungkin tidak akan berusia panjang ini dapat mengakhiri tugasnya secara manis, dan berkesan sebagai sebuah lembaga tinggi negara, yang dalam bahasa Inggris disebut dengan Supreme Advisory Council (Dewan Penasihat Agung). Bagaimana Dewan akan dapat tampil secara agung dan berwibawa, bila dipimpin oleh seorang yang gemar membuat masalah, hingga beban bangsa yang sudah sangat sarat ini menjadi makin berat?

Ketua adalah simbol sebuah lembaga. Citra lembaga akan banyak ditentukan oleh perangai ketuanya, bukan anggotanya. Hendaknya keprihatinan anggota ini, yang sudah disampaikan sebelumnya, dihiraukan. Janganlah nasihat para anggota dianggap angin lalu saja. Percayalah, sifat arogan dan merasa benar sendiri bukanlah watak orang yang beradab, dan pasti akan membawa seseorang kepada sebuah keruntuhan, lambat atau cepat. Maka, sebelum segala sesuatu menjadi semakin parah, simaklah baik- baik peribahasa Melayu klasik ini: "Melangkah selangkah menghadap surut, berkata sepatah dipikirkan." Atau yang lebih keras dan tajam: "Mulut kamu harimau kamu yang akan menerkam dirimu."

Saya berharap, agar DPA di masa transisi ini masih belum kehilangan kekuatan dan napas untuk kembali bangkit menata diri, dan tidak mau dirusak martabat dan citranya. Bila penataan diri tak kunjung terjadi, no one knows what will happen to this council in the near future! Mungkin akan dinilai orang sebagai lembaga yang meaningless, karena keberadaannya lebih merupakan beban kita semua, gara-gara seorang ketua yang sunyi dari wisdom.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )