Who's Online

Syndicate

Aug 15 1998
RAJA LOKAL PDF Cetak E-mail
Saturday, 15 August 1998

SEBENTAR lagi kita merayakan Hari Kemerdekaan RI yang ke-53 dengan perasaan gembira bercampur pilu. Pengalaman manis dan pahit telah bersama-sama kita lalui. Berbagai sistem politik, dengan para aktor dan ideologi masing-masing yang katanya untuk mencapai tujuan kemerdekaan berupa terciptanya sebuah masyarakat yang adil dan makmur, telah pula dicoba.

Terakhir, telah dioperasikan pula apa yang disebut dengan sistem Demokrasi Pancasila, dengan pemerintahan Orde Baru (Orba)-nya sebagai antitesis terhadap Orde Lama (Orla) yang hanya bertahan selama enam tahun (1959-1965). Orba dengan pembangunan ekonominya selama lebih dari 30 tahun yang semula dibanggakan itu akhirnya berantakan dengan cara yang sangat merisaukan dan melelahkan. Dengan demikian, Orla dan Orba telah mengakhiri kariernya masing-masing dengan mewariskan malapetaka multidimensional kepada bangsa ini: politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Yang paling menderita adalah rakyat banyak yang dijadikan sebagai kelinci percobaan oleh berbagai sistem yang dibangun atas fondasi neofeodalisme yang sudah sangat lapuk dan memuakkan.

Yang ajaib, kedua sistem itu secara teoretis dan verbal sama- sama berlindung di bawah payung Pancasila dengan segala nilainya yang luhur. Tapi apa yang berlaku dalam praktek adalah pelecehan dan pengkhianatan terhadap seluruh nilai yang diagungkan itu. Moral kita ternyata rapuh. Orla telah menyeret bangsa ini ke kutub kiri dunia yang menyengsarakan, sementara Orba ke kutub kapitalisme kolutif yang sangat kotor dan zalim. Orba secara resmi baru tumbang pada 21 Mei lalu, dengan virus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang masih "setia" bersama kita sampai hari ini.

Pohon besarnya memang telah ditumbangkan, tapi pohon-pohon yang lebih kecil banyak yang masih utuh dengan jangkauan guritanya yang telah melilit dan mencekik leher rakyat selama ini. Metafora gurita dalam konteks ini mungkin terasa ganas, tapi rakyat yang pernah merasakan lilitan tangannya tak akan keberatan dengan ungkapan itu, karena cengkeramannya yang mematikan.

Maka, sejak dua bulan terakhir ini, hebohlah sebuah kabupaten di Sumatera Barat, Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung, karena ulah bupatinya yang otoriter dalam menjalankan tugasnya di kabupaten yang kaya tapi agak terbelakang itu. Menurut informasi otentik yang kami terima, "raja lokal" ini terbiasa melayangkan tangannya untuk menempeleng rakyatnya yang tak berdaya, di samping gurita KKN-nya yang telah merayap ke mana-mana. Sang bupati yang kolonel, dengan masa jabatan 1995-2000, kini digugat rakyat untuk segera mundur dari jabatannya. Rakyat sudah sangat kesal dengan segala tindakannya. Akibat desakan rakyat, DPRD-nya pun menyetujui tuntutan itu. Semua tuntutan dan dokumen yang bersangkutan dengan protes itu telah disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri.

Yang dinantikan orang sekarang adalah tindakan Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid untuk secepatnya mengirim tim pencari fakta ke daerah tersebut demi mengetahui situasinya dari dekat serta mengumpulkan informasi secara jujur dan objektif tentang ulah bawahannya yang telah mencoreng nama baik ABRI dan menjadi sasaran demo itu.

Menurut dokumen tertulis yang ada, tuntutan rakyat tersebut sama sekali tidak mengada-ada. Semuanya berdasarkan pada pengalaman pahit rakyat di kabupaten itu selama ini. Bupati, menurut dokumen itu, juga terlibat dalam berbagai kegiatan bisnis dengan memposisikan saudara dan kawan sekampungnya di tempat-tempat strategis. Nepotisme memang telah lama mengepung republik ini, dari utara sampai ke selatan, dari timur sampai ke barat, dari Jakarta sampai ke bagian-bagian lain di seluruh Nusantara -termasuk ke Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung. Sungguh keadaan ini amat memalukan dan menyakitkan.

Yang mungkin tidak banyak diketahui orang, ayah sang bupati ternyata seorang tokoh masyarakat dan tokoh pergerakan yang disegani -kebetulan saya kenal secara pribadi. Saran saya adalah agar posisi ayah sebagai tokoh masyarakat itu hendaknya dipertimbangkan oleh anak dalam bertindak sebelum segala sesuatu menjadi makin runyam dan tak terkendali. Ingatlah kasus Bupati Bantul di lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang kini telah jatuh secara tidak nyaman. Sekiranya pohon besarnya tidak tumbang di Jakarta, posisi Bupati Bantul tentu masih dalam perlindungan. Apakah bupati-bupati lain mau mengikuti jejak mitranya di Jawa, yaitu turun secara tidak terhormat?

Kita kini hidup dalam suasana yang telah berubah secara drastis. Setelah sekian lama bangsa ini dipasung, akhirnya masyarakat tak tahan lagi. Orang sudah muak dengan segala macam kepalsuan serta keculasan dalam politik dan ekonomi Orba yang semula dielukan. Tapi akibat dosa kumulatif yang dilakukannya, akhirnya diruntuhkan. Apakah "raja-raja lokal" tidak menyadarinya? Arogansi kekuasaan sedang digoyang di mana-mana, sebab memang sudah harus dimasukkan ke museum sejarah untuk selama-lamanya, jika bangsa yang lagi terpuruk ini mau diselamatkan. Kolusi birokrasi dan pengusaha selama ini telah hampir menenggelamkan kapal republik. Kita mengemis kepada IMF, Bank Dunia, dan lain-lain untuk menolong rakyat yang sedang lapar, sementara kabarnya sekitar US$ 100 milyar harta orang- orang tertentu diparkir di luar negeri. Di mana sebenarnya hati nurani sekarang ini?

Keluhan dan jeritan rakyat Sawahlunto/Sijunjung ini hendaknya diperhatikan Menteri Dalam Negeri. Bupati bertipe semacam ini masih bertebaran di mana-mana di seluruh Tanah Air. Dan hal itu menyebabkan pembusukan meluas, seperti proses pembusukan ikan. Pertama bermula di kepala, kemudian dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh, hingga sekujur badannya remuk redam. Maka gerakan reformasi total tidak boleh kehilangan stamina. Jalan masih panjang, penuh liku, dan duri. Semangat juang tidak boleh kendur, sekalipun kita sedang berada dalam kondisi ekonomi yang tidak bersahabat. Bangsa ini harus dibebaskan dari segala bentuk ketidakadilan dan kepalsuan.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )