|
20 Mei 2011 - Kamis (19/5) di Jakarta, dalam Refleksi Hari
Kebangkitan Nasional 2011, kalangan tokoh lintas agama menilai,
kebangkrutan moral mengancam bangsa Indonesia. Situasi ini tidak boleh
dibiarkan dan bangsa ini harus bangkit dari keterpurukan.
Oleh karena itu, lepas dari kepemimpinan yang kian memprihatinkan,
kalangan tokoh agama masih mempunyai harapan dan terus mendukung
masyarakat untuk meningkatkan solidaritas, melakukan perbaikan riil, dan
meningkatkan kecintaan pada Tanah Air Indonesia.
Pernyataan
bersama tokoh lintas agama itu dibacakan secara bergantian oleh
Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti dan Wakil
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Imdadun Rahmat.
Refleksi
itu dihadiri mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif, KH
Salahuddin Wahid, Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Pendeta
Andreas A Yewangoe, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Martinus
Situmorang OFM Cap, tokoh Hindu Ida Pedande Sebali Tianyar Arimbawa, dan
tokoh Koghucu Tjhie Tjay Ing.
”Kalau kita tidak bangkit dari keterpurukan, bukan kebangkitan,
melainkan kebangkrutan nasional yang akan mengancam kehidupan bangsa
Indonesia,” ujar Abdul Mu’ti.
Tokoh agama itu mencatat
keberhasilan pemerintah dalam aspek kuantitatif pertumbuhan nasional
pula. Namun, sekitar 50 persen warga bangsa ini masih hidup di bawah
atau setara dengan 2 dollar Amerika Serikat per orang per hari.
Selain
itu, persatuan bangsa, menurut Abdul Mu’ti, sedang dicabik-cabik oleh
pelbagai konflik dan kekerasan, intoleransi keagamaan semakin menguat,
kelompok garis keras dengan bebas menyebarluaskan paham eksklusif yang
membenarkan paksaan dan kekerasan terhadap semua yang tidak mereka
sukai. ”Yang paling serius, nilai moral bangsa sudah dibusukkan oleh
korupsi yang merasuk dalam seluruh bidang kehidupan masyarakat.
Integritas moral dan komitmen politik kerakyatan terancam politik uang,”
ungkapnya.
Situmorang menjelaskan, kebangkrutan yang mengancam
kehidupan berbangsa kini misalnya kebangkrutan kualitas moral,
solidaritas kebangsaan, dan kebangkrutan penegakan hukum. Keselamatan
kehidupan berbangsa tak hanya ditentukan sejumlah pejabat, tetapi juga
semua komponen bangsa. Perlu kesadaran bersama pentingnya bertindak
untuk meningkatkan kualitas hidup berbangsa.
Salahuddin
menegaskan, pernyataan sikap tokoh lintas agama itu tidak dimaksudkan
untuk menyerang siapa pun. ”Kita mengajak siapa pun untuk memperjuangkan
apa yang diperjuangkan pendiri bangsa ini,” katanya.
Menurut
Syafii Maarif, semua komponen bangsa perlu bangkit untuk menghadapi
kemungkinan bangsa ini mengalami kebangkrutan. Bangsa Indonesia perlu
membuka hati dan peka terhadap berbagai persoalan bangsa.
”Jika
hati tak berfungsi, fungsikan hati. Kalau mata tidak berfungsi,
fungsikan mata. Kalau telinga tidak berfungsi, fungsikan telinga,” tutur
Syafii Maarif.
Tokoh lintas agama juga menyampaikan lima
tuntutan terhadap pejabat publik yang memikul tanggung jawab memimpin
bangsa. Pertama, menempatkan kebijakan yang diambil dengan
sejelas-jelasnya atas dasar UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika,
dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua, menghentikan pembiaran
terhadap kekerasan atas nama kelompok garis keras dan oleh massa
beringas. Ketiga, mengubah arah perekonomian Indonesia agar rakyat kecil
dapat merasakan bahwa mereka bisa maju dan hidup layak.
Keempat,
berani memberi prioritas tertinggi pada pengakhiran korupsi dan
pembebasan perpolitikan Indonesia dari politik uang. Kelima, menjadi
pengawal keadilan untuk seluruh rakyat tanpa diskriminasi apa pun.
Ada optimisme
Dalam
dialog Kebangkitan Nasional yang digelar Jaringan Aktivis Pro Demokrasi
(Prodem) di Jakarta, Kamis, terungkap gambaran masa depan Indonesia
masih penuh optimisme walau suram dan dibayangi menjadi negara yang
gagal, bahkan bubar. Negeri ini masih kaya dengan sumber daya alam
melimpah. Tingkat intelegensia warganya pun tak kalah dengan negara
maju. Namun, kondisi kontras juga tergambar, seperti terus mengecilnya
kepemilikan lahan akibat kebijakan impor pangan dan terjadi
deindustrialisasi akibat membanjirnya barang dari China.
Menurut
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Firmanzah, dalam
dialog itu, Indonesia sesungguhnya masih punya banyak modal untuk unggul
di dunia. ”Malaysia mengapitalisasi intelegensia warga Indonesia. Ada
4.000 doktor asal Indonesia di sana dan mereka wajib membuat jurnal
ilmiah internasional. Itu mendongkrak posisi Malaysia dibandingkan
dengan Indonesia,” ungkap Firmanzah.
Akan tetapi, tingkat
intelegensia yang baik di Indonesia tidak diimbangi dengan mentalitas
manusia beradab. Mentalitas kita masih kerumunan,” ujarnya.
Pembicara
lain, pengamat kebijakan publik dari UI, Andrinof Chaniago, mengatakan,
bangsa Indonesia sampai kini masih terjebak dengan mentalitas broker.
Kebijakan pemerintah yang dikeluarkan pun tak lepas dari mentalitas ini.
”Kita membangun kawasan ekonomi yang tak lebih dari pusat transaksi,
bukan pusat industrialisasi. Yang ditumbuhkan bibit menjadi broker,
bukan industrialisasi. Lihat saja, Indonesia bisa bikin pesawat bagus
CN-235, tetapi malah beli MA-60 dari China,” katanya.
Roh kebangkitan
Secara
terpisah, Kamis, sosiolog Imam B Prasodjo dan pemerhati sejarah JJ
Rizal mengakui, bangsa Indonesia kehilangan roh kebangkitan nasional,
yaitu mimpi besar bersama untuk membangun kemajuan bangsa. Salah satu
penyebabnya, elite politik sekarang terjebak dalam pikiran pendek,
mementingkan ego pribadi atau kelompok, dan sibuk dengan beragam urusan
kecil.
Keduanya melihat, Kebangkitan Nasional tahun 1908
ditumbuhkan oleh elite Indonesia yang tercerahkan dengan visi jauh ke
depan. Di tengah jaminan kenyamanan hidup dari kolonial bagi golongan
terdidik, mereka berani mengambil risiko, berjuang dengan penuh
kesulitan.
Elite bangsa saat itu menempa diri dalam berbagai
paham. Namun, masing-masing bisa mengatasi kepentingan pribadi dan
kelompok itu demi menyatukan mimpi besar bersama, yaitu kemerdekaan
bangsa Indonesia. Kini, 103 tahun kemudian, bangsa Indonesia justru
terpuruk dalam banyak dimensi. Pencapaian politik, ekonomi, sosial, dan
budaya seakan jalan di tempat, bahkan dalam beberapa hal mundur.
Menurut
Imam, masalah yang dihadapi bangsa ini kian besar dan kompleks,
termasuk terkait dengan dinamika politik-ekonomi global. Namun, di
tengah tantangan itu, elite bangsa ini justru bergerak dalam pikiran
sempit.
Mantan Wakil Presiden M Jusuf Kalla dalam diskusi
memaknai Kebangkitan Nasional di UI, Depok, Kamis, pun mengakui,
kebangkitan bangsa Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan belum
tegaknya etika, moral, dan hukum serta belum terwujudnya kemakmuran dan
keadilan. Untuk itu, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang kuat
sehingga mampu menggerakkan semua komponen bangsa untuk bersatu
mengatasi tantangan dan hambatan bagi masa depan.
Kalla menambahkan, kebangkitan negeri ini tetap harus berlandaskan Pancasila, yang tidak berhenti untuk dihafalkan.
Di
Senayan, Jakarta, Ketua Kelompok DPD di MPR Bambang Soeroso dalam
seminar terkait peringatan Kebangkitan Nasional juga mengatakan, meski
sudah 66 tahun merdeka, bangsa Indonesia belum juga bangkit. Tujuan
berbangsa dan bernegara, yakni memajukan kesejahteraan rakyat dan
keadilan sosial, belum juga tercapai sampai saat ini. (sumber: Kompas)
|