|
DALAM tiga bulan ini, Turki mendapat perhatian
dunia. Fokusnya pada masalah internal dan eksternal. Yang internal, persoalan
klasik, benturan politik politisi Kemalis sekuler dukungan militer dengan
kekuatan baru, Refah Partisi (Partai Kesejahteraan - PK) pimpinan Dr. Necmattin
Er- bakan, 71 tahun, alumnus Sekolah Teknik Tinggi Aachen, Jerman. PK yang
berideologi Islam adalah pewaris dua partai yang sudah dibubarkan, Milli Nizam
Partisi (Partai Ketertiban Nasional) dan Milli Selamet Partisi (Partai
Keselamatan Nasional) yang juga dipimpin Erbakan.
Kubu sekuler menuduh PK melancarkan Islamisasi
dengan melak- sanakan prinsip syariah, seperti pemakaian jilbab dan peren-
canaan pembangunan masjid agung di lapangan Taksim, Istanbul. Konflik terbuka
ini memaksa Presiden Suleyman Damirel memperingatkan PK agar menahan diri, tak
menyakiti kubu sekuler dan militer, dan menghormati demokrasi. Kekhawatiran
Damirel ini tentu beralasan, sebab bahaya kudeta militer bukan hal asing dalam
politik Turki selama 37 tahun ini.
Dua partai yang dibubarkan di atas, sekalipun secara eksplisit tak menyebut
Islam sebagai ideologinya, semua pengamat tahu keduanya berorientasi Islam.
Mereka tak antikemajuan, bahkan ingin mempercepat proses industrialisasi, asal
diimbangi rekonstruksi moral dan spiritual, yang sangat memprihatinkan akibat
sekularisme.
Lalu masalah eksternal, tarik tambang dua kekuatan itu meng- hadapi isu kuno
tentang masuk tidaknya Turki ke Uni Eropa. Adalah impian kaum sekuler sejak 70
tahun lalu untuk menjadi bagian Eropa, meski wilayah Turki hanya 3% di daratan
Eropa. Impian itu tak pernah menjadi kenyataan, sebab Barat tak rela Turki
menjadi bagian Eropa. Pendukung Islamisme menilai keinginan itu sebagai
indikasi rasa rendah diri yang parah. Sebaliknya, PK ingin merapatkan hubungan
dengan negara-negara muslim, bukan hanya menempelkan diri ke Barat.
Pergumulan dua kekuatan itu tampaknya akan berlangsung lama hingga ada yang
kalah atau tercipta suatu kompromi ideologis. Itu tak mudah. Islamisme, yang
selama ini tertindas, diam-diam mendapat darah baru, terutama dari kalangan
pengusaha kecil dan petani yang sudah bosan dengan sekularisme. Lagi pula,
sekularisme gagal membawa Turki menjadi bangsa modern setanding dengan negara
industri maju, sebagaimana kegagalan Islamisme ala Dinasti Usmani dalam
menghadapi ekspansi Barat. Kenyataan yang tak sederhana ini menghadapkan Turki
kepada dilema histor- is yang serba sukar. Sekarang kita tunggu corak Islam
yang hendak ditawarkan PK, sekiranya partai ini bertahan lama dalam pemerintahan.
Apakah PK berhasil membawa Turki menjadi bangsa maju lahir dan batin atau
mengalami nasib seperti sekularisme ala Ataturk?
Sementara itu, keadaan ekonomi Turki -yang berpenduduk sekitar 64 juta (99%
muslim) dengan laju pertambahan 2,1%- cukup men- cemaskan. Meski laju
pertumbuhan ekonomi cukup tinggi, 8,2%., dan pendapatan per kapita US$ 2.540,
tingkat inflasinya men- capai 79,3% pada akhir 1996, dan utang luar negerinya
US$ 59,8 milyar. Selain itu, nasib PK terancam. Kini terbetik kabar tentang
kemungkinan kudeta militer yang keempat jika Erbakan tetap pada program
keislaman.
Sekularisme Turki sebenarnya merupakan jawaban Ataturk terhadap dua tantangan
yang sangat mendesak. Pertama, tantangan ek- sternal berupa politik dan militer
Barat yang agresif im- perialistik siap menghapus Turki dari peta dunia. Islam
dalam jubah Dinasti Usmani yang renta sudah tak berdaya menghadapi tantangan
itu. Kedua, tantangan internal dalam bentuk kebekuan berpikir para ulama sejak
abad-abad sebelumnya. Akibatnya, Is- lam terpasung dalam gang sempit di kawasan
pinggir kehidupan manusia dalam masalah politik, ekonomi, sosial, dan ilmu
pengetahuan. Islam menjadi agama individual, tergusur dari wilayah kehidupan
kolektif umatnya. Dengan kata lain, sekularisme terselubung sebenarnya telah
lama berlangsung. Cakupan pelaksanaan ajaran Islam dari hari ke hari makin
menyempit.
Fenomena serupa, dengan gradasi bervariasi, berlaku di semua masyarakat muslim
sekarang. Inilah mungkin di antara tantangan intelektual terdahsyat yang tengah
dihadapi umat, jika Islam diyakini sebagai rahmat bagi alam semesta. Bila
tantangan tak dijawab, sekularisme adalah alternatif yang menunggu, sekalipun
sekularisme juga akan berakhir dengan kegagalan, seperti pengalaman Turki
modern.
Jadi, yang dilakukan Ataturk pada 1928 adalah memberikan bing- kai legal
konstitusional terhadap kenyataan tersebut. Tapi ia berangkat terlalu jauh,
sehingga sistem perkawinan pun sebagai bagian hukum keluarga, misalnya,
dilakukan melalui catatan sipil, terutama di kawasan bandar. Kehidupan serba
permisif mewabah di kota besar. Semua ini sangat memukul nurani dan kepekaan
moral kaum santri Turki. Ataturk mau habis-habisan dalam proses modernisasinya,
tapi modernisasi pelitur itu tak sampai menyentuh substansi. Memang Ataturk berhasil
membentuk sebuah negara-bangsa yang amat berbeda dengan struktur Imperium
Usmani, yang terdiri dari berbagai bangsa dan etnisitas seperti Abbasiyah
sebelumnya. Konsekuensi konsep negara ini, bangsa lain yang berada di bawah
payung Turki Usmani satu per satu memisahkan diri dan merdeka. Nasionalisme,
yang berasal dari Eropa, telah memicu dan mempercepat proses pemisahan ini.
Ataturk berupaya mengambil langkah baru untuk menyelamatkan Turki. Tapi
Imperium Usmani tak mungkin ditolong karena proses pembusukan dari dalam yang
sudah berlangsung lama.
Pelajaran apa yang dapat dipetik bangsa muslim lainnya dari Turki? Banyak.
Antara lain, sekularisme tak mungkin berjaya pada sebuah bangsa muslim
sekalipun dipaksakan secara politik dan militer. Tapi Islamisme yang feodal dan
penuh dosa sejarah juga bukan alternatif masa depan bangsa muslim. Perlu
dirumus- kan sebuah Islam Qurani secara cerdas dan komprehensif, yang mampu
memberi jalan keluar bagi berbagai kesulitan kemanusiaan. Itu tak hanya
dihadapi umat Islam, melainkan juga dihadapi dunia modern yang serba kompleks
dan sekuler ini.
|