|
DATA pribadi: lahir di Wonosari, Yogyakarta, 27
tahun lalu. Belum kawin. Cacat sejak kecil, menderita poliomyelitis.
Orangtuanya telah bertransmigrasi ke Palembang sejak 1982. Wilayah jelajah
Parmin: Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sifat yang
menonjol: optimistis, mandiri, tak suka dibelaskasihani. Filsafatnya adalah
pantang menganggur.
"Asah piso (pisau), asah gunting!"
Kalimat inilah modalnya berkelana mencari rezeki sepanjang hari.
Perlengkapannya sangat sederhana: dua batu asah, satu tongkat, satu tas tempat
peralatan, dan sebuah topi yang sudah agak kumal. Peralatan itulah yang
di-kundang-nya (bahasa Minang, artinya dibawa) ke mana-mana, kadang-kadang
mencapai kota yang jauh dari kampung kelahirannya.
Parmin punya elan vital (semangat hidup) yang prima. Dia sadar akan keadaan
fisiknya. Tapi cacat ini bukanlah kendala baginya untuk berusaha hidup sebagai
manusia penuh. Dia tak pernah menyesal mengapa ia lahir cacat. Suatu hari pada
20 Desember 1995, saya berkenalan dengannya. Sambil mengasah pisau dapur saya,
Parmin mengungkapkan sisi-sisi hidupnya secara jujur, gamblang, tanpa perasaan
rendah diri. Bila dilihat sepintas lalu, serasa tak mungkin pria kelahiran
Wonosari ini menjelajahi tiga provinsi secara bergantian.
Bila malam datang, ia sering menginap di masjid, pos polisi, dan kadang-kadang
di emper toko. Tapi Anda jangan salah taksir bahwa penghasilannya sekadar untuk
menyambung napas dari hari ke hari, dari malam ke malam. Pendapatan Parmin
mengalahkan pendapatan buruh pabrik, pelayan toko, abang becak. Bahkan gaji
seorang dosen dengan pangkat III d tak bisa menandinginya. Sewaktu saya tanya
pendapatan hariannya, dengan lugu ia menjawab antara Rp 15.000 dan Rp 25.000
per hari. Sangat lumayan bukan? Tak bisa dilawan oleh UMR (upah minimun
regional), sekalipun akan dinaikkan 10%, April tahun ini.
Jumlah pendapatannya itu telah diaturnya dengan cermat dan baik sekali.
Sebagian untuk makan, sebagian untuk tabungan, sebagian untuk sumbangan sosial,
sebagian untuk biaya membangun rumah, sisanya untuk lain-lain. Anda tak perlu
kaget bahwa rumahnya di Wonosari sudah hampir rampung. Dibangun dengan hasil
kerja asah piso, asah gunting. Tentang persoalan rumah ini, Parmin pun
bercerita bahwa orangtuanya sengaja tak dia beritahu. Dia ingin pada suatu hari
mereka akan terperangah dalam arti bungah (gembira sekali) mendapati anaknya
telah punya rumah. Juga Parmin ingin menunjukkan kepada orangtuanya bahwa ia
tak kecewa dalam kondisinya yang demikian. Yang cacat fisiknya, sedangkan jiwa
sehat dan kreatif.
Bila kebetulan berada di Yogyakarta, Parmin biasa menginap di lingkungan Masjid
Hasanah, dekat kampus Universitas Gadjah Mada. Biaya makannya sekitar Rp 1.500
per hari. Sederhana sekali. Yang lebih men-trenyuh-kan saya bahwa Parmin biasa
puasa Senin-Kamis tanpa berhenti bekerja. Hidupnya teratur, merdeka, dan tak
neko-neko (aneh-aneh). Pernah ia menjenguk orangtuanya di Palembang, tapi hanya
kerasan beberapa hari. Parmin tak bisa diam dan bersantai. Profesinya sebagai tukang
asah rupanya telah menyatu dengan dirinya, entah sampai kapan. Yang jelas, di
samping punya rumah, tabungannya juga ada di bank. Jumlahnya tak saya tanya.
Cobalah kita tarik kisah Parmin ke dalam konteks yang lebih luas. Di saat
sangat terbatasnya lapangan kerja, Parmin bagi saya adalah pahlawan.
Pendidikannya yang hanya setakat sekolah dasar bukanlah rintangan baginya untuk
mengisi hidupnya secara bermakna. Dia pantang menyerah dan tak mau menganggur.
Kiatnya sederhana: jangan merasa hina dengan jenis kerja apa saja, asal halal.
Boleh jadi nanti di depan Tuhan orang semisal Parmin ini akan mudah mengetuk
pintu surga, sebab hidupnya bersih, tulus, dan tak egoistik.
Pengalaman Parmin dalam menjalankan profesinya sangat beragam. Di samping
banyak orang yang berlaku santun kepadanya, tak jarang pula yang segera menutup
pintu rumah manakala Parmin lewat di halamannya. Namun apa pun yang dialaminya,
Parmin selalu mengucapkan "alhamdulillah". Dia kaya dengan pengalaman
tentang manusia. Oleh sebab itu dia tak pernah gamang berurusan dengan berbagai
situasi.
Parmin adalah anak Indonesia, anak Orde Baru. Saya tak sempat menanyakan
komentarnya tentang korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang makin
"meriah" diberitakan koran. Barangkali dia tak tertarik untuk mengikuti
itu semua. Untuk apa semuanya itu didengar, bukankah bila semua orang sudah
korup, sudah nepotis, kan tak ada lagi korupsi dan nepotisme. Bila orang sudah
bergelimang dalam dosa-dosa sejarah itu maka risikonya mungkin hanya satu:
masyarakat jadi apatis dan letih. Parmin tak mau apatis, tak mau letih.
"Asah piso, asah gunting", itulah senjatanya.
Kita sebenarnya masih beruntung. Di tengah-tengah kegalauan sistem nilai, ada
Parmin di lingkungan kita. Parmin ini sudah pasti ada dalam setiap kelas
masyarakat. Cirinya adalah: jujur, mandiri, kerja keras, kaya nilai-nilai
rohani, dan tak kikir. Parmin yang belum pernah ditatar P4 adalah contoh dari
sosok manusia Indonesia yang masih utuh. Berbahagialah bangsa ini karena stok
manusia seperti Parmin belum lagi punah ditelan perubahan sosial yang
kadang-kadang sangat kejam dan menindas. Parmin adalah contoh hidup dari sebuah
ketegaran, dari sebuah kemandirian, dan dari sebuah kebebasan.
|