Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jan 13 1996
BUMERANG PDF Print E-mail
Sunday, 14 January 1996

BUMERANG adalah senjata berburu kaum Aborigin Australia. Ia berupa tongkat bengkok yang bila dilemparkan akan kembali kepada si pelempar. Dalam arti kiasan, bumerang adalah suatu rencana atau perbuatan yang akhirnya merugikan atau bahkan menghancurkan diri sendiri. Bila dikaitkan dengan konteks politik Indonesia, apakah kedekatan sekelompok elite muslim dengan pusat-pusat kekuasaan akan menjadi bumerang bagi Islam dalam jangka panjang? Mari kita bicarakan.

Munculnya ungkapan ijo royo-royo di koran Kompas selama sidang-sidang MPR tahun 1993 memperkuat sinyaleman sementara orang bahwa Pemerintah Orde Baru (Orba) telah mulai berbaik dengan kelompok santri, setelah sekian lama saling menjaga jarak. Hal ini mungkin karena alasan historis dan psikologis. Bukti nyata, kata sinyalemen itu, terlihat dalam komposisi Kabinet Pembangunan VI: 90% menterinya terdiri dari golongan santri lama atau baru. Santri lama punya kultur yang dalam pada dunia santri, sedangkan santri baru adalah mereka yang baru saja mendekatkan diri dengan dunia santri. Sebutlah misalnya melalui ICMI. Ijo royo-royo kabarnya juga terjadi dalam tubuh Golkar dan di lingkungan kekuatan politik lainnya.

Reaksi golongan santri terhadap sinyalemen itu biasa-biasa saja. Menurut mereka, bila apa yang disinyalir itu memang fakta, maka fakta itu wajar saja. Apalagi bila orang mau berpikir proporsional, bukankah hampir 90% rakyat Indonesia menganut Islam? Jadi bila 90% anggota kabinet adalah muslim, bukankah itu cukup proporsional? Itu adalah fakta politik kuantitatif, sementara di bidang ekonomi perdagangan, situasinya lain sama sekali. Perbandingannya terlalu pincang.

Tulisan ini bukan untuk membanding-bandingkan. Yang hendak disampaikan adalah sekadar perkiraan tentang masa depan hubungan Islam dengan kekuasaan, agar keramahan negara sekarang ini terhadap kaum santri tak akan jadi bumerang bagi hari depan Islam di Indonesia. Mengapa harus berpikir begitu, bukankah sekarang Islam dan kekuasaan di Indonesia menurut sementara pengamat sedang berbulan madu, apa pun pertimbangannya?

Alasannya sederhana, sekalipun sangat mendasar. Seorang muslim yang menjadi pejabat diwajibkan oleh agamanya untuk berlaku jujur dan adil dalam menjalankan tugas. Jabatan adalah sebuah amanat yang tak boleh tercemar oleh perilaku korup, sewenang-wenang, dan lebih mementingkan diri dan golongannya sendiri. Prinsip Islam dalam politik begitu jelas dan hanya punya satu tujuan: tegaknya sebuah sistem kekuasaan yang bersih dan adil. Karena itu, wibawa tak perlu diburu-buru, sebab kewibawaan itu adalah buah dari sistem kekuasaan yang bersih dan adil. Rakyat tanpa ditatar pasti akan menghormati sistem kekuasaan yang demikian, lahir dan batin.

Tapi kalau sekadar ijo royo-royo, sementara korupsi, kolusi, dan penyalahgunaan wewenang terjadi di mana-mana, misalnya, maka kedekatan sejumlah elite muslim dengan pusat-pusat kekuasaan dapat menjadi bumerang bagi umat, dan bahkan agamanya akan turut ternodai. Harapan kita tentu saja, kemungkinan yang serba kelabu itu tak akan terjadi. Sekiranya terjadi, maka tak diragukan lagi bahwa kewibawaan Islam dalam politik akan pudar. Untuk memulihkannya kembali akan memerlukan waktu yang lama dan melelahkan.

Kita sadar bahwa bukan perkara mudah untuk menegakkan nilai- nilai baik dan luhur di tengah-tengah kegalauan sistem nilai, akibat proses perubahan sosial yang sangat cepat. Landasan konstitusional kita sebenarnya cukup solid untuk menciptakan sebuah pemerintahan yang bersih. Namun bila landasan itu dibenturkan kepada realitas politik, yang kadang-kadang sangat keras dan ganas, kita sering benar dihadapkan kepada pilihan- pilihan yang sulit dan rumit. Keberhasilan pembangunan ekonomi, dengan sarana fisiknya yang spektakuler, telah pula membawa dampak negatif-destruktif. Sebagian sektor masyarakat yang diuntungkan oleh pembangunan ada yang lupa diri. Mereka memamerkan budaya hedonisme, sementara kesenjangan sosial masih sangat terasa.

Selain itu masyarakat juga makin prihatin menyaksikan volume kriminalitas oleh berbagai sebab yang kian membengkak, khususnya di kota besar. Pertanyaan kita adalah: sudahkan elite muslim yang sedang berada di pusat-pusat kekuasaan berpikir serius untuk mencari jalan keluar dari kesulitan yang tengah dihadapi bangsa kita? Berbagai penyakit sosial sedang menjangkiti tubuh bangsa. Dan semua penyakit ini hanya mungkin diobati oleh mereka yang tak sakit. Taruhannya akan teramat besar bila elite muslim yang sedang berada di bagian puncak tak paham benar dengan misinya untuk turut menyelamatkan bangsa ini dari kemungkinan oleng secara moral. Akhirnya mohon diingatkan apa makna bumerang dalam politik.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Sunday, 20 April 2008 )
 
Next >

Autodesk Navisworks Review 2010 32 & 64 Bit
Lynda After Effects CS5 New Features
Lynda PowerPoint 2010 Real-World Projects
Adobe Flash Catalyst CS5 Student and Teacher Edition MAC
Red Giant Knoll Light Factory for Photoshop 3.2
Quicken Home and Business 2010
Adobe Indesign CS5.5 Student & Teacher Edition MAC
Microsoft InfoPath 2010
Adobe Premiere Pro CS5
Red Giant Psunami MAC
Adobe Photoshop CS5 Extended Student and Teacher Edition
Adobe Creative Suite 5.5 Web Premium Student & Teacher Edition MAC
Autodesk Revit Structure 2010 32 & 64 Bit
Autodesk AutoCAD Structural Detailing 2012