|
BUMERANG adalah senjata berburu kaum Aborigin
Australia. Ia berupa tongkat bengkok yang bila dilemparkan akan kembali kepada
si pelempar. Dalam arti kiasan, bumerang adalah suatu rencana atau perbuatan
yang akhirnya merugikan atau bahkan menghancurkan diri sendiri. Bila dikaitkan
dengan konteks politik Indonesia, apakah kedekatan sekelompok elite muslim
dengan pusat-pusat kekuasaan akan menjadi bumerang bagi Islam dalam jangka
panjang? Mari kita bicarakan.
Munculnya ungkapan ijo royo-royo di koran Kompas
selama sidang-sidang MPR tahun 1993 memperkuat sinyaleman sementara orang bahwa
Pemerintah Orde Baru (Orba) telah mulai berbaik dengan kelompok santri, setelah
sekian lama saling menjaga jarak. Hal ini mungkin karena alasan historis dan
psikologis. Bukti nyata, kata sinyalemen itu, terlihat dalam komposisi Kabinet
Pembangunan VI: 90% menterinya terdiri dari golongan santri lama atau baru.
Santri lama punya kultur yang dalam pada dunia santri, sedangkan santri baru
adalah mereka yang baru saja mendekatkan diri dengan dunia santri. Sebutlah
misalnya melalui ICMI. Ijo royo-royo kabarnya juga terjadi dalam tubuh Golkar
dan di lingkungan kekuatan politik lainnya.
Reaksi golongan santri terhadap sinyalemen itu biasa-biasa saja. Menurut
mereka, bila apa yang disinyalir itu memang fakta, maka fakta itu wajar saja.
Apalagi bila orang mau berpikir proporsional, bukankah hampir 90% rakyat
Indonesia menganut Islam? Jadi bila 90% anggota kabinet adalah muslim, bukankah
itu cukup proporsional? Itu adalah fakta politik kuantitatif, sementara di
bidang ekonomi perdagangan, situasinya lain sama sekali. Perbandingannya terlalu
pincang.
Tulisan ini bukan untuk membanding-bandingkan. Yang hendak disampaikan adalah
sekadar perkiraan tentang masa depan hubungan Islam dengan kekuasaan, agar
keramahan negara sekarang ini terhadap kaum santri tak akan jadi bumerang bagi
hari depan Islam di Indonesia. Mengapa harus berpikir begitu, bukankah sekarang
Islam dan kekuasaan di Indonesia menurut sementara pengamat sedang berbulan
madu, apa pun pertimbangannya?
Alasannya sederhana, sekalipun sangat mendasar. Seorang muslim yang menjadi
pejabat diwajibkan oleh agamanya untuk berlaku jujur dan adil dalam menjalankan
tugas. Jabatan adalah sebuah amanat yang tak boleh tercemar oleh perilaku
korup, sewenang-wenang, dan lebih mementingkan diri dan golongannya sendiri.
Prinsip Islam dalam politik begitu jelas dan hanya punya satu tujuan: tegaknya
sebuah sistem kekuasaan yang bersih dan adil. Karena itu, wibawa tak perlu
diburu-buru, sebab kewibawaan itu adalah buah dari sistem kekuasaan yang bersih
dan adil. Rakyat tanpa ditatar pasti akan menghormati sistem kekuasaan yang
demikian, lahir dan batin.
Tapi kalau sekadar ijo royo-royo, sementara korupsi, kolusi, dan penyalahgunaan
wewenang terjadi di mana-mana, misalnya, maka kedekatan sejumlah elite muslim
dengan pusat-pusat kekuasaan dapat menjadi bumerang bagi umat, dan bahkan
agamanya akan turut ternodai. Harapan kita tentu saja, kemungkinan yang serba
kelabu itu tak akan terjadi. Sekiranya terjadi, maka tak diragukan lagi bahwa
kewibawaan Islam dalam politik akan pudar. Untuk memulihkannya kembali akan
memerlukan waktu yang lama dan melelahkan.
Kita sadar bahwa bukan perkara mudah untuk menegakkan nilai- nilai baik dan
luhur di tengah-tengah kegalauan sistem nilai, akibat proses perubahan sosial
yang sangat cepat. Landasan konstitusional kita sebenarnya cukup solid untuk
menciptakan sebuah pemerintahan yang bersih. Namun bila landasan itu
dibenturkan kepada realitas politik, yang kadang-kadang sangat keras dan ganas,
kita sering benar dihadapkan kepada pilihan- pilihan yang sulit dan rumit. Keberhasilan
pembangunan ekonomi, dengan sarana fisiknya yang spektakuler, telah pula
membawa dampak negatif-destruktif. Sebagian sektor masyarakat yang diuntungkan
oleh pembangunan ada yang lupa diri. Mereka memamerkan budaya hedonisme,
sementara kesenjangan sosial masih sangat terasa.
Selain itu masyarakat juga makin prihatin menyaksikan volume kriminalitas oleh
berbagai sebab yang kian membengkak, khususnya di kota besar. Pertanyaan kita
adalah: sudahkan elite muslim yang sedang berada di pusat-pusat kekuasaan
berpikir serius untuk mencari jalan keluar dari kesulitan yang tengah dihadapi
bangsa kita? Berbagai penyakit sosial sedang menjangkiti tubuh bangsa. Dan
semua penyakit ini hanya mungkin diobati oleh mereka yang tak sakit. Taruhannya
akan teramat besar bila elite muslim yang sedang berada di bagian puncak tak
paham benar dengan misinya untuk turut menyelamatkan bangsa ini dari
kemungkinan oleng secara moral. Akhirnya mohon diingatkan apa makna bumerang
dalam politik.
|