Who's Online

Syndicate

Sep 11 1995
Neo-Masyumi? PDF Cetak E-mail
Monday, 11 September 1995

MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) ada dua: Masyumi zaman Jepang dan Masyumi pascaproklamasi. Yang pertama dibentuk oleh para pemimpin Islam pada Oktober 1943, bersama penguasa Jepang, sebagai ganti MIAI (Majlis Islam A'la Indonesia) yang dicurigai penguasa. Masyumi pertama ini bukan partai politik, sekalipun diam-diam menjalankan politik.

Masyumi pascaproklamasi, yang didirikan awal November 1945 di Yogyakarta, nyata-nyata sebuah partai politik umat Islam. Pendukung inti partai: Muhammadiyah, NU, PSII, dan beberapa tokoh partai serta organisasi Islam lainnya, kecuali Perti yang memang tak pernah bergabung. Dalam tafsir Anggaran Dasarnya disebutkan secara tegas dan jelas bahwa Masyumi menjunjung tinggi asas musyawarah, kedaulatan rakyat, dan hak-hak asasi manusia. Dalam masa hidupnya yang relatif pendek (1945-1960), dalam kiprah politiknya, Masyumi adalah salah satu partai pembela demokrasi dan konstitusi dalam teori dan praktek. Maka kematiannya pada akhir 1960 adalah dalam rangka pembelaannya terhadap demokrasi dan konstitusi yang pada waktu itu dihadapkan pada budaya politik baru yang otoriter dalam jubah Demokrasi Terpimpin (1959-1965), ciptaan Bung Karno.

Di samping kekuatannya dalam membela demokrasi, Masyumi punya "cacat" politik, yaitu tak pandai bermain melalui pintu belakang dalam mendekati Bung Karno. Partai ini bermain secara frontal, argumentatif konstitusional, tanpa mempertimbangkan secara jeli pengaruh subkultur bangsa yang melatarbelakangi konstruksi pemikiran Presiden RI yang pertama itu.

Dalam suatu wawancara dengan Mohammad Natsir pada 1978, saya bertanya, "Apakah Pak Natsir tak paham subkultur bangsa yang boleh jadi membentuk sikap politik seseorang yang tak terbiasa dilawan secara frontal melalui pintu depan?" Dijawab, "Saya memang tak paham. Saya pikir, Bung Karno itu sama saja dengan Roem, Prawoto, Kasman, dan lain-lain." "Bagaimana halnya Bung Hatta," pertanyaan saya teruskan. Natsir menjawab, "Bung Hatta juga sama saja, tak paham subkultur semacam itu."

Dialog di atas menjelaskan kepada kita bahwa masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa kita sebenarnya akan dapat diselesaikan secara lebih arif bila kita mau dan mampu berpikir secara orang lain. Pluralisme budaya, suku, bahasa, daerah, dan agama di Indonesia merupakan unsur yang sangat kaya dan kuat untuk merekat integrasi nasional bila semuanya itu dianyam secara arif, saling mengerti, dan sabar. Inti Sumpah Pemuda 1928 adalah puncak dari proses sejarah yang arif, sabar, dan penuh pengertian itu. Dengan Sumpah Pemuda, tak berarti unsur- unsur subkultur menjadi musnah dan lebur. Kalaupun akhirnya lebur, biarlah lebur secara alami tanpa paksaan apa pun.

Setelah PSII dan NU memisahkan diri dari Masyumi, masing- masing pada 1947 dan 1952, pimpinan Masyumi pada umumnya jatuh ke tangan alumni Jong Islamieten Bond (JIB), kecuali Sukiman Wirjosenjojo, Sjafrudin Prawiranegara, dan barangkali juga Abu Hanifah. Idola generasi JIB lebih tertumpu pada H.A. Salim dan H.O.S. Tjokroaminoto, pribadi-pribadi dengan integritas moral yang tinggi. Generasi ini adalah hasil didikan Barat, tapi dengan keyakinan dan wawasan Islam yang dalam dan luas. Masyumi di bawah kepemimpinan mereka dalam Pemilu 1955 telah muncul sebagai partai yang betul-betul bercorak nasional, dengan memenangkan 11 dari 14 daerah pemilihan, sekalipun PSII dan NU tak lagi menyertai partai ini.

Idola mereka adalah para tokoh piawai dengan integritas moral yang prima, diintegrasikan dengan ajaran Islam yang mereka pelajari. Maka tak mengherankan bilamana mereka juga menegakkan moral itu dalam berpolitik. Berbeda dengan kelompok ideologi lainnya, Masyumi tak memandang politik itu sesuatu yang kotor. Isu tentang politik itu kotor sedangkan agama itu suci pernah menjadi bahan polemik di kalangan politisi intelektual Indonesia sejak sebelum Perang Dunia II. Perbedaan persepsi tentang hubungan politik dan moral ini telah menciptakan polarisasi yang tajam di kalangan pemimpin bangsa pada masa- masa itu.

Masyumi memang banyak menyerap ide-ide Barat tentang demokrasi dan prinsip negara hukum. Tapi semua ini ditegakkan di atas fondasi moral Islam yang kukuh. Integrasi kedua sumber ini telah menjadikan Masyumi sebagai partai modern, moralis, dan konsisten, sekalipun kadang-kadang terasa kaku.

Adapun kecelakaan sejarah yang dialaminya pada 1960 terutama karena perlawanannya yang terlalu keras terhadap kekuatan ekstraparlementer dan kecenderungan politik otoriter. Ketidakmampuan Masyumi membaca budaya politik, yang sudah sangat dipengaruhi komunisme melalui pintu belakang, mungkin merupakan sebab lain mengapa partai ini dalam usia yang masih muda harus menghilang dari peredaran.

Pertanyaan yang kini tersisa: perlukah Neo-Masyumi? Menurut saya, orang tak perlu latah dalam memberi reaksi terhadap keadaan. Kalau PNI Baru disambut dengan Neo-Masyumi, apakah Republik ini tak tercabik-cabik oleh berbagai kepentingan politik yang saling berlawanan?

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya