Who's Online

Syndicate

 

Sep 09 1995
FAZLURRAHMAN PDF Cetak E-mail
Saturday, 09 September 1995

GATRA (26 Agustus 1995, halaman 98-99) memuat wawancara Profesor Hamid Algar dari Universitas California, tentang ber- bagai persoalan Islam kontemporer. Ada beberapa tesis menarik yang dapat dibaca dalam wawancara itu . Algar, misalnya, berkesimpulan bahwa revolusi Iran terjadi bukan karena Syi'ah- nya, melainkan semata-mata lantaran "konsekuensi dari persoalan objektif politik di negara itu''.

Revolusi, menurut Algar, dapat terjadi di bagian-bagian lain dunia Islam, seperti Mesir dan Aljazair yang Sunni. tergantung kondisi politik di negara itu. Saya cenderung untuk menyetujui pendapat ini karena lebih bercorak faktual-historis. Tumbangnya rezim Raja Farouk di Mesir, awal tahun 1 9S()-an. olch para perwira menengah negara itu tak ada kaitannya dengan bangsa Mesir yang suni . dalam presfektif ini orang tak perlu menjadi syi'ah atau sunni untuk berevolusi

Butir lain yang tak kurang menariknya dari wawancara Algar adalah penilaiannya terhadap kritik Fazlurrahman mengenai Ayatullah Khomeini yang dikatakan bodoh. tidak mengerti Islam. Ini dilakukan Fazlurrahman, demikian kesimpulan Algar. "untuk mencari simpati Barat". Ungkapan semacam ini mengandung im- plikasi bahwa Fazlurrahman lebih menyukai Shah Iran ketimbang Khomeini. karena Shah adalah agen Barat. Bila ini yang ada dalam otak Algar, kita hanya bisa mengatakan bahwa Algar belum kenal Fazlurrahman dalam makna yang utuh. Oleh sebab itu, penilaiannya bersifat emosional dan tergopoh -gopoh sebagaimana emosionalnya Fazlurrahman dalam menilai pemikiran Khomeini tentang lslam.

Tapi Fazlurrahman punya paradigma sendiri tentang pemahaman seseorang terhadap Islam dan Al-Quran yang selalu dikaitkannya dengan bingkai peradaban masa depan . Untungnya Faz I urrahman punya karya-karya yang cukup komprehensif tentang scmuanya ini, sesuatu yang belum dihasilkan Algar. Mudah-mudahan pada suatu hari nanti Algar akan menghasilkan karya yang utuh tentang Is- lam, sehingga kita dapat menempatkan pemikirannya dalam kategori yang lebih pas. Bila sekadar terhanyut-hanyut dalam sungai esoterisme tarekat Naqsyabandiyah tanpa menimbangnya secara kritis dalam perspektif masa depan yang sarat dengan serba kemungkinan. kita khawatir dunia Islam tak akan beranjak ke mana-mana.

Benar, Barat telah kehilangan jangkar spiritual. Terlalu ter- benam dalam gelombang materialisme yang kasar dan ganas. Tapi jujurkah kita untuk menariknya ke kutub spiritualisme yang serba antimaterialisme? Kalau ini yang terjadi, arus peradaban hanyalah akan berputar ke belakang kembali. Tak ad a progress (kemajuan) dalam makna yang didambakan umat manusia pada ting- kat sejarahnya yang mutakhir.

Fazlurrahman tak ingin memutar jarum jam ke belakang. Oleh sebab itu ia ingin melihat-sebagaimana halnya Ibn Taimiyah - terintegrasinya nilai-nilai sufisme, syari ' ah, filsafat, dan teologi dalam suatu kemasan yang padu dan asri. Al-Quran, bagi Fazlurrahman. mengajarkan doktrin kesatuan kehidupan dan kesatuan ilmu pengetahuan. Kritiknya terhadap khazanah Islam klasik itu adalah karena sifatnya yang serba terkeping-keping itu dan orang lalu menengok dunia melalui kaca mata yang terkeping itu kadang-kadang dengan tingkat fanatisme yang sangat tinggi .

Bahwa Algar sangat kecewa dengan corak peradaban Barat yang sekularmaterialistis, sikap serupa juga dimiliki Fazlurrahman. Perbedaannya barangkali terletak pada: Algar menolak peradaban Barat in toto, sementara Fazlurrahman menilai masih ada unsur- usur peradaban Barat yang positif dan dapat diislamkan. Ajaib- nya, kedua tokoh ini memilih hidup di dunia Barat ketimbang di dunia Islam mana pun di muka bumi ini. Kalau demikian halnya, apa yang terjadi sebenarnya dengan masyarakat Islam? Mengapa otak-otak besar muslim tak kerasan hidup di lingkungan umat Is- lam? Kalau Iqbal akan menjawabnva. bahwa Pemyebab utamanya adalah konservatisme ulama dan otoriterisme penguasa, dua kekuatan yang memasung kreativitas manusia. Saya yakin bahwa Algar-sekalipun memuji Khomeini-tak mungkin tahan hidup berlama-lama di lingkungan mullaisme. Ia persis seperti Fazlur- rahman, terpaksa hengkang dari Pakistan lantaran perlawanan sadis dari para ulama pada akhir tahun 1 960-an.

Akhirnya, baik Algar maupun Fazlurrahman sama-sama kita per- lukan untuk membingkai masa depan yang lebih adil, mulia, dan manusiawi . Persoalannya adalah: mampukah kita mengintegrasikan pemikiran-pemikiran yang seakan-akan bersengketa itu dengan Al- Quran sebagai perekatnya yang utama dan pertama? Inilah di antara pekerjaan rumah intelektual muslim yang cukup menantang pada permulaan abad ke-21

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >