|
GATRA (26 Agustus 1995, halaman 98-99) memuat
wawancara Profesor Hamid Algar dari Universitas California, tentang ber- bagai
persoalan Islam kontemporer. Ada beberapa tesis menarik yang dapat dibaca dalam
wawancara itu . Algar, misalnya, berkesimpulan bahwa revolusi Iran terjadi
bukan karena Syi'ah- nya, melainkan semata-mata lantaran "konsekuensi dari
persoalan objektif politik di negara itu''.
Revolusi, menurut Algar, dapat terjadi di
bagian-bagian lain dunia Islam, seperti Mesir dan Aljazair yang Sunni.
tergantung kondisi politik di negara itu. Saya cenderung untuk menyetujui
pendapat ini karena lebih bercorak faktual-historis. Tumbangnya rezim Raja
Farouk di Mesir, awal tahun 1 9S()-an. olch para perwira menengah negara itu
tak ada kaitannya dengan bangsa Mesir yang suni . dalam presfektif ini orang
tak perlu menjadi syi'ah atau sunni untuk berevolusi
Butir lain yang tak kurang menariknya dari wawancara Algar adalah penilaiannya
terhadap kritik Fazlurrahman mengenai Ayatullah Khomeini yang dikatakan bodoh.
tidak mengerti Islam. Ini dilakukan Fazlurrahman, demikian kesimpulan Algar.
"untuk mencari simpati Barat". Ungkapan semacam ini mengandung im-
plikasi bahwa Fazlurrahman lebih menyukai Shah Iran ketimbang Khomeini. karena
Shah adalah agen Barat. Bila ini yang ada dalam otak Algar, kita hanya bisa
mengatakan bahwa Algar belum kenal Fazlurrahman dalam makna yang utuh. Oleh
sebab itu, penilaiannya bersifat emosional dan tergopoh -gopoh sebagaimana
emosionalnya Fazlurrahman dalam menilai pemikiran Khomeini tentang lslam.
Tapi Fazlurrahman punya paradigma sendiri tentang pemahaman seseorang terhadap
Islam dan Al-Quran yang selalu dikaitkannya dengan bingkai peradaban masa depan
. Untungnya Faz I urrahman punya karya-karya yang cukup komprehensif tentang
scmuanya ini, sesuatu yang belum dihasilkan Algar. Mudah-mudahan pada suatu
hari nanti Algar akan menghasilkan karya yang utuh tentang Is- lam, sehingga
kita dapat menempatkan pemikirannya dalam kategori yang lebih pas. Bila sekadar
terhanyut-hanyut dalam sungai esoterisme tarekat Naqsyabandiyah tanpa
menimbangnya secara kritis dalam perspektif masa depan yang sarat dengan serba
kemungkinan. kita khawatir dunia Islam tak akan beranjak ke mana-mana.
Benar, Barat telah kehilangan jangkar spiritual. Terlalu ter- benam dalam
gelombang materialisme yang kasar dan ganas. Tapi jujurkah kita untuk
menariknya ke kutub spiritualisme yang serba antimaterialisme? Kalau ini yang
terjadi, arus peradaban hanyalah akan berputar ke belakang kembali. Tak ad a
progress (kemajuan) dalam makna yang didambakan umat manusia pada ting- kat
sejarahnya yang mutakhir.
Fazlurrahman tak ingin memutar jarum jam ke belakang. Oleh sebab itu ia ingin
melihat-sebagaimana halnya Ibn Taimiyah - terintegrasinya nilai-nilai sufisme,
syari ' ah, filsafat, dan teologi dalam suatu kemasan yang padu dan asri.
Al-Quran, bagi Fazlurrahman. mengajarkan doktrin kesatuan kehidupan dan
kesatuan ilmu pengetahuan. Kritiknya terhadap khazanah Islam klasik itu adalah
karena sifatnya yang serba terkeping-keping itu dan orang lalu menengok dunia
melalui kaca mata yang terkeping itu kadang-kadang dengan tingkat fanatisme
yang sangat tinggi .
Bahwa Algar sangat kecewa dengan corak peradaban Barat yang
sekularmaterialistis, sikap serupa juga dimiliki Fazlurrahman. Perbedaannya
barangkali terletak pada: Algar menolak peradaban Barat in toto, sementara
Fazlurrahman menilai masih ada unsur- usur peradaban Barat yang positif dan
dapat diislamkan. Ajaib- nya, kedua tokoh ini memilih hidup di dunia Barat
ketimbang di dunia Islam mana pun di muka bumi ini. Kalau demikian halnya, apa
yang terjadi sebenarnya dengan masyarakat Islam? Mengapa otak-otak besar muslim
tak kerasan hidup di lingkungan umat Is- lam? Kalau Iqbal akan menjawabnva.
bahwa Pemyebab utamanya adalah konservatisme ulama dan otoriterisme penguasa,
dua kekuatan yang memasung kreativitas manusia. Saya yakin bahwa
Algar-sekalipun memuji Khomeini-tak mungkin tahan hidup berlama-lama di
lingkungan mullaisme. Ia persis seperti Fazlur- rahman, terpaksa hengkang dari
Pakistan lantaran perlawanan sadis dari para ulama pada akhir tahun 1 960-an.
Akhirnya, baik Algar maupun Fazlurrahman sama-sama kita per- lukan untuk
membingkai masa depan yang lebih adil, mulia, dan manusiawi . Persoalannya
adalah: mampukah kita mengintegrasikan pemikiran-pemikiran yang seakan-akan
bersengketa itu dengan Al- Quran sebagai perekatnya yang utama dan pertama?
Inilah di antara pekerjaan rumah intelektual muslim yang cukup menantang pada
permulaan abad ke-21
|