Publikasi A. Syafii Maarif

Resonansi
Prespektif Gatra
Jun 24 1995
MUHAMMADIYAH PDF Cetak E-mail
Sunday, 25 June 1995

SEJAK periode dini sejarahnya, Muhammadiyah merupakan bagian integral pergerakan nasional yang muncul di awal abad ini. Pada saat bangsa ini terjajah, Muhammadiyah juga terjajah dan sama-sama merasakan betapa getirnya hidup di bawah sistem politik yang menindas. Pendek kata, Muhammadiyah sudah bergumul bersama jatuh bangunnya bangsa ini.

Muhammadiyah tak pernah bermimpi agar Indonesia menjadi bagian dari kekuatan bangsa lain, apakah bangsa itu muslim atau nonmuslim, seperti yang dulu pernah ditunjukkan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menyeret bangsa Indonesia ke dunia Kiri. Sebagai sebuah gerakan Islam yang menawarkan ajaran universal, Muhammadiyah telah dengan apik menjalinkan universalisme Islam itu ke dalam anyaman keindonesiaan. Salah satu in- dikasinya adalah bahwa Muhammadiyah, dalam merumuskan strategi per- juangannya, melandaskan diri pada faktor-faktor domestik, sekalipun sikap solider terhadap rakyat muslim yang tertindas selalu ditampakkan.

Sikap ini juga sepenuhnya sejalan dan sebangun dengan diktum UUD 1945 yang ingin melenyapkan semua penjajahan dan penindasan dari permukaan bumi dalam bentuk apa pun. Bersikap yang demikian itu bukanlah semata- mata karena pertimbangan politik. Melainkan lebih dalam daripada itu: manifestasi iman dalam rangka mengukuhkan dasar-dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

Kini dalam usia di atas 80 tahun, Muhammadiyah sedang bersiap untuk bermuktamar ke-43 di Banda Aceh, 6-10 Juli, tahun ini. Muktamar dinilai sangat strategis, baik dipandang dari sudut momentum pelaksanaannya maupun dari sudut substansi yang dibicarakan. Momentumnya adalah sebagai muktamar terakhir abad ke-20. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang lahir dari rahim abad ini, kini bersama kekuatan seluruh bangsa sedang ancang-ancang untuk mengucapkan sayonara kepada abad ke-2O dengan segala kenangan manis dan pahit yang menyertainya. Secara global, abad ini, sebagai kelanjutan dari dua abad sebelumnya, telah mencatat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang sangat spektakuler, sekalipun dari sisi moral, umat manusia malah mengalami degradasi yang makin parah. Muhammadiyah menyadari kondisi pincang ini sedalam-dalamnya dan berpikir keras tentang cara-cara mengatasinya. Bangsa Indonesia yang berada di simpang jalan dunia juga tak bebas dari arus global yang serba pincang itu: iptek terus mencuat sementara persepsi manusia tentang moral makin redup dan kelabu.

Menyadari betapa kritisnya situasi peradaban manusia, Muhammadiyah dalam agenda muktamarnya juga akan membicarakan masalah besar ini. Muham- madiyah melihat abad yang akan datang tak boleh dibiarkan terpuruk lebih dalam lagi ke lembah kerancuan moral. Oleh sebab itu, sebagai langkah awal ia memandang bahwa bangsa Indonesia haruslah menjadi contoh dari keanggunan moral, satu situasi yang masih amat jauh dari rea]itas. Bangsa ini masih labil dalam moral. Korupsi tidak makin berkurang, malah makin akut. Orang tak malu-malu, misalnya, memeras dan mempermainkan uang jemaah haji hingga mengundang penderitaan demi penderitaan. Dalam skala yang lebih besar, sudah beberapa kali bangsa ini dikejutkan oleh pem- bobolan uang bank melalui kolusi dengan oknum tertentu. Kejadian itu berulang dan berulang dari masa ke masa. Belum lagi jika kita berbicara tentang budaya salah urus dan salah pasang dalam sistem birokrasi kita yang masih rentan dan lemah. Hampir saban tahun kita dihadapkan kepada krisis semen dan tahun ini muncul pula krisis kertas. Tahun depan kita tak tahu krisis apa lagi yang akan menggoncangkan masyarakat konsumen.

Apa yang tampak di permukaan ini sebenarnya berasal dari suatu endapan budaya bangsa yang sedang sakit. Dengan kata lain, dalam kaitan dengan diskusi kita, Islam belum berhasil meletakkan dasar-dasar moral yang kukuh bagi bangunan bangsa ini. Kita sebut Islam karena pertimbangan praktis saja. Berdasarkan data sosiologis, mayoritas rakyat Indonesia memeluk Islam. Dari kenyataan ini, kita tak tahu apakah dengan model penataran P4 moral bangsa ini akan dapat diperbaiki. Sebenarnya, bukan Pancasila saja yang dipertaruhkan sebagai panasea (penawar) bagi moral bangsa. Islam pun akan dihadapkan kepada ujian-ujian berat di masa depan, menghadapi masyarakat industri yang belum pernah dialami oleh semua bangsa muslim di muka bumi. Akan berjayakah Islam memberikan arah moral kepada peradaban industri dengan segala bentuk moralitas yang menyertainya? Akankah Islam mengalami nasib seperti nasib kakak-kakaknya, agama Yahudi dan agama Kristen di Barat: menyerah kepada peradaban in- dustri?

Itu belum dapat kita jawab sekarang. Tapi setidaknya, Muktamar Muham- madiyah ke-43 akan membicarakan masalah besar itu. Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah dengan segala kekuatan dan keterbatasannya mengajak kita semua untuk berpikir serius dan antisipatif dalam menghadapi serba kemungkinan di masa depan. Apakah masa depan itu akan lebih berpihak kepada nilai kemanusiaan yang luhur atau nilai itu akan dikorbankan demi iptek? Abad ke-21 akan memberikan jawaban kepada kita.

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 22 April 2008 )
 
Berikutnya >

Lynda Maya 2011 Essential Training
Corel VideoStudio Pro X2
GarageSale for MAC
Nuance OmniPage 17 Professional
Adobe Flash Catalyst CS5.5 Student & Teacher Edition MAC
SerialMailer MAC
ACDSee Pro MAC
Mastercam X5
Adobe Acrobat 9 Pro for Mac
Adobe Premiere Pro CS5
Adobe Flash Catalyst CS5.5 Student & Teacher Edition MAC