|
SEJAK periode dini sejarahnya, Muhammadiyah
merupakan bagian integral pergerakan nasional yang muncul di awal abad ini.
Pada saat bangsa ini terjajah, Muhammadiyah juga terjajah dan sama-sama
merasakan betapa getirnya hidup di bawah sistem politik yang menindas. Pendek
kata, Muhammadiyah sudah bergumul bersama jatuh bangunnya bangsa ini.
Muhammadiyah tak pernah bermimpi agar Indonesia
menjadi bagian dari kekuatan bangsa lain, apakah bangsa itu muslim atau
nonmuslim, seperti yang dulu pernah ditunjukkan Partai Komunis Indonesia (PKI)
yang menyeret bangsa Indonesia ke dunia Kiri. Sebagai sebuah gerakan Islam yang
menawarkan ajaran universal, Muhammadiyah telah dengan apik menjalinkan
universalisme Islam itu ke dalam anyaman keindonesiaan. Salah satu in- dikasinya
adalah bahwa Muhammadiyah, dalam merumuskan strategi per- juangannya,
melandaskan diri pada faktor-faktor domestik, sekalipun sikap solider terhadap
rakyat muslim yang tertindas selalu ditampakkan.
Sikap ini juga sepenuhnya sejalan dan sebangun dengan diktum UUD 1945 yang
ingin melenyapkan semua penjajahan dan penindasan dari permukaan bumi dalam
bentuk apa pun. Bersikap yang demikian itu bukanlah semata- mata karena
pertimbangan politik. Melainkan lebih dalam daripada itu: manifestasi iman
dalam rangka mengukuhkan dasar-dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
Kini dalam usia di atas 80 tahun, Muhammadiyah sedang bersiap untuk bermuktamar
ke-43 di Banda Aceh, 6-10 Juli, tahun ini. Muktamar dinilai sangat strategis,
baik dipandang dari sudut momentum pelaksanaannya maupun dari sudut substansi
yang dibicarakan. Momentumnya adalah sebagai muktamar terakhir abad ke-20.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang lahir dari rahim abad ini, kini bersama
kekuatan seluruh bangsa sedang ancang-ancang untuk mengucapkan sayonara kepada
abad ke-2O dengan segala kenangan manis dan pahit yang menyertainya. Secara
global, abad ini, sebagai kelanjutan dari dua abad sebelumnya, telah mencatat
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang sangat spektakuler, sekalipun
dari sisi moral, umat manusia malah mengalami degradasi yang makin parah.
Muhammadiyah menyadari kondisi pincang ini sedalam-dalamnya dan berpikir keras
tentang cara-cara mengatasinya. Bangsa Indonesia yang berada di simpang jalan
dunia juga tak bebas dari arus global yang serba pincang itu: iptek terus
mencuat sementara persepsi manusia tentang moral makin redup dan kelabu.
Menyadari betapa kritisnya situasi peradaban manusia, Muhammadiyah dalam agenda
muktamarnya juga akan membicarakan masalah besar ini. Muham- madiyah melihat
abad yang akan datang tak boleh dibiarkan terpuruk lebih dalam lagi ke lembah
kerancuan moral. Oleh sebab itu, sebagai langkah awal ia memandang bahwa bangsa
Indonesia haruslah menjadi contoh dari keanggunan moral, satu situasi yang
masih amat jauh dari rea]itas. Bangsa ini masih labil dalam moral. Korupsi
tidak makin berkurang, malah makin akut. Orang tak malu-malu, misalnya, memeras
dan mempermainkan uang jemaah haji hingga mengundang penderitaan demi
penderitaan. Dalam skala yang lebih besar, sudah beberapa kali bangsa ini
dikejutkan oleh pem- bobolan uang bank melalui kolusi dengan oknum tertentu.
Kejadian itu berulang dan berulang dari masa ke masa. Belum lagi jika kita
berbicara tentang budaya salah urus dan salah pasang dalam sistem birokrasi
kita yang masih rentan dan lemah. Hampir saban tahun kita dihadapkan kepada
krisis semen dan tahun ini muncul pula krisis kertas. Tahun depan kita tak tahu
krisis apa lagi yang akan menggoncangkan masyarakat konsumen.
Apa yang tampak di permukaan ini sebenarnya berasal dari suatu endapan budaya
bangsa yang sedang sakit. Dengan kata lain, dalam kaitan dengan diskusi kita,
Islam belum berhasil meletakkan dasar-dasar moral yang kukuh bagi bangunan
bangsa ini. Kita sebut Islam karena pertimbangan praktis saja. Berdasarkan data
sosiologis, mayoritas rakyat Indonesia memeluk Islam. Dari kenyataan ini, kita
tak tahu apakah dengan model penataran P4 moral bangsa ini akan dapat
diperbaiki. Sebenarnya, bukan Pancasila saja yang dipertaruhkan sebagai panasea
(penawar) bagi moral bangsa. Islam pun akan dihadapkan kepada ujian-ujian berat
di masa depan, menghadapi masyarakat industri yang belum pernah dialami oleh
semua bangsa muslim di muka bumi. Akan berjayakah Islam memberikan arah moral
kepada peradaban industri dengan segala bentuk moralitas yang menyertainya?
Akankah Islam mengalami nasib seperti nasib kakak-kakaknya, agama Yahudi dan
agama Kristen di Barat: menyerah kepada peradaban in- dustri?
Itu belum dapat kita jawab sekarang. Tapi setidaknya, Muktamar Muham- madiyah
ke-43 akan membicarakan masalah besar itu. Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah
dengan segala kekuatan dan keterbatasannya mengajak kita semua untuk berpikir
serius dan antisipatif dalam menghadapi serba kemungkinan di masa depan. Apakah
masa depan itu akan lebih berpihak kepada nilai kemanusiaan yang luhur atau
nilai itu akan dikorbankan demi iptek? Abad ke-21 akan memberikan jawaban
kepada kita.
|