|
Maarif Institute: Tolak undangan SBY |
|
|
|
|
Monday, 17 January 2011 |
|
JAKARTA - Para tokoh lintas agama yang diundang untuk berdialog dengan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diminta untuk jangan dulu
memenuhi undangan itu. Mereka harus fokus dalam gerakan pencanangan
tahun 2011 sebagai tahun perlawanan terhadap Kebohongan.
Demikian
menurut lembaga MAARIF Institute. "Saya pikir para tokoh agama ini
masih butuh waktu untuk menyerap aspirasi publik terkait data-data
kebohongan pemerintah," ujar Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif
MAARIF Institute, kemarin malam.
"Ada saat yang lebih tepat bagi
para tokoh agama untuk menyampaikan langsung kepada pemerintah jika
dirasa data-data dari publik sudah terinventarisasi", lanjut Fajar.
Presiden mengundang sejumlah tokoh agama ke Istana Negara, Senin 17
Januari 2010. Di antara tokoh yang diundang adalah mantan Ketua Umum PP
Muhammadiyah, Syafii Maarif dan Ketua Perhimpunan Gereja Indonesia,
Andreas Yewangoe.
Pada Senin 10 Januari 2011 lalu, sejumlah LSM
dan tokoh lintas agama, yakni Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin,
Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr Martinus Situmorang,
Andreas Yewangoe, Buya Syafii Maarif, Franz Magnis Suseno, KH Salahuddin
Wahid, dan Biku Sri Pannyavaro, berkumpul di gedung dakwah PP
Muhammadiyah.
Mereka membuat pernyataan sikap dan mengkritik
pemerintah telah melakukan banyak kebohongan publik. Mereka mengingatkan
9 kebohongan lama pemerintah dan sembilan kebohongan baru. Karena itu,
mereka mencanangkan tahun ini sebagai tahun perlawanan terhadap
kebohongan dan pengkhianatan.
|