|
Ahmad Syafii Maarif
Kompas, Sabtu, 15 Januari 2011
Sabtu pagi, pada hari Natal, 25 Desember 2010, di perumahan Nogotirto Elok 2, Yogyakarta.
Ketika
saya lagi istirahat dari olahraga sepeda di sebuah pos ronda, dari
jarak yang tidak jauh terdengar suara penjaja barang dagangan bernama
Tarmudi (54): ”Keset, sapu, sulak.”
Saat mendekati pos ronda, Tarmudi saya tanya, ”Apakah ada keset yang bagus?”
Dijawab,
ada dua jenis, harga Rp 5.000 dan Rp 8.000 yang terbaik. Saya membeli
keset dan membayar Rp 10.000, kelebihannya yang Rp 2.000 tidak perlu
dikembalikan. Rute perjalanan Tarmudi adalah ini: berangkat pagi dengan
bus dari Muntilan ke Terminal Jombor (Sleman). Pulang sore dari Terminal
Giwangan (Yogyakarta) ke Muntilan.
Saya tak bertanya sudah
berapa lama kerja keras serupa ini dijalaninya. Boleh jadi sudah
tahunan. Dalam dialog singkat itu juga tak sempat saya ketahui apakah
rumahnya diguyur lahar Merapi, panas atau dingin, yang sempat membuat
Muntilan kota mati. Beban berat harus dibawanya. ”Demi mencari makan,”
ujarnya, sambil meraba perut.
Dengan sisa uang Rp 2.000 itu, Tarmudi senang sekali. Katanya, untuk
tambahan beli jajan. Kemudian dia terus berlawalata dari kampung ke
kampung, berjam- jam saban hari. Entah berapa kilometer dia harus
menggunakan kakinya yang beralaskan sandal jepit itu menjunjung barang
dagangannya yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Bagi Tarmudi, si rakyat
kecil, rupiah demi rupiah yang dikumpulkan sungguh berharga.
Modal
dagangannya Rp 300.000. Jika laku semua, keuntungan kotornya sekitar Rp
50.000. Dipotong biaya transportasi dan jajan, sisa yang dibawa pulang
hanya berkisar Rp 30.000. Sekiranya berlawalata 30 hari per bulan,
rezeki yang diperoleh hanyalah Rp 900.000. Keringat dan tenaga yang
dikerahkan tidak dihitung. Jika jatuh sakit, tentu semuanya menjadi
kosong. Untung ada seorang anaknya yang ikut kerja bangunan, demi
meringankan beban bapaknya yang usianya kian lanjut.
Stamina rakyat kecil
Di
sejumlah daerah di Nusantara, kita bisa menemukan manusia tipe Tarmudi
ini. Berupaya melangsungkan kehidupan dengan berdikari, pantang jadi
pengemis, sekalipun hasilnya mungkin lebih besar. Dalam serba kekurangan
dengan pakaian lusuh, Tarmudi tetap menjaga harga diri, menapaki
kehidupan, berjualan dengan beban berat yang bertengger di kepalanya.
Dengan
serbuan toko-toko swalayan ke kampung-kampung dan desa-desa sebagai
bagian sistem ekonomi neoliberal, nasib penjaja seperti Tarmudi akan
semakin tak tertolong. Jenis dagangan Tarmudi tersedia semua di pusat
perbelanjaan neoliberal yang berlawanan 100 persen dengan seluruh nilai
Pancasila itu. Tetapi siapa yang masih peduli dengan serbuan pasar yang
mematikan kehidupan rakyat kecil ini? Jika kecenderungan buruk semacam
ini tidak dibendung kekuatan nasionalisme dalam tempo dekat ini,
pemerintah jangan lagi berbicara sebagai pembela rakyat kecil.
Tarmudi-Tarmudi lain yang jumlahnya puluhan juta pasti akan semakin
kehabisan energi, terkapar dilindas sistem ekonomi yang antirakyat ini.
Bagaimana
dengan puluhan juta penganggur pedesaan yang kondisi kehidupannya jauh
di bawah Tarmudi? Jawabannya sangat gamblang: di ujung lorong sana,
kematian secara pelan-pelan sedang menanti. Atau mereka menyerbu kawasan
perkotaan untuk mengadu nasib dalam pertarungan hidup yang sangat
kejam. Sebagian besar pasti terkapar. Bab XIV UUD 1945, Pasal 33 (asli)
tentang Kesejahteraan Sosial, sudah lama tak dijadikan acuan membangun
sistem perekonomian yang kian dirasakan tak berpihak ke rakyat kecil.
Untuk
menyegarkan bunyi dan ruh Pasal 33 itu, di bawah ini saya turunkan
selengkapnya. (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas dasar
asas kekeluargaan. (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara
dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. (3)
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Pasal
inilah sebenarnya yang dapat membentengi bangsa dan negara ini agar
tidak ditelan oleh arus kuat neoliberalisme yang kini sedang dijalankan
oleh pemerintah kita.
Protes-protes dari kekuatan prorakyat
seperti tak berdaya. Namun, Anda jangan salah baca. Arus bawah justru
semakin kuat, tinggal menunggu peluang untuk membalikkan jalan sejarah
ke arah yang benar. Semoga tetap dalam bingkai konstitusi dan tanpa
pertumpahan darah.
Dalam pembicaraan saya dengan berbagai
kalangan, sipil dan militer, semuanya sangat resah dengan situasi kita
sekarang yang semakin menjauh dari nilai-nilai Pancasila atas nama
pembangunan. Kelemahan kekuatan pro- rakyat ini adalah karena mereka
belum mampu menyatukan barisan. Namun, pengalaman pahit kita dalam
berbangsa dan bernegara sejak Proklamasi mengatakan bahwa perubahan
pasti datang jika tiga syarat terpenuhi: (1) pemerintah semakin
kehilangan legitimasi moral dan sosial, sekalipun masih mengantongi
legitimasi konstitusional via pemilu yang diduga kuat tak jujur; (2)
jika harga-harga keperluan hidup sudah tidak terjangkau lagi oleh
sebagian besar rakyat; (3) munculnya kepemimpinan nasional yang lebih
dipercaya.
Dalam dua-tiga tahun mendatang, perlu dicermati,
apakah ketiga syarat itu semakin terpenuhi atau masih bisa dipoles
melalui berbagai cara, tetapi untuk jangka panjang akan menggiring
bangsa dan negara ini pada situasi kehilangan kedaulatan di tangan
agen-agen asing yang tunamoral.
Seorang Tarmudi dan puluhan juta
anak bangsa yang lain dalam kesehariannya yang serba kurang tentu tetap
berharap dan berdoa agar kedaulatan negeri ini jangan sampai digadaikan,
sebab itu adalah sebuah pengkhianatan yang tak termaafkan. Ahmad Syafii Maarif Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah
|