|
Agama adalah sumber ajaran moral yang berkewajiban mendorong perbaikan sebuah bangsa. Kira-kira semangat ini yang melatarbelakangi pertemuan tokoh lintas agama dalam kondisi Indonesia yang semakin terpuruk ini. Senin (10/1) di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, para tokoh lintas agama bersama sederet tokoh-tokoh muda, seperti Effendy Ghazali, Fajar Riza Ul Haq, Yudhi Latif, Romo Benny Susetyo, Ray Rangkuti mencanangkan tahun 2011 sebagai tahun perlawanan terhadap kebohongan. Dalam acara siang itu turut hadir pula para aktivis LSM, akademisi dan jurnalis, baik media cetak atau elektronik. Menurut Effendy Ghazali, selaku moderator, agenda ini bertujuan untuk menyampaikan tuntutan agar pemerintah tidak membohongi publik dengan berbagai janji yang sering tidak dipenuhi. Tuntutan tersebut tertuang dalam pernyataan publik yang disampaikan oleh Romo Benny Susetyo, dengan tajuk “Tahun 2011, Tahun Pencanangan Perlawanan Terhadap Kebohongan; Pengkhianatan Harus Segera Dihentikan”. Dalam kesempatan itu, segenap tokoh yang hadir menyampaikan sembilan fakta kebohongan lama dan Sembilan fakta kebohongan baru rejim SBY.
Tokoh lintas agama, yang terdiri dari Ahmad Syafii Maarif, Pdt. Andreas A Yewangoe, Din Syamsuddin, Djohan Effendi, Mgr. D Situmorang, Bikkhu Pannyavaro, Shalahuddin Wahid, I Nyoman Udayana Sangging, Franz Magnis Suzeno, dengan cukup tegas menyampaikan kritik pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam penilaian tokoh-tokoh agama tersebut, rezim SBY banyak melakukan kebohongan dengan mengumbar janji-janji perbaikan, padahal faktanya janji-janji tersebut tidak pernah dipenuhi.
Selama ini rejim SBY tidak pernah mau mendengar masukan dari rakyat bawah apalagi memperhatikan kesejahteraan rakyat, sehingga perbaikan pada bangsa ini berjalan sangat lamban. Buya Ahmad Syafii Maarif telah berulangkali menegaskan, "Pemerintah –dari tingkatan Presiden hingga Wali Nagari/Kepala Desa– harus pandai memasang telinga ke bumi".
Pendeta Andreas A. Yewangoe memberi penegasan, "para pemuka agama harus menyuarakan keadilan dan mengingatkan pemerintah untuk melakukan kewajibannya memperbaiki kehidupan masyarakat kea rah yang lebih baik". Selain itu, pemerintah diharapkan mau mendengarkan kritik dan koreksi yang disampaikan oleh tokoh-tokoh agama. "Jika para tokoh agama saja sudah tidak didengarkan oleh pemerintah, lalu siapa sebenarnya bangsa ini?", ungkap Buya Syafii Maarif dalam pertemuan tersebut.
Selain itu, Mgr. D Situmorang juga ikut menegaskan sikapnya, bahwa dirinya sebagai pemuka agama akan berusaha segenap tenaga mengajak umatnya untuk memerangi segala bentuk kebohongan. "Kami setuju dengan misi ini. Makanya kami akan berikan kontribusi sesuai dengan peran kami. Kami adalah pemuka umat, makanya kami ajak umat," tegasnya. Dengan menolak kebohongan, agama menjadi penggerak nilai dan moral sehingga mampu melahirkan masyarakat yang lebih baik.
|