|
Pernyataan Terbuka Tokoh-tokoh Lintas Agama |
|
|
|
|
Tuesday, 11 January 2011 |
|
Sebagai negara kepulauan terbesar di muka bumi dengan anak suku bangsa dan tradisi yang beragam dan sangat kompleks, sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Adil karena masih bisa bertahan dalam sebuah keutuhan entitas negara-bangsa. 66 tahun sudah bangsa ini menyatakan kemerdekaanya sejak dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Dalam Mukaddimah UUD 1945, cita-cita kemerdekaan bangsa ini telah sangat jelas tersurat; merdeka yang sebenar-benarnya dengan mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Namun hingga detik ini, kantong-kantong kemiskinan masih dengan sangat mudah ditemukan di setiap jengkal tanah air. Maraknya pengrusakan lingkungan dan pelanggaran HAM menyebabkan kemiskinan kian akut. Sistem ekonomi neo-liberalisme yang dengan percaya diri dijalankan oleh pemerintah ini ternyata telah gagal meskipun pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,8 persen. Rakyat kecil tidak pernah merasakan keadilan dari pertumbuhan ekonomi yang semu tersebut. Ini sangat jelas berlawanan dengan tuntutan Pasal 33 UUD 1945 (asli).
Karena itu, kami setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tidak lagi berada pada jalur UUD. Kecenderungan pasar bebas tanpa kendali dalam sistem ekonomi kita adalah sebuah pengkhianatan terhadap Mukadimah UUD 1945. Hal ini diperburuk oleh sikap pemerintah yang masih mengedepankan pencitraan dan terindikasi berpura-pura (tidak satu antara kata dan perbuatan) dalam menegakkan hukum dan HAM, memberantas korupsi, menjaga lingkungan hidup beserta kekayaan negeri ini.
Bagi kami, kenyataan ini merupakan sebuah pengkhianatan yang harus cepat dihentikan. Kami menghimbau kepada semua elemen bangsa, khususnya pemerintah, untuk menghentikan segala bentuk kebohongan publik yang melukai nurani keadilan masyarakat. Marilah kita canangkan tahun 2011 ini sebagai tahun perlawanan terhadap kebohongan.
Kami yang menyatakan,
1. Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif
2. Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe
3. Prof. Dr. Din Syamsuddin
4. Mgr. D. Situmorang
5. Bikkhu Pannyavaro
6. K.H. Shalahuddin Wahid
7. I Nyoman Udayana Sangging
|