|
Dalam rangka meneguhkan komitmen kebangsaan dan kemanusiaan dalam konteks diseminasi wacana pemikiran Islam dan Sosial, MAARIF Institute for Culture and Humanity pada Rabu siang (15/12) meluncurkan Jurnal MAARIF Volume 5 No.2 tahun 2010. Acara peluncuran dilakukan di Auditorium Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jl. Menteng Raya No. 62 Jakarta Pusat. Dalam acara itu juga dilangsungkan diskusi mengenai tema besar yang sama, yang diangkat dalam jurnal MAARIF edisi kali ini yaitu tentang ‘Kekerasan dan Rapuhnya Politik Multikultural Negara’. Dalam diskusi yang dipandu oleh Muhd, Abdullah Darraz ini, hadir sebagai narasumber yakni Dr. Asvi Warman Adam (Sejarawan dan Peneliti LIPI), Radhar Panca Dahana (Budayawan) dan Usman Hamid (Ketua Badan Pengurus KontraS).
Acara peluncuran jurnal ini dihadiri oleh beberapa tokoh nasional, diantaranya Romo Franz Magnis Suseno, Jacob Tobing, dan juga mantan Menteri Kesehatan RI Ibu Siti Fadilah Supari. Pada sesi pengantar, pendiri MAARIF Institute for Culture and Humanity, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif atau biasa disapa Buya Syafii menyampaikan kritiknya pada pemerintah republik ini yang dirasa kurang fokus pada persoalan yang membelit rakyat Indonesia. Sehingga dikhawatirkan, bangsa ini akan terus terseok-seok dalam kubangan persoalan kebangsaan yang sangat mungkin akan menganggu proses demokratisasi yang tengah berjalan. Buya Syafii juga menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap semakin maraknya peristiwa kekerasan yang terjadi belakangan ini.
Jurnal MAARIF edisi kali ini menyuguhkan tulisan dari beragam perspektif perihal ‘Kekerasan dan Rapuhnya Politik Multikultural Negara’. Beragam perspektif ini sejalan dengan latar belakang penulisnya yang terdiri dari akademisi, peneliti, aktifis, Budayawan-seniman, Agamawan dan juga aktifis yang concern pada kerja-kerja advokasi di lapangan. Sekedar menyebut, diantara penulis yang tampil pada edisi kali ini antara lain Donny Gahral Adian (Pengajar filsafat politik UI), Wahyudi Akmaliah Muhammad (Peneliti LIPI), Radhar Panca Dahana (Budayawan), Romo Franz Magnis Suseno (Agamawan) dan masih banyak lagi.
Jurnal yang terbit berkala selama dua kali dalam setahun ini, selain bertujuan memberikan ruang diseminasi wacana pemikiran Islam dan Sosial, juga diperuntukkan sebagai perwujudan nyata engagement MAARIF Institute for Culture and Humanity sebagai lembaga pengkajian dan juga lembaga transformasi ide serta gagasan dalam bentuk praksis gerakan advokasi dan politik pemihakan. Diharapkan, MAARIF Institute tidak hanya bergerak dalam tataran praksis namun kosong pijakan teoritis, akan tetapi juga senantiasa mendasarkan segala kerja-kerja advokasinya dengan berbasis pada kajian-kajian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Akhirnya, melalui Jurnal MAARIF ini, MAARIF Institute for Culture and Humanity berikhtiar untuk benar-benar bisa memadukan spirit scholarship dan activism pada setiap program yang digarapnya.
Selain meluncurkan Jurnal dan diskusi ihwal ‘Kekerasan dan Rapuhnya Politik Multikultural Negara’, pada kesempatan ini pula, secara resmi MAARIF Institute for Culture and Humanity menyampaikan kepada publik melalui pernyataan persnya tentang refleksi tahun 2010. Pada refleksi akhir tahun ini, MAARIF Institute for Culture and Humanity menyoroti peristiwa dan pola kekerasan yang terjadi sebagai Anomali Demokratisasi. Dalam pernyataannya, MAARIF Institute for Culture and Humanity sebagai bagian dari kekuatan sipil mendesak pada beberapa pihak untuk segera bertindak dalam rangka merespon tindak kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. [MI]
|