|
Jumat, 20 Agustus 2010
Judul : Melayani Umat:
Filantropi Islam dan Ideologi Kesejahteraan Kaum Modernis
Penulis : Hilman Latief
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 1, Juli 2010
Tebal : 344 halaman
Harga : Rp55.000,-
Bulan Ramadan telah tiba, ini merupakan tonggak utama dari realisasi
filantropi, kedermawanan, dalam masyarakat muslim. Tidak mengherankan,
Ramadan merupakan salah satu momen puncak yang berlangsung sebulan penuh
untuk peningkatan amal ibadah.
Bukan hanya ibadah puasa, tetapi juga untuk ibadah yang bersifat
filantropis, yang diwujudkan dalam berbagai bentuknya, sejak dari
pemberian makanan untuk berbuka bagi kalangan masyarakat muslim yang
membutuhkannya sampai kepada berbagai bentuk kedermawanan lainnya.
Buku berjudul Melayani Umat: Filantropi Islam dan Ideologi
Kesejahteraan Kaum Modernis ini hadir membawa pesan ihwal seluk-beluk
filantropi islam di negeri ini, serta dielaborasikan penerangan sentuhan
kemodernisan dalam perkembangannya.
Dengan ekses positif kultur dan struktur yang “berideologikan”
kesejahteraan umat, buku ini mengurai rumusan visi kesejahteraan
perserikatan Muhammadiyah dalam memasuki “babak baru”
perjuangannya,dengan doktrin wacana.
Kebijakan, praktik, proses mobilisasi yang lebih segar serta
dilematisasi di dalamnya. Dijelaskan, meningkatnya angka kemiskinan
dewasa ini merupakan indikator paling nyata dari ketidakadilan dan
ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia.
Anehnya, pundi-pundi pendapatan lembaga-lembaga filantropi Islam di
Indonesia justru seakan berpacu seiring lajunya angka kemiskinan.
Sebagian kalangan masih berharap bahwa aktivisme filantropi yaitu
kegiatan komunitas yang tujuannya meningkatkan kualitas hidup
masyarakat, di antaranya melalui kegiatan melayani umat sebagai hakikat
murni bentuk pencurahan diri melayani Tuhan dan ekspresi-ekspresi
kesalehan sosial lainnya dapat memberikan kontribusi pada peningkatan
taraf hidup masyarakat miskin.
Tren filantropisme Islam di Indonesia jelas terus meningkat, seiring
dengan peningkatan taraf peningkatan ekonomi kaum muslim. Begitu juga
dengan kegiatan yang dibawahi Muhammadiyah yang secara modernis ikut
meningkatkan kiat kepedulian dan kedermawanan umat terhadap kaum duafa.
Hilman menerangkan bahwa peningkatan realisasi filantropisme Islam itu
mendorong kemunculan kian banyak lembaga pengumpul dan pendistribusi
dana filantropisme Islam.
Tentunya, kredibilitas dan akuntabilitas sebagai asas modern merupakan
modal utama trust terhadap lembaga ini. Selanjutnya, dalam dekadensi
itu, lembaga filantropi Muhammadiyah dinilai semakin bergerak maju,
sesuai esensi awal cita-cita dan tujuan pendirian organisasi tersebut
oleh KH Ahmad Dahlan. Ini begitu berdampak positif bagi perkembangan
moral kepedulian dan solidaritas masyarakat kita.
Bagi saya, buku ini menganjurkan agar seyogianya lembaga-lembaga
filantropi Islam di Indonesia bisa mentransformasikan dirinya menuju
paradigma filantropi untuk keadilan sosial. Menafikan peran negara yang
terus-menerus dirundung kemelut multidimensi.
Peresensi adalah Muhammad Bagus Irawan, mahasiswa IAIN Walisongo,
Semarang.
Sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=60381
|