|
Oleh Ahmad Syafii Maarif
Kamis,
29 Juli 2010. Dalam usia senja dengan kepala tujuh, ada perasaan gundah
yang bergayut di otak saya jika bepergian jauh sebatang kara.
Tiga
jenis bayangan nasib malang yang mungkin berlaku: sakit, dirampok, dan
tersesat.
Alhamdulillah, kejadian pertama dan kedua belum pernah
dialami. Jika sakit, paling-paling sakit perut dan gatal di kaki karena
alergi cuaca dingin. Adapun tersesat di jalan, kejadian di Muenchen yang
akan saya ceritakan ini bukan yang pertama dialami, padahal dengan
berjalan kaki lagi.
Dalam perkara ingat-mengingat alamat jalan
dan tempat, boleh jadi IQ saya di bawah sopir Maarif Institute, Bung
Irman. Di Jakarta yang serba macet, teman yang satu ini sangat menguasai
jalan-jalan tikus agar cepat tiba di tempat tujuan. Sekali Bung Irman
mengenal sebuah alamat atau lokasi mungkin seumur hidup tak akan
dilupakannya. Tak tahu bagaimana dahsyat saraf otaknya bekerja untuk
mengingat tempat-tempat tertentu, sekalipun baru sekali didatangi. Kita
tidak boleh pandang enteng seorang sopir yang belum tentu berpendidikan
tinggi. Ada saja kelebihan seseorang yang harus dihargai, apa pun
posisinya.
Demikianlah, sore pada tanggal di atas setelah rampung
berseminar dengan tema ”Religious Pluralism: Islam and Christianity in
the 21st Century” di Eden Hotel Wolff, Jalan Arnulfstr 4, saya harus
berjalan ke suatu tempat. Demi memenuhi permintaan anak untuk mencarikan
alat canggih yang bernama Apple Ipad, saya bergerak ke arah timur dari
Hotel Excelsior di jalan SchuzenstroBe 11, sebuah nama jalan yang
beberapa kali saya baca, tetapi tidak pernah hafal.
Toko Apple Ipad yang kabarnya hanya satu-satunya di Muenchen tidak
terlalu jauh dari hotel, sekitar seperempat jam berjalan kaki. Dengan
optimisme petunjuk pihak hotel segera saya ikuti. Biasa, semua dokumen
perjalanan dan sangu tak lepas dari badan. Sebagian disimpan di saku
jas, yang lain dalam tas sederhana kecil yang dulu dibeli di Vatikan.
Sekalipun
sudah sedikit mengerti arah tujuan, sebagai orang yang agak buta peta,
saya sering bertanya di mana toko
itu. Mereka yang ditanya dengan
sangat ramah ala Jerman menunjukkan. Tetapi toh saya tak kunjung
menemukan, bahkan telapak kaki ini ternyata telah menggelandang terlalu
jauh ke timur, di tengah arus manusia dari berbagai bangsa sore itu
memenuhi trotoar. Saya melihat banyak sekali muka Arab, lelaki dan
perempuan bersama anak-anak mereka.
Setelah berlalu sekitar 30
menit saya berbalik arah untuk mencari Apple Ipad itu. Itu pun dengan
bertanya. Saat itu sinar matahari sudah mulai meredup sebagai tanda
menjelang malam. Pada jam 20.00 toko yang dicari baru ketemu, tetapi
tidak lagi menerima tamu karena sudah jam tutup. Saya paksakan masuk
sekadar ingin tahu apa itu Apple Ipad dan berapa harganya. Kata anak
saya, jika harganya 500 tidak usah dibeli karena kemahalan. Ternyata
harganya ? 499 (sekitar Rp 5.788.400). Dengan angka yang jauh di atas
500 tentu telah menyelamatkan kaki tua saya untuk tidak berlawalata lagi
ke toko itu keesokan harinya.
Saatnya
kembali ke hotel. Sambil
melangkah ke barat, di perjalanan saya bertemu
warung makan Turki yang
menjual
kebab yang terkenal itu. Terbaca di situ tulisan
Arab ”math’am
halâl” (warung makan halal), langsung saya tanya
harganya. Sambil
bercanda penjualnya menjawab, ”One million euro (satu juta euro)” untuk
harga yang hanya tiga euro (sekitar Rp 35.000).
Tersesat
Langkah
selanjutnya terus diayunkan ke arah barat, sementara bawaan telah
bertambah, kebab yang cukup mengenyangkan. Makin jauh berjalan makin tak
ketemu hotel. Padahal jika cukup awas, setelah melewati lingkaran air
mancur yang sudah saya tandai sebelumnya, semestinya bila berbelok agak
ke kiri pasti cepat sampai ke tujuan. Tetapi karena saya terus saja
melaju lurus, maka terjadilah apa yang terjadi: tersesat. Saya bertanya
kepada orang yang lalu lalang, hampir tidak ada yang tahu di mana hotel
kecil yang sangat rapi itu. Ringkas cerita, bertemu dengan dua anak muda
Jerman untuk saya tanyai. Dengan sikap ingin menolong, peta kota di
HP-nya dibuka. O, ya, dekat stasiun pusat kereta api.
Karena
tungkai yang dipakai sudah lebih dari 70 tahun, cepat merasa lelah di
senja itu, saya cari taksi. Sopirnya ternyata seorang kelahiran Yunani,
mungkin sudah menjadi warga negara Jerman. Saya tunjukkan alamat hotel,
dia
mengangguk tanda kenal. Sekitar 15 menit hotel yang ”hilang” itu
akhirnya ketemu. Ongkos taksi dua kali harga kebab. Kebab pun sudah
dingin, tetapi dialog dengan sang sopir cukup menarik. Ketika nama
Sokrates, Plato, dan Aristoteles saya sebut, pembicaraan kami
bersambung.
Dengan kalimat ringan sahabat sopir ini berkata,
”Dulu bangsa Yunani hebat, tetapi kemudian mereka menjadi stupid
(bodoh),” sebuah pengakuan yang sangat jujur kepada bangsanya sendiri.
Oleh sebab itu, Anda jangan pandang rendah seorang sopir atau siapa pun.
Sopir
satu ini jelas cepat menyambung saat saya menyebut nama para
filsuf yang sangat melegenda itu. Lebih dari itu, sopir Yunani inilah
yang menyelamatkan saya di sore yang mulai gelap itu.
Ahmad Syafii Maarif Mantan Ketua Umum
PP Muhammadiyah
Sumber :http://cetak.kompas.com/read/2010/08/14/0339231/tersesat.di.muenchen
|