|
Kupang, MAARIF Institute. Ketiadaan sarana transportasi publik di kelurahan Kayu Putih kota Kupang, menjadi keluhan sebagian masyarakat setempat. Saat ini beberapa elemen masyarakat tengah memperjuangkan terciptanya sarana transportasi umum yang layak dan mudah dijangkau oleh masyarakat. Melalui Komunitas Diskusi MAARIF Kayu Putih, masyarakat mencoba menyusun strategi untuk memperjuangkan sarana tersebut.
Dengan difasilitasi oleh fasilitator MAARIF Institute, masyarakat setempat melakukan diskusi yang dilakukan pada hari Kamis (17/12) di salah satu rumah warga di kelurahan Kayu Putih. Keluhan ini sudah dirasakan sejak lama, mungkin sejak 10 tahun terakhir kebutuhan akan transportasi publik yang murah dan nyaman sudah dirasakan oleh masyarakat setempat.
Mochammad Said Mardjuki selaku fasilitator diskusi menjelaskan, selama ini jika ingin bepergian, masyarakat sering berjalan kaki hingga mendapatkan angkutan umum yang mengelilingi daerah kota Kupang. Sebagian lain ada yang menggunakan jasa ojek motor. Namun ongkos naik ojek jauh lebih mahal bila menggunakan transportasi publik seperti mobil angkutan umum. Berdasarkan hal tersebut, jelas bahwa keberadaan mobil angkutan umum sebagai transportasi publik menjadi kebutuhan yang nyata bagi masyarakat setempat.
Diskusi yang dihadiri oleh sekitar 10 anggota masyarakat tersebut memusyawarahkan strategi dan rencana yang akan dilakukan guna mensukseskan keberadaan transportasi publik di lingkungan mereka. Secara kongkret mereka menyusun sebuah tim ad-hoc yang bertugas untuk menghubungi pihak pemerintah setempat, dalam hal ini melalui Dinas Perhubungan kota Kupang.
Masyarakat setempat akan mencoba menuntut pihak Dinas Perhubungan agar menghadirkan trayek baru yang menghubungkan antara jalan-jalan di kelurahan Kayu Putih dengan trayek yang melewati terminal atau daerah kota Kupang. Namun meski mereka optimis bisa menghadirkan sarana transportasi angkutan umum, ada kekhawatiran-kekhawatiran tertentu yang muncul dalam benak mereka ketika berencana menghadirkan sarana transportasi publik.
"Kami khawatir rencana kami ini berbenturan dengan kepentingan para tukang ojek yang selama ini mengais hidup dari hasil jasa ojek yang mereka lakukan," tutur Said. Pada dasarnya para tukang ojek ini juga butuh penghidupan ekonomi bagi diri mereka dan keluarganya. Oleh karena itu, bila memang kebutuhan pengadaan trayek baru fasilitas transportasi umum itu diperlukan secara mendesak, maka jangan sampai mematikan sumber matapencaharian sebagian anggota masyarakat lainnya.
Pada diskusi tersebut, komunitas MAARIF Kayu putih berhasil membentuk sebuah tim kecil yang terdiri dari empat orang pemuda dari masyarakat setempat yang bertugas menyusun langkah-langkah strategis penanganan fasilitas transportasi publik ini. Mereka terdiri dari saudara Rocky selaku koordinator tim, dan dibantu oleh Yalet, Ramly, dan Yanto, masing-masing sebagai anggota tim. Tim ini akan mengusahakan penyampaian aspirasi kepada pihak pemerintah kota Kupang agar sesegera mungkin menghadirkan trayek baru dan angkutan umum di kelurahan Kayu Putih.
Pada minggu ketiga bulan Desember tahun 2009 yang lalu, tim ini berhasil menemui pihak Dinas Perhubungan kota Kupang dan melakukan audiensi untuk menyampaikan aspirasi sebagian warga masyarakat Kayu Putih. Mereka diterima oleh Bapak Polycarpus selaku Kepala Bidang Ijin dan Penyelenggaraan Trayek Dinas Perhubungan kota Kupang. Pada kesempatan tersebut, para anggota tim diterima dengan sangat baik dan penuh antusias olehnya.
Dalam kesempatan pertemuan itu, Polycarpus memaparkan bahwa sebenarnya ijin beroperasinya trayek angkutan umum yang melewati kelurahan Kayu Putih telah ada sejak tahun 1990-an. Namun karena alasan keamanan, maka para pemilik armada angkutan menghentikan pengoperasiannya. Paska kerusuhan Kupang pada tahun 1999, pengoperasian trayek ini akhirnya dihentikan karena alasan keamanan.
"Sebenarnya ijin trayek pada kelurahan Kayu Putih, line lampu 9 masih berlaku, namun ketiadaan jaminan keamanan membuat pemilik angkot enggan melalui trayek ini," ungkap Polycarpus. Setelah penghentian beroperasinya trayek ini, penyedia jasa ojek semakin banyak, dan dikhawatirkan akan terjadi masalah baru bila trayek ini dioperasikan kembali.
Ide awal mengoperasikan kembali trayek lampu 9 ini sebenarnya didorong atas desakan kepentingan kalangan pelajar dan mahasiswa yang sangat membutuhkan sarana transportasi murah dan nyaman yang bisa mengantarkan mereka beraktivitas di beberapa sekolah dan universitas yang dilalui oleh trayek Lampu 9 tersebut. Sebab selama ini mereka tidak mampu membayar ongkos ojek yang bisa menghabiskan uang sebesar Rp.5000,- sampai Rp.7000,- tiap harinya. Hal ini jelas akan memberatkan mereka selaku pelajar dan mahasiswa.
Dalam pertemuan tersebut tercetus beberapa alternatif solusi yang cukup moderat agar antara kebutuhan para pelajar dan mahasiswa pada angkutan umum dan kepentingan para tukang ojek dalam mempertahankan sumber mata pencarian mereka tidak berbenturan. Pertama, pengoperasian kembali trayek Lampu 9 tersebut, namun dengan catatan sebagian besar para peyedia jasa ojek motor dilibatkan sebagai supir atau kondektur angkutan umum trayek tersebut. Sehingga meskipun mereka tidak mengojek motor lagi, mereka masih tetap bisa mendapatkan uang dari hasil kerja mereka sebagai supir atau kondektur angkutan umum.
Kedua, pembuatan angkutan khusus bagi para pelajar dan mahasiswa yang disediakan oleh pihak sekolah dan universitas atas dukungan dari pihak pemerintah kota Kupang. Angkutan khusus ini khusus disediakan hanya untuk mengangkut dan mengantar jemput anak-anak sekolah dan para mahasiswa dengan menentukan jadwal pemberangkatannya. Jadi angkutan ini tidak akan ada setiap jamnya. Angkutan khusus ini hanya beroperasi pada jam-jam tertentu sesuai dengan kesepakatan dan jadwal yang ditentukan.
"Bapak Polycarpus sebagai pihak Dinas Perhubungan mengutarakan idenya tentang angkutan khusus bagi para pelajar dan mahasiswa, namun untuk langkah selanjutnya ia hanya menyerahkan pada kami," tutur Rocky yang berperan sebagai koordinator Tim.
Mendengar hasil kerja tim, seluruh anggota komunitas sangat terkesan namun yang menjadi permasalahan adalah, mengapa pihak Dinas Perhubungan tidak mau secara langsung menghubungi Bapak Walikota Kupang, agar angkutan khusus ini bisa segera direalisasikan. "Setelah mendengar keluhan dari perwakilan komunitas MAARIF Kayu Putih, pihak Dishub hanya menyarankan pada tim untuk bertemu langsung dengan Bapak Walikota Kupang," ungkap Rocky.
Hal ini menurut anggota komunitas diskusi, ada kesan bahwa pihak Dinas Perhubungan tidak mau mengambil langkah taktis-strategis dalam menyelesaikan masalah yang cukup penting ini. Meski demikian, tim yang telah dibentuk oleh Komunitas Diskusi MAARIF Kayu Putih tidak menyerah. Setelah melakukan audiensi dengan pihak dinas Perhubungan, mereka berencana mengumpulkan para pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa dari 3 universitas yang terkaait dengan masalah akses transportasi publik ini.
|