Fajar Riza Ul Haq
”Dalam
lingkar syahadat, Bawa Islam penuh rahmat, Ke Yogya kita kembali, Abad
ke-2 kita mulai.”
Sungguh petikan lirik Mars Muktamar
Ke-46 Muhammadiyah ini menegaskan jati diri, karakter, dan otentisitas
semangat zaman gerakan Islam yang didirikan Ahmad Dahlan 100 tahun lalu
itu di Kauman, Yogyakarta. Perhelatan akbar lima tahunan Muhammadiyah
yang digelar 3-8 Juli 2010 terasa sangat istimewa karena menandai babak
baru abad ke-2 organisasi ini.
Muktamar kali ini mengangkat tema
”Gerak Melintasi Gerak Zaman, Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama”.
Rangkaian tema ini membersitkan optimisme bahwa Muhammadiyah akan tetap
mengusung gagasan-gagasan kemanusiaan revolutif dengan berakar pada
tonggak iman yang kokoh.
Pencapaian usia satu abad merupakan hal
yang sangat monumental dalam sejarah gerakan Islam di Indonesia, bahkan
Asia Tenggara. Muhammadiyah telah menghadirkan pengaruh luar biasa dalam
perkembangan budaya masyarakat Indonesia, seperti terlihat pada
pengarusutamaan praktik shalat Idul Fitri di lapangan, memopulerkan
pendidikan Islam modern yang integratif, dan kepeloporan gerakan
emansipasi kaum perempuan di Tanah Air jauh sebelum wacana jender
menyeruak (Nashir, 2010). Inilah sosok Muhammadiyah yang dicatat sejarah
sebagai refleksi pembumian gagasan- gagasan pembaruan Islam di masa
lalu.
Lalu bagaimana membaca nasib Muhammadiyah di
masa depan? Ziauddin Sardar mendefinisikan masa depan adalah masa kini
(1986:234). Dalam perspektif futurolog Muslim kelahiran Inggris ini,
wajah Muhammadiyah di masa depan akan sangat berkorelasi dengan
orientasi dan proyeksi- proyeksi institusional yang dirumuskan pada masa
sekarang dalam konteks tantangan kesejarahannya. Dengan demikian, sudah
seharusnya Muktamar 1 Abad Muhammadiyah menjadi episentrum titik balik
spirit gerakan; kembali kepada jati dirinya sebagai gerakan pencerahan,
pencerdasan, dan kemanusiaan. Inilah api pembaruan Islam Ahmad Dahlan.