|
YOGYAKARTA - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Syafii Ma'arif
mengharapkan jangan dikatakan sekuler kalau orang muda pintar. Di
kalangan Muhammadiyah masih ada kalangan yang konservatif, sehingga anak
mu da yang pintar dan kritis di anggap sekuler.
Dulu ada
kalangan muda Muhammadiyah yang menjadi dosen di Gresik yang critical.
Karena mau menulis buku multikulturalisme maka dia tidak boleh mengajar.
Akhirnya dia malah ditampung oleh Universitas Paramadina, tutur Bu ya
Syafii . panggilan akrab Prof Dr Syafii Maarif . pada wartawan usai
sebagai Keynote Speech pada acara diskusi publik dengan tema
Muhammadiyah dan Buda ya Politik Kekuasaan: Penguatan Muhammadiyah
sebagai Civil Society pada abad II, di Aula PP Muhammadiyah Yogyakarta,
Kamis (22/4).
Menurut dia, orang yang konservatif itu karena tidak mengikuti
perkembangan. Mereka masih menggunakan paradigma-paradigma yang usang.
Karena itu Guru Bangsa ini mengharapkan agar tokoh-tokoh masyarakat
Muhammadiyah termasuk yang di Pimpinan Wilayah maupun Pimpinan Daerah
Muhammadiyah akrab dengan internet. Karena dengan internet merupakan
kesempatan kita untuk membaca secara gratis tentang perkembangan ilmu,
kata dia.
Diakui Buya Syafii, selama ini Muhammadiyah
konsentrasinya di bidang amal. Hal itu baik, tetapi di zaman sekarang
tidak cukup. Karena itu saya mengusulkan abad kedua Muhammadiyah dapat
menampilkan dirinya sebagai gerakan ilmu, ungkap dia.
Pakar
Sejarah ini juga berharap anak-anak muda Muhammadiyah dalam muktamar
yang tinggal sekitar dua bulan ini masuk dalam kepemimpinan PP
Muhammadiyah. Tanpa anak-anak muda yang pintar Muhammadiyah itu tidak
bergerak. Sebab dinamika anak muda yang mempunyai visi jauh ke depan,
kata dia.
Lebih lanjut dia mengemukakan kalau ditanya tentang
apakah orang Muhammadiyah rindu kekuasaan? Jawabannya memang. Selama ini
pucuk tokoh Muhammadiyah belum pernah ada yang berkuasa menjadi
pemimpin negara Republik Indonesia. Amien Rais gagal, Dien Syamsuddin
begini-begini saja, kata Buya Syafii yang diikuti tawa peserta diskusi.
Berbicara
tentang pluralisme dan multikulturalisme menurut Buya Syafii, itu
merupakan faham atau dok trin tentang kemajemukan dan kenyataannya ada.
Di kitab suci Alquran banyak sekali ayat yang menyatakan tentang berbeda
bahasa, suku bangsa, dan sebagainya. Namun orang Islam masih sering
mempermasalahkan hal itu karena mereka berada diposisi nadir
terbelakang. Keterbelakangan ini termasuk kebodohan dan kemiskinan.
Jadi,
orang yang berada di posisi bawah secara peradaban, teknologi,
kebodohan, pasti reaktif, defensif dan kadang-kadang ngawur. Oleh sebab
itu menurut saya, Islam itu kalau mau ikut mengarahkan peradaban, masuk
ke gelombang itu dan arahkan peradaban itu. Dan itu hanya bisa dilakukan
kalau orang Islam itu memahami kitab suci dengan baik dan tahu benang
merah Alquran, kata dia. neni r ed:heri
Sumber : http://koran.republika.co.id/koran/176/109406/Tanpa_Anak_Muda_Pintar_Muhammadiyah_Stagnan
|