PELUNCURAN & DISKUSI BUKU
"MUHAMMADIYAH GERAKAN PEMBARUAN"
Karya Dr. Haedar Nashir (2010)
MAARIF Institute, Jakarta, 23 April 2010, Masihkah Muhammadiyah berperan sebagai gerakan pembaruan? Masihkah Muhammadiyah merawat dan mengembangkan spirit pembaruan itu dalam jantung gerakannya? Atau justru kini Muhammadiyah telah kehilangan etos sebagai gerakan pembaharu? Ini adalah sejumlah pertanyaan mendasar mengenai masa depan eksistensi organisasi Muslim modernis ini dikala mencapai usia 1 abad. Dalam semangat menjawab problema ini pula seharusnya agenda Muktamar 1 Abad Muhammadiyah yang akan dihelat 3-8 Juli 2010 itu dirumuskan.
Muhammadiyah dilahirkan sebagai pelembagaan gagasan-gagasan besar pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, 12 November 1912. Sebagai pendiri organisasi Muslim modernis terbesar ini, diyakini ia telah banyak mewarnai pembaruan yang dilakukan Muhammadiyah sejak masa kelahirannya. Bukan hanya pada tataran pemikiran teoritis, pembaruan yang dilakukan oleh Muhammadiyah justru lebih terasa berada pada aspek praksis sosial Islam. Begitulah poin penting yang terangkum dalam buku “Muhammadiyah Gerakan Pembaruan (Suara Muhammadiyah, 2010)" yang ditulis Haedar Nashir, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Melalui buku ini, Haedar berupaya melakukan analisis terhadap eksistensi dan konsistensi Muhammadiyah yang telah melintasi kurun waktu 1 abad lamanya sebagai sebuah gerakan pembaruan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia Islam.
"Banyak ide-ide pembaruan yang telah ditelurkan oleh Muhammadiyah, seperti dalam pemikiran keagamaan, pembangunan karakter bangsa, dan dalam bidang sosial kemanusiaan", ungkap Haedar. Bahkan menurut Ketua PP Muhammadiyah ini, dalam perjuangan kesetaraan gender, Muhammadiyah bisa dianggap sebagai pelopor lahirnya "feminisme-Islam" di Indonesia, yang dibuktikan dengan berdirinya Aisyiyah pada 1917 sebagai pergerakan perempuan Islam pertama di Indonesia.
"Memang kita tak bisa memungkiri, pada masa awal keberadaannya, Muhammadiyah telah banyak melahirkan kerja-kerja mencerahkan bagi proses pencerdasan masyarakat Muslim Indonesia. Namun apakah tradisi pembaruan itu masih hidup? Atau malah tanpa sadar organisasi ini menuju ortodoksi yang dahulu dilawannya" ujar Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif MAARIF Institute. "Jangan sampai Muhammadiyah tenggelam di tengah kejayaan masa lalunya. Munculnya gejala Muhammadiyah sebagai “gerakan pengharaman” belakangan ini bisa menjadi pertanda serius. Saya kira inilah persoalan krusial yang harus dijawab Haedar melalui buku ini”, lanjut Fajar.
Keluarnya fatwa haram rokok dan kemudian disusul fatwa haram bunga bank konvensional yang baru-baru ini diputuskan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah merupakan salah satu bukti bahwa etos pembaruan Muhammadiyah sedang dipertanyakan. Alih-alih menelurkan gagasan besar bagi persoalan kebangsaan dan kemanusiaan dewasa ini, ia justru terkesan terpasung dalam kerangkeng tradisi kejumudan masa lampau dan hanya memikirkan persoalan-persoalan kecil yang tidak fundamental.
Buya Ahmad Syafii Maarif sering terlihat geram melihat pergerakan Muhammadiyah dewasa ini yang terasa rikuh dan kerepotan dalam menghadapi tantangan kebangsaan dan kemanusiaan dewasa ini. "Dimana peran Muhammadiyah dalam merespon masalah moralitas politik yang telah terkoyak di negeri ini? masalah korupsi sistemik yang telah membangkrutkan negara? Seharusnya inilah yang menjadi konsen Muhammadiyah, sehingga keberadaannya sebagai gerakan pembaruan bisa benar-benar dirasakan signifikansinya," tegas Pendiri MAARIF Institute itu.
Dalam konteks tantangan tersebut, buku karya Haedar Nashir ini layak diketengahkan dan dibedah dalam perbincangan publik. Peristiwa bersejarah Muktamar 1 Abad Muhammadiyah awal Juli nanti hanya akan berlalu tanpa terobosan bila ”etos pembaruan” mati suri dari jantung gerakan ini.
Demikian press release kami sampaikan dan terimakasih banyak atas kerjasamanya.
Hormat Kami,
Endang Tirtana
Manajer Operasional dan Komunikasi Publik
HP.: 0813.7428.3474
E-Mail:
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
|