|
Tuesday, 20 April 2010 |
|
MALANG- Novel Si Anak Kampoeng karya Damien Dematra kemarin dibedah di
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Novel yang berkisah tentang
perjalanan hidup Prof Dr Syafii Maarif ini dibedah oleh Guru Besar
Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr Joko
Saryono dan dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Drs Ajang
Budiman M Hum.
Selain mendapatkan kritikan dan masukan dari pembedah, sang penulis juga
dikritik oleh peserta bedah buku.
“Saya melihat kalau Mas Damien ini menulis tokoh yang terkenal saja,
apakah disengaja untuk numpang terkenal,” ungkap salah satu peserta.
Pertanyaan ini dijawab dengan senyuman oleh penulis yang juga pernah
menulis buku berjudul Sejuta Hati untuk Gus Dur ini. Novelis yang juga
sutradara ini menuturkan penulis memang bebas menulis apapun. Tapi untuk
menerbitkan buku maka yang harus dipilih adalah momentum.
“Walau karya kita bagus tapi momentumnya belum pas akan susah menembus
pasar, itu bukan nebeng tenar tapi itu adalah kejelian penulis,”
ungkapnya.
Ia mengakui buku yang menuliskan kisah Buya Syafii Maarif ini ditulis
menjelang Muktamar Muhammadiyah Juli mendatang. Karena itu rencananya
bedah buku ini akan dilakukan di lima kota yang terdapat perguruan
tinggi Muhammadiyah. Juga akan diikuti dengan launching film Si Anak
Kampoeng yang diadaptasi dari buku tersebut. Atas alasan itu pula, novel
setebal 248 halaman ini dibuat minim eksplorasi lingkungan. Keindahan
yang ditawarkan Kota Sumatera Barat tak disentuhnya dalam novel. Namun
akan digambarkan detil dalam film nantinya. Hal ini sempat mendapatkan
kritik dari pembedah, Joko Saryono. Dia menyayangkan novel yang bagus
ini terlalu atoposentris, yang hanya memfokuskan pada karakter tokoh
saja. Sehingga kesannya kurang ekologis jika dibandingkan dengan
daerahnya yang eksotis.
Dalam penuturannya, penulis berambut panjang ini mengakui hal tersulit
dalam membuat novel ini adalah pada risetnya. Sementara penulisannya
hanya digarap dalam waktu empat hari saja. “Untuk menulis novel ini
saya harus cinta dengan sosok Buya, jika tidak saya tidak bisa
mewujudkannya dalam bentuk tulisan,” tuturnya. Pria yang mulai menulis
karena kasus jatuhnya pesawat Adam Air ini sudah menerbitkan 58 novel
dan 55 skenario film sejak tahun 2006. Ia berharap karyanya bisa tetap
dikenang orang meskipun dirinya sudah tidak ada di dunia. Hasrat
menulisnya sangat tinggi, selain 58 novel yang sudah dipublish masih ada
puluhan karyanya yang dibuang begitu saja di tong sampah. (oci/mar)
sumber : http://malang-post.com/index.php?option=com_content&task=view&id=9653&Itemid=98
|