|
Oleh Dody Wisnu
Pribadi
Meski novel berjudul Si Anak Kampoeng yang
berwatak biografis tentang profil tokoh muslim Prof Dr Syafii Maarif
ditulis secara ringan, seperti literatur remaja (teen
literature/teenlit), novel ini bisa dibaca sebagai harapan di tengah
kekeringan tokoh pluralisme beragama di Indonesia. Kehadiran novel ini
pada generasi muda bermanfaat membantu membangun kontruksi dan pandangan
pluralistik (semangat menghargai perbedaan) pembacanya. Buya Syafii
patut dijadikan sebagai model panutan (role model).
Diskusi buku karya penulis muda, Damien
Dematra, ini menghadirkan sejumlah pembicara, yakni pengajar Bahasa
Indonesia pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UM), Dr
Djoko Saryono; pengajar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ajang
Budiman; dan penulisnya, Damien Dematra, di kampus UMM, Senin (5/4).
"Banyak
hal yang bisa dikritik dari buku ini, namun lebih tepat jika dilihat
buku ini sebagai bagian dari cara kita mengisi dahaga akan tokoh panutan
yang sudah kian langka," kata Djoko.
Novel berjudul Si Anak
Kampoeng dan subjudul Berdasarkan Kisah Buya Syafii Maarif, disebutkan
oleh penulisnya sebagai bagian awal dari pentaquel, atau lima seri
penulisan kisah biografis Syafii. Meski tidak ada titel bahwa ini adalah
kisah biografi resmi, Syafii Maarif sendiri berkomunikasi langsung
dengan penulisnya, ditampilkan berfoto bersama dengan penulisnya. Dengan
demikian, tampak sah sebagai versi resmi dari penjelasan Syafii.
Namun,
pembaca tidak akan menemukan kodifikasi pemikiran Syafii dalam buku ini
sebagai pemikir, terlebih dalam kapasitasnya sebagai guru besar dan
mantan pucuk pimpinan tertinggi organisasi sosial keagamaan,
Muhammadiyah. Terutama yang dikaitkan dengan posisi Syafii sebagai tokoh
Muslim pluralis, yang disetarakan dengan almarhum KH Abdurrachman
Wahid.
Citra pluralis diungkapkan oleh sejumlah tokoh agama
non-Muslim pada bagian terakhir buku pada bab berjudul Pendapat Mereka
tentang Buya Syafii Maarif, misalnya oleh filsuf Prof Dr Franz Magnis
Suseno.
Penulis menyebut keduanya (Buya dan Gus Dur) sebagai guru
bangsa, dan sepeninggal Gus Dur, kini Buya harus menanggungnya (peran
sebagai guru bangsa itu) sendirian. Kodifikasi pemikiran keagamaan, dan
terutama bagaimana keberagaman (pluralitas) rakyat Indonesia pada titik
kritisnya berjumpa dengan pemikiran fundamentalistik dalam Islam, tidak
dapat ditemukan dalam buku ini. Syafii Maarif dalam novel ini
dimunculkan sebagai "karakter" dalam narasi imajinatif seperti halnya
sebuah novel fiksi.
Djoko menyebut karya novel ini dengan istilah
faksi, modus baru yang sedang menggejala dalam pasar perbukuan di Tanah
Air, yang bermakna "fakta yang difiksikan".
"Akhir-akhir ini pasar
perbukuan di Tanah Air rajin sekali menjual faksi. Caranya dengan
menggali fakta, yang diolah oleh para penulis menjadi kisah fiksi,"
katanya.
Ini tidak mengherankan karena aneka kisah faktual di
Indonesia saat ini, mulai dari kejatuhan pemerintahan Orde Baru lewat
aksi massa, kisah perilaku bersenang-senang anak-anak penguasa, gurita
korupsi, peledakan bom, sekolah teroris, penyergapan oleh pasukan
antiteror, hingga bencana demi bencana.
"Juga kisah tentang
konspirasi kekuasaan yang melibatkan perselingkuhan dengan wanita cantik
persis seperti novel-novelnya Sidney Sheldon. Juga jual beli putusan
hukum, hakim yang tertangkap tangan membawa sekarung uang. Semua fakta
itu sudah merupakan bahan baku kisah yang begitu hebat, yang tak kalah
hebat dengan novel John Grissam sekalipun," ucap Djoko.
Tidak ada
imajinasi pengarang fiksi yang bisa mengalahkan kehebatan dan drama
kisah faktual itu, tambahnya, sehingga penerbit buku kemudian memutuskan
menjadikan fakta itu sebagai kisah. Pradana Boy ZTF, pengajar pada
Fakultas Agama Islam (FAI) menyebut karya Damien berada dalam genre
Laskar Pelangi, yang pernah merajai pasar perbukuan beberapa tahun
terakhir.
Penulisnya, Damien, yang kisah hidupnya diwarnai oleh
banyak bakat, sebagai sutradara 26 film, penulis 45 novel bahasa Inggris
dan Indonesia, 53 skenario film, fotografer dan 365 karya lukis,
menyebut karyanya amat dilatarbelakangi momentum, atau kesempatan yang
tidak banyak, yang menjodohkan antara ide dan pasar
sumber ; http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/07/16580497/Faksi.Buya.Syafii.Maarif
|