Apr 08 2010
Memutus Siklus Ketertinggalan Pembangunan PDF Cetak E-mail
Thursday, 08 April 2010

ImageMei, Sumedang. Komunitas diskusi di Kecamatan Ujung Jaya, Sumedang, menuntut perhatian pemerintah daerah dalam pembangunan fasilitas dan sarana pendidikan di daerah tersebut. Tidak tersedianya sarana pendidikan menyebabkan kualitas SDM masyarakat setempat sangat rendah. Banyak anak usia sekolah yang belum bisa menikmati bangku sekolah sehingga mereka tenggelam dalam penyakit buta huruf. Ketertinggalan pembangunan yang menimpa masyarakat Ujung Jaya jelas sangat mengkhawatirkan sekaligus mengundang keprihatinan, termasuk bagi Komunitas MAARIF Institute di Sumedang.

 

Supala, koordinator diskusi komunitas wilayah Sumedang menyatakan, tidak adanya sarana pendidikan setingkat SD, SMP, dan SMA di dusun Citalok, menuntut siswa-siswa sekolah untuk mencari sekolah yang tersedia di desa lain dengan jarak tempuh yang sangat jauh. Hal ini diperparah lagi oleh kondisi infrastruktur jalan yang tidak memadai, sehingga tidak ada fasilitas transportasi publik yang bisa menjangkaunya. "…Mereka dengan terpaksa harus berjalan 5 kilometer setiap harinya untuk bersekolah di desa lain," begitu ungkapnya. "Selama ini kami menggunakan masjid sebagai satu-satunya sarana pendidikan, itupun hanya terbatas mengajarkan pendidikan agama dalam bentuk ceramah dan pengajian," lanjut Supala.

Minimnya sarana pendidikan di lingkungan terpencil seperti di dusun Citalok ini secara terpaksa telah mengarahkan anak usia sekolah di dusun tersebut menjadi para pekerja anak, yakni sebagai buruh tani. "..ketiadaan sarana pendidikan setingkat sekolah SD, SMP, dan SMA telah membuat anak-anak di dusun ini menjadi malas untuk belajar. Mereka lebih banyak bekerja. Hampir rata-rata mata pencaharian masyarakat setempat adalah menanam padi dan berladang. Oleh karenanya anak-anak usia sekolah di sana banyak yang tidak mengenyam pendidikan dan malah disuruh untuk bekerja membantu orang tuanya…," begitu tegas Supala. "Jelas, hal ini merupakan sesuatu yang memprihatinkan, di tengah ramainya Pemerintah menggolkan APBN untuk pendidikan sebanyak 20%…" lanjut Supala.

Kondisi seperti ini jelas sangat memprihatinkan. "Kami mencoba membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. Selain itu juga, kami menandaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan adalah kewajiban negara bagi warganya. Oleh karena itu kita berhak meminta hak kita sebagai warga negara untuk mengenyam pendidikan," tegas Supala. Komunitas diskusi yang dicetuskan MAARIF Institute mencoba menciptakan ruang bagi masyarakat bawah untuk memperjuangkan hak-hak dasarnya sebagai warga negara. Diskusi komunitas yang diadakan di Sumedang pada bulan Mei tersebut menghadirkan para tokoh masyarakat Desa Sakurjaya, perwakilan aparat desa dan kecamatan, serta sejumlah warga dusun Citalok. "Dari seratus orang warga yang kami undang dalam diskusi komunitas tersebut, hampir setengahnya berpartisipasi dalam diskusi ini".

Ketidakberhasilan pemerintah daerah untuk menjamin ketersediaan fasilitas pendidikan direspon gerak inisiatif warga desa Citalok dengan berencana membangun madrasah dan TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Komunitas diskusi Sumedang mencoba menghimpun warga masyarakat dalam beberapa kali diskusi, dalam upaya memikirkan masalah sarana pendidikan di desa ini. Dalam empat kali diskusi yang diselenggarakan di masjid Muhajirin, tercetus rencana pembuatan sarana pendidikan dalam bentuk madrasah dan TPA. "Melihat potensi yang ada pada masyarakat setempat, kami memulai langkah pengadaan sarana pendidikan ini dengan menciptakan madrasah dan TPA, yang untuk sementara terkonsentrasi di masjid"

Namun hal itu merupakan langkah awal yang baru bisa dilakukan. Untuk selanjutnya, warga masyarakat akan mencoba bahu membahu mendirikan bangunan madrasah yang lebih utuh sebagai pusat bagi aktivitas pengajaran di dusun yang dihuni 85 kepala keluarga (KK) tersebut. Dalam diskusi kali keempat yang dilakukan, warga masyarakat menyepakati tentang pembebasan lahan bagi pendirian bangunan madrasah tersebut secara gotong royong. Pak Olot Sunnah, seorang sesepuh dusun Citalok menyatakan, "Kami berupaya mengumpulkan dana bersama untuk membebaskan sebidang tanah yang ada di dusun ini. Selanjutnya, kami berharap pemerintah bisa membantu dalam proses pembangunan sarana madrasah ini."

Sikap pemerintah yang kurang memperhatikan keberlangsungan proses pendidikan di dusun ini, membuat warga dusun Citalok berinisiatif melakukan pemberdayaan internal warganya, untuk menghadirkan fasilitas pendidikan secara bersama bergotong royong. Di tengah himpitan ekonomi yang menyulitkan, bagaimanapun juga, pendidikan bagi warga masyarakat harus terus diperjuangkan, agar anak-anak usia sekolah yang berada di dusun ini memiliki masa depan yang lebih cerah.

Kendala Infrastruktur

Ketidaktersediaan infrastruktur transportasi merupakan salah satu akar utama ketertinggalan pembangunan di daerah ini. Jarak yang jauh antara pemukiman penduduk dusun Citalok dengan sekolah yang tersedia, menjadi salah satu penyebab anak-anak di dusun tersebut tidak mau bersekolah. Hal ini diperparah lagi oleh kondisi jalan yang tidak memungkinkan dilalui oleh sarana transportasi publik seperti angkot atau kendaraan lain.

Dengan sangat terpaksa, beberapa gelintir siswa dari dusun harus kuat berjalan kaki setiap hari sepanjang 10 kilometer untuk mencapai lokasi madrasah setingkat SD yang terletak di Dusun Cikoang, Cibuluh, dan Cipinang Pait. "Setiap hari mereka harus berjalan hingga 10 kilometer dengan menyusuri hutan jati, demi mengenyam pendidikan mereka," tutur Pak Olot.

"Kami menghimbau para pemegang kebijakan di berbagai tingkat, agar membuatkan fasilitas pendidikan di daerah kami. Sehingga anak-anak warga di sini dapat mengenyam pendidikan secara layak. Selain itu, fasilitas jalan yang menghubungkan antar desa hendaknya segera dihadirkan",  pungkas Pak Olot.
 

Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 08 April 2010 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

PSP EasyVerb MAC
Bigasoft BlackBerry Video Converter
Adobe Dreamweaver CS5.5
Picture2Icon MAC
PDF Popup 1.0
Search and Replace
Adobe Indesign CS5.5 Student and Teacher Edition
Adobe InCopy CS5.5
Microsoft Excel 2010
Lynda After Effects CS5 New Creative Techniques
FileMaker Server 9 Advanced for Mac
AnotherPOS Pro for MAC