|
Masa kecil hingga
remaja mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif
ternyata sangat menarik. Tokoh bangsa yang lebih akrab dipanggil Buya
ini memiliki masa kecil yang indah dan mengharukan di sebuah kampung
bernama Calau, di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Back ground kultur
Minangkabau yang lekat, menambah dramatisasi kisah kecil Buya Syafii
yang ditulis dalam sebuah novel berjudul Si Anak Kampoeng
oleh novelis Damien Dematra. Novel setebal 248 halaman tersebut, adalah
satu dari lima novel sequel tentang otobiografi Buya.
Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF), melihat novel tersebut
sebagai karya sastra yang perlu dikaji lebih dalam lagi. Itulah
sebabnya, PSIF bekerjasama dengan Gramedia Pustaka Utama mengadakan
acara bedah novel tersebut, Senin (05/04). Acara itu menghadirkan sang
penulis Damien Dematra, dengan panelis Kepala Prodi Magister Sastra
Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Dr Joko Saryono dan Direktur PSIF,
Drs. Ajang Budiman, M.Hum.
Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Julian Ul Haq,
menyampaikan novel itu menjadi sebuah persembahan jelang Muktamar Satu
Abad Muhammadiyah.
“Novel ini menunjukan
bagaimana nilai- nilai Kemuhammadiyahan bisa sampai ke semua kalangan
dengan cara yang lebih menarik. Kalau selama ini kan, kita hanya membaca
lewat text book yang membosankan,“ tutur Fajar.
Diskusi
berjalan cukup seru. Ajang sebagai panelis pertama sangat terkesan
dengan penyampaian Damien tentang kecintaan Buya terhadap kedua orang
tuanya. Terlebih rasa cinta kepada Ibundanya yang telah wafat menjadi
hayalan yang cukup menyayat hati bagi para pembaca buku itu. Di sambung
dengan pendapat Joko, yang menyatakan bahwa novel tersebut masih
bersifat antroposentris, dimana semua cerita terpusat pada penggambaran
tokoh Buya itu sendiri. Penulisan novel masih difokuskan pada sosok Buya
sebagai manusia yang memiliki humanitas tinggi.
“Akan lebih menarik kalau novel itu di bumbui dengan penggambaran
keindahan alam dan budaya ranah Minang itu sendiri” ungkap Joko
mengkritisi novel tersebut.
Selanjutnya, Joko menilai bahwa novel tersebut belum sepenuhnya
menceritakan masa kecil Buya di tanah kelahirannya. “Saya belum
menemukan kenikmatan membaca buku ini, karena suasana khas anak–anak
kecil di Minang sana belum tergambar. Misalnya saat Buya tidur di
surau,” jelas Joko menambahkan.
Hal tersebut, dibantah si penulis dengan argumen bahwa dalam
penulisan buku tersebut dibatasi pada penggambaran sosok Buya saja dan
tidak melebar pada lingkungan dan budaya. “Saya tidak ingin terikat oleh
aturan, because Rules are made to be broken. Saya ingin
mengkombinasi cerita nyata dengan yang fiksi. Tapi novel ini 80%
berdasarkan kisah hidup Buya”, ungkap Damien meyakinkan audience.
Pengerjaan novel ini pun terkesan cukup singkat, hanya empat hari.
Meski demikian, sebelum menulisnya, Damien sudah melakukan riset yang
cukup lama.
Di akhir kesempatan Ajang
menegaskan, sebuah novel atau fiksi belum sah kalo kejadian tersebut
belum terjadi atau kalau jaman dahulu biasa disebut dengan istilah
cerita betul. Hal tersebut diamini oleh Joko yang menyatakan walaupun
novel adalah karya fiksi tapi harus belajar bertolak dari fakta, jadi
diperlukan riset untuk menduk cerita itu nantinya. (rwp/
trs)
Sumber : http://www.umm.ac.id/news.php?c=1198&archive=&more=1
|