Login Forum

Feb 13 2010
Si Anak Kampoeng yang menjadi Guru Bangsa PDF Cetak E-mail
Saturday, 13 February 2010

Jakarta – kesahajaan, kejujuran, berani da konsisten merupakan sikap spirit perjuangan untuk melalui kerasnya kehidupan, begitulah sosok karakter Prof.Dr. Syafi’I Ma’arif. Si Anak Kampoeng adalah sebuah kisah kehidupan seorang Ahmad Syafii Maarif yang saat ini dijuluki sebagai Guru Bangsa, kisah diharapkan dapat menginspirasi setiap anak bangsa di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Fajar Riza Ulhaq selaku Direktur Eksekutif Maarif Institute dalam rilis yang disampaikan kepada wartawan muhammadiyah.or.id saat peluncuran Launching Novel “Si Anak Kampoeng” di Auditorium Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Menteng Raya no 62 Jakarta Pusat pada Kamis (11/02/2010)  

Selanjutnya, Damien Demantra selaku Penulis Novel  “Si Anak Kampoeng” mengatakan bahwa Sosok buya syafii sangat layak diangkat menjadi sumber inspirasi yang mencerahkan bagi siapapun karena secara personal buya benar-benar mempersembahkan hidupnya dengan penuh pengabdian untuk menjadi milik bangsa Indonesia dan kemanusiaan melampaui batasan kelompok dan agama. Dengan krisisnya kepemimpinan di Indonesia dan pasca wafatnya Gus Dur, peranan Buya Syafii menjadi sangat vital. Bangsa ini membutukan seorang pemimpin yang bisa member contoh dan bukan hanya bisa bicara tapi peduli kepada kemanusiaan dan bukan hanya bertopeng seolah-olah manusiawi tapi tulus tanpa kepentingan apa-apa, kecuali demi tegaknya keadilan dan kebenaran. Ungkap Damien yang selain seorang novelis, juga penulis scenario, sutradara, produser, fotografer Internasional dan pelukis itu.

Sementara itu, Prof. Dr. Din Syamsudin menyampaikan testimoninya dalam Launching Novel tersebut, Perjalan buya Syafii penuh dengan lika-liku dan suka-duka dalam kehidupannya. “Sebagai anak kampoeng buya melakukan pengembaraan yang mendaki tinggi dan sangat berliku. Buya telah sampai puncak tertinggi walau tidak ada kata puas dalam diri beliau”. Ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut. Buku ini mengandung pesan moral untuk generasi berikutnya yaitu sebuah kegigihan, kejujuran dan kosistensi dalam menapaki kehidupan, hal itu suatu yang langka dalam negeri ini. Novel ini saya katakan novel yang mengandung nilai moral yaitu pesan kepada generasi muhammadiyah berupa pesan moral pada buku ini dihayati dan dipahami oleh kader-kader muhammadiyah untuk menjadikan tauladan dalam perjuangan beliau. Pungkas Pendiri CDCC (Centre for Dialoque and Co-operation among civilization).

Pada launching novel tersebut dihadiri antara lain dihadiri oleh Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah), Hajriyanto Y. Thohari (Wakil Ketua MPR), Franz Magnis Suseno (agamawan), Surya Paloh(Pemilik Media Grup dan Pendiri Ormas Nasional Demokrat), Andreas Yewangoe (PGI), Malik Fadjar (mantan Mendiknas), Sofyan Wanandi (pengusaha), Sularto (pimpinan Kompas Media Grup), Sudhamek AWS SE, SH (CEO Garuda Food) dan beberapa tokoh Nasional. (Fan)

sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1876&Itemid=2  
feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 02 March 2010 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Baca Juga....

Keberanian Susno layak Kapolri

Saturday, 04 September 2010

article thumbnailMEDAN - Meski nama-nama calon Kapolri pengganti Jenderal Bambang Hendarso Danuri bermunculan tanpa...
Selengkapnya.....

Syafii Maarif: Menteri Agama Tidak Bijak

Wednesday, 01 September 2010

article thumbnailVIVAnews - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menyayangkan...
Selengkapnya.....

Berita Lainnya...