Login Forum

Feb 11 2010
PRESS RELEASE PELUNCURAN NOVEL “SI ANAK KAMPOENG” PDF Cetak E-mail
Thursday, 11 February 2010

KISAH INSPIRATIF DARI KEHIDUPAN BUYA SYAFII MAARIF 

ImageMAARIF Institute, Jakarta, 11 Pebruari 2010. Dalam budaya masyarakat kita yang masih memeluk feodalisme, menjadi seorang pemimpin haruslah identik dengan atribusi garis keturunan darah biru, keistimewaan perlakuan, dan elitisme ruang interaksi. Namun apa yang menjadi pesan utama Novel Si Anak Kampoeng adalah sebaliknya. Si Anak Kampoeng adalah sebuah kisah kehidupan seorang Ahmad Syafii Maarif yang diharapkan dapat menginspirasi setiap anak bangsa bahwa menjadi seorang pemimpin haruslah menjadi “manusia biasa” pula. Kesahajaan, kejujuran, berani dan konsisten bersikap serta spirit perjuangan untuk melalui kerasnya kehidupan merupakan pelajaran penting yang coba diangkat melalui novel ini. 

“Kisah Si Anak Kampoeng hadir mengisi kekeringan inspirasi dan kemandulan kearifan dalam kehidupan kebangsaan kita saat ini. Dengan kemasan novel, sang penulis Damien Dematra mendorong generasi muda untuk mengunyah sejarah kehidupan tokoh pemenang Ramon Magsaysay Award ini dalam tuturan ringan dan berisi”, ungkap Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif MAARIF Institute. Menurut Fajar, ide penulisan novel datang dari inisiatif penulis setelah merampungkan penulisan skenario film layar lebar “Ahmad Syafii Maarif Si Anak Kampoeng: Sebuah Trilogi” yang diadopsi dari buku otobiografi Ahmad Syafii Maarif, “Titik-titik Kisar di Perjalananku”.  Di mata Damien, sosok Buya Syafii sangat layak diangkat mengingat perjalanan kehidupannya tidak saja dramatis namun juga dapat menjadi sumber inspirasi yang mencerahkan bagi siapapun. “Saya tidak ragu untuk menempatkan Buya Syafii sebagai guru bangsa bersama Gus Dur. Perkenalan singkat saya dengan beliau di Yogyakarta tahun lalu sangat berkesan, terlebih setelah membaca habis buku otobiografinya”, ujar Damien.  

Dalam testimoninya, Megawati Soekarnoputri menggarisbawahi nilai-nilai ketauladan dan semangat perjuangan Syafii Maarif harus dijadikan cermin generasi muda. “Saya melihat adanya benang merah antara pokok-pokok pikiran Bung Karno dengan apa yang kini diperjuangkan Pak Syafii. Beliau ini kan selalu mengingatkan kita untuk tidak semata mengagungkan Pancasila dalam ucapan namun justru mengkhianatinya dalam perbuatan”, pungkas Presiden RI ke-5 ini. Bagi Surya Paloh, Pak Syafii merupakan sedikit orang yang berada pada posisi guru bangsa. “Sebagai senior citizen, Pak Syafii selalu mengingatkan kita untuk berjuang menjadi bangsa yang bermartabat dan tidak dijajah oleh kolonialisme gaya baru”. Ketua Umum Nasional Demokrat mengharapkan kehadiran novel Si Anak Kampoeng bisa menularkan komitmen kebangsaan dan kemanusiaan Pak Syafii kepada anak-anak muda yang sering mengabaikan nilai-nilai luhur Pancasila.  

Mgr. Suharyo, Kepala Keuskupan Jakarta, mengapresiasi upaya penerbitan sejarah seorang tokoh agama yang inklusif dalam bentuk novel. “Saya kira tidak mudah mengakrabkan sejarah dengan generasi muda namun dengan media novel ini akan menjadi lain”, tukasnya. Hal ini juga diakui G. Sulistyanto, Presiden Direktur PT. Sinar Mas. Menurutnya, bangsa Indonesia masih sangat membutuhkan kehadiran tokoh-tokoh agama yang mengayomi perbedaan sekaligus mampu menjadi panutan bagi masyarakat  yang kian rendah kepercayaannya terhadap tokoh-tokoh politik.  “Pak Syafii telah berdiri tegak memenuhi harapan itu”, tutur Sulistyanto. Lebih jauh, St. Sularto dari pimpinan Kompas Gramedia Group menambahkan bahwa sosok Buya Syafii adalah tauladan karena kejujuran dan ketulusannya ketika menyuarakan pandangan-pandangannya. “Tokoh seperti beliau ini sangat sulit ditemukan dalam situasi yang semakin pragmatis”, tukas Sularto.     

Dalam kesempatan yang sama, Pdt. Andreas Yewangoe, Ketua Umum PGI,  mengharapkan contoh-contoh yang baik dari kisah kehidupan Syafii Maarif dapat ditiru bahkan dikembangkan lebih maksimal oleh anak-anak muda bangsa. Bagi Moeslim Abdurrahman, Buya Syafii adalah pribadi unik karena awal perjumpaan dirinya dengan Buya Syafii terjadi di Amerika saat keduanya menempuh studi. “Pak Syafii yang saya kenal kala itu tipikal orang Muhammadiyah yang fanatik Masyumi. Saya tidak menyangka Buya akan menjadi sosok besar seperti hari ini”, kenang Moeslim.  

Di akhir acara, Buya Syafii menyampaikan bahwa gagasan pembuatan novel bahkan film tentang dirinya datang dari pihak luar.  “Saya sebenarnya agak kurang nyaman dengan ini tapi Damien (penulis novel) terus saja menguntit saya soal ini. Jadi saya silakan saja kalau memang itu tekad dia sendiri”, pungkas Buya.  Novel Si Anak Kampoeng ini merupakan satu dari lima sekuel yang direncanakan akan diterbitkan Gramedia pada tahun ini. Penerbitan novel-novel tersebut merupakan  bagian dari promosi pembuatan film layar lebar “Ahmad Syafii Maarif Si Anak Kampoeng” yang akan diputar di bioskop-bioskop pada pertengahan tahun ini.  

Hormat Kami,  

Fajar Riza Ul Haq

Direktur Eksekutif    

 
feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 11 February 2010 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Baca Juga....

Keberanian Susno layak Kapolri

Saturday, 04 September 2010

article thumbnailMEDAN - Meski nama-nama calon Kapolri pengganti Jenderal Bambang Hendarso Danuri bermunculan tanpa...
Selengkapnya.....

Syafii Maarif: Menteri Agama Tidak Bijak

Wednesday, 01 September 2010

article thumbnailVIVAnews - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menyayangkan...
Selengkapnya.....

Berita Lainnya...