|
oleh : Fajar Riza Ul
Haq
Direktur Eksekutif
MAARIF Institute dan Kader Muhammadiyah
Kepergian K.H.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke alam keabadian, Jumat malam, 30 Desember
2009, telah menyentakkan kita semua. Bangsa ini kembali kehilangan salah
seorang tokoh bangsa yang telah berkontribusi penting dalam memperjuangkan
demokrasi, HAM, dan perhormatan terhadap perbedaan (pluralisme). Gus
Dur bersama Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, dan Djohan Effendy merupakan
sedikit punggawa intelektual Muslim di generasi 1980-an yang mengusung
gagasan-gagasan neomodernisme Islam sebagai pangkal mula gerakan liberalisasi
Islam di Indonesia (Barton, 1999). Dalam sosok pendiri Forum Demokrasi
(Fordem) di era Orde Baru ini telah terjadi persenyawaan tiga peran
sekaligus: agamawan, budayawan, dan politisi. Sehingga, tidak sedikit
pihak yang mengidentifikasi Gus Dur sebagai potret cendekiawan organik-Gramcian
dalam kancah keindonesiaan.
Pemikiran dan
aksi pemihakannya terhadap isu-isu minoritas dan pluralisme telah menempatkan
cucu pendiri Nahdhatul Ulama ini sebagai sumber inspirasi bagi tumbuh
dan berseminya gerakan-gerakan Islam kritis-transformatif, tidak hanya
di kalangan generasi muda NU namun juga kelompok-kelompok sosial di
luar itu. Hemat penulis, pemikiran-pemikiran pembaharuan Islam yang
digaungkan Gus Dur selama hidupnya telah menerobos sekat-sekat kultural
Nahdhiyin. Dalam sebuah wawancara, seorang aktivis Ikatan Jamaah
Ahlul Bait (IJABI), sebuah organisasi yang berpaham Syiah, di Makasar
mengekspresikan kesepakatan pandangan dirinya dengan Gus Dur dalam konteks
penolakan terhadap segala bentuk kekerasan dan penerimaannya terhadap
gagasan pluralisme. Menurutnya, perbedaan pendapat tidak bisa disikapi
dengan tindakan anarkis karena itu berarti menciderai prinsip pluralisme.
Hal senada juga dikemukakan seorang aktivis organisasi Darud Dakwah
wal Irsyad (DDI) Makasar yang mengaku tidak setuju dengan gagasan
negara Islam sebagaimana sikap politik Gus Dur. Ia berpendapat Pancasila
sudah merupakan konsep dan bentuk negara ideal bagi masyarakat Indonesia
yang majemuk sehingga dapat menjamin hak kebebasan beragama.
Resonansi gagasan-gagasan
kritis bahkan wacana pribumisasi Islam dari mantan Ketua PB NU ini dapat
dirasakan pula di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah yang berikhtiar
mengkaji ulang tafsir puritanisme Islam. Mereka yang berhimpun dalam
Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) bergerak menawarkan perspektif
dan metode baru dalam mendialogkan dunia teks (wahyu) dan dunia realitas
(konteks). Kesamaan visi intelektual bahkan kedekatan pribadi Moeslim
Abdurrahman - yang kala itu menjadi Direktur Eksekutif MAARIF Institute
sekaligus mentor intelektual JIMM - dengan Gus Dur sedikit banyak telah
berpengaruh pada penyemaian langgam Islam transformatif di kalangan
anak-anak muda Muhammadiyah tersebut.
Wacana Perlawanan
Jika Gyatri
Spivak, seorang intelektual poskolonial berdarah India, menjadikan kelompok
“subaltern” yang tersubordinat (baca: perempuan) sebagai pusat representasi
wacana perlawanannya maka bagi Gus Dur “subaltern” adalah kelompok-kelompok
minoritas yang terpinggirkan dan wacana pribumisasi Islam sebagai bentuk
perlawanan terhadap hegemoni Arabisasi. Ini salah satu alasan mendasar
mengapa pendiri Partai Kebangkitan Bangsa ini menolak keras model negara
agama karena pilihan demikian ini tidak akan memberikan jaminan perlindungan
terhadap kehidupan pluralisme masyarakat Indonesia. Baginya, agama Islam
adalah sumber inspirasi, bukan alat aspirasi politik. Sebuah pandangan
yang sejalan dengan konsep “twin tolerations” yang dirumuskan Alfred
Stephan; institusi agama harus diberikan kebebasan mengaksentuasikan
aspirasi kewargaan para pemeluknya dengan tetap menghormati otoritas
negara, begitu pula insitusi negara memiliki hak-hak mengatur warga
negaranya tanpa mengintervensi otoritas agama.
Pada ranah
politik, perlawanan gerakan demokrasi pada masa Orde Baru tidak bisa
dilepaskan dari ketokohan suami Shinta Nuriyah ini. Ia bersuara vokal
mengkritik kebijakan pemerintahan Soeharto yang pro ideologi developmentalisme,
membungkam kanal-kanal demokrasi hingga upaya mengkooptasi umat Islam
melalui pembentukan ICMI. Semangat perlawanan yang ditunjukkan Gus Dur
tersebut telah menginspirasi gerakan-gerakan mahasiswa Muslim seperti
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
untuk mengkaji pemikiran-pemikiran kritis semacam Mazhab Frankfurt,
“Kiri Islam”, teologi pembebasan, post tradisionalisme Islam, serta
poskolonial.
Meskipun Presiden
RI keempat ini sudah tiada di penghujung tahun 2009 namun gagasan-gagasannya
akan terus bergulir mengairi denyut nadi rumah keindonesiaan kita. Dalam
sejarah Islam Indonesia modern, sosok Gus Dur akan dicatat sebagai inspirator
dan motor gerakan pembaharuan yang buah pikiran-pikirannya telah mengguncangkan
sendi-sendi konservatisme, fundamentalisme, dan eksklusivisme yang menghinggapi
bangunan kebangsaan kita. Namun patut diingat pula, kemangkatan Gus
Dur meninggalkan banyak tantangan yang harus dijawab oleh generasi pasca
Gus Dur seperti persoalan diskriminasi yang terus menghantui hak kebebasan
beragama, perlindungan hak-hak minoritas yang masih rendah, radikalisasi
di kalangan pelajar, gerakan-gerakan Islam politik transnasional, dan
deviasi praktek demokrasi. Akhirnya, selamat jalan Gus, semoga pengabdianmu
selama ini kepada bangsa dan kemanusiaan akan menjadi aliran kebajikan
yang abadi. Kami, generasi muda, mengikuti dengan takzim jalan perjuanganmu.
|