Dec 31 2009
GUS DUR, YANG MELAMPAUI NU PDF Print E-mail
Thursday, 31 December 2009

oleh : Fajar Riza Ul Haq

Direktur Eksekutif MAARIF Institute dan Kader Muhammadiyah  

Kepergian K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ke alam keabadian, Jumat malam, 30 Desember 2009, telah menyentakkan kita semua. Bangsa ini kembali kehilangan salah seorang tokoh bangsa yang telah berkontribusi penting dalam memperjuangkan demokrasi, HAM, dan perhormatan terhadap perbedaan (pluralisme). Gus Dur bersama Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, dan Djohan Effendy merupakan sedikit punggawa intelektual Muslim di generasi 1980-an yang mengusung gagasan-gagasan neomodernisme Islam sebagai pangkal mula gerakan liberalisasi Islam di Indonesia (Barton, 1999). Dalam sosok pendiri Forum Demokrasi (Fordem) di era Orde Baru ini telah terjadi persenyawaan tiga peran sekaligus: agamawan, budayawan, dan politisi. Sehingga, tidak sedikit pihak yang mengidentifikasi Gus Dur sebagai potret cendekiawan organik-Gramcian dalam kancah keindonesiaan.

Pemikiran dan aksi pemihakannya terhadap isu-isu minoritas dan pluralisme telah menempatkan cucu pendiri Nahdhatul Ulama ini sebagai sumber inspirasi bagi tumbuh dan berseminya gerakan-gerakan Islam kritis-transformatif, tidak hanya di kalangan generasi muda NU namun juga kelompok-kelompok sosial di luar itu. Hemat penulis, pemikiran-pemikiran pembaharuan Islam yang digaungkan Gus Dur selama hidupnya telah menerobos sekat-sekat kultural Nahdhiyin. Dalam sebuah wawancara, seorang aktivis Ikatan Jamaah Ahlul Bait (IJABI), sebuah organisasi yang berpaham Syiah, di Makasar mengekspresikan kesepakatan pandangan dirinya dengan Gus Dur dalam konteks penolakan terhadap segala bentuk kekerasan dan penerimaannya terhadap gagasan pluralisme. Menurutnya, perbedaan pendapat tidak bisa disikapi dengan tindakan anarkis karena itu berarti menciderai prinsip pluralisme. Hal senada juga dikemukakan seorang aktivis organisasi Darud Dakwah wal Irsyad (DDI) Makasar yang mengaku tidak setuju dengan gagasan negara Islam sebagaimana sikap politik Gus Dur. Ia berpendapat Pancasila sudah merupakan konsep dan bentuk negara ideal bagi masyarakat Indonesia yang majemuk sehingga dapat menjamin hak kebebasan beragama.  

Resonansi gagasan-gagasan kritis bahkan wacana pribumisasi Islam dari mantan Ketua PB NU ini dapat dirasakan pula di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah yang berikhtiar mengkaji ulang tafsir puritanisme Islam. Mereka yang berhimpun dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) bergerak menawarkan perspektif dan metode baru dalam mendialogkan dunia teks (wahyu) dan dunia realitas (konteks). Kesamaan visi intelektual bahkan kedekatan pribadi Moeslim Abdurrahman - yang kala itu menjadi Direktur Eksekutif MAARIF Institute sekaligus mentor intelektual JIMM - dengan Gus Dur sedikit banyak telah berpengaruh pada penyemaian langgam Islam transformatif di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah tersebut.         

Wacana Perlawanan

Jika Gyatri Spivak, seorang intelektual poskolonial berdarah India, menjadikan kelompok “subaltern” yang tersubordinat (baca: perempuan) sebagai pusat representasi wacana perlawanannya maka bagi Gus Dur “subaltern” adalah kelompok-kelompok minoritas yang terpinggirkan dan wacana pribumisasi Islam sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni Arabisasi. Ini salah satu alasan mendasar mengapa pendiri Partai Kebangkitan Bangsa ini menolak keras model negara agama karena pilihan demikian ini tidak akan memberikan jaminan perlindungan terhadap kehidupan pluralisme masyarakat Indonesia. Baginya, agama Islam adalah sumber inspirasi, bukan alat aspirasi politik. Sebuah pandangan yang sejalan dengan konsep “twin tolerations” yang dirumuskan Alfred Stephan; institusi agama harus diberikan kebebasan mengaksentuasikan aspirasi kewargaan para pemeluknya dengan tetap menghormati otoritas negara, begitu pula insitusi negara memiliki hak-hak mengatur warga negaranya tanpa mengintervensi otoritas agama.  

Pada ranah politik, perlawanan gerakan demokrasi pada masa Orde Baru tidak bisa dilepaskan dari ketokohan suami Shinta Nuriyah ini. Ia bersuara vokal mengkritik kebijakan pemerintahan Soeharto yang pro ideologi developmentalisme, membungkam kanal-kanal demokrasi hingga upaya mengkooptasi umat Islam melalui pembentukan ICMI. Semangat perlawanan yang ditunjukkan Gus Dur tersebut telah menginspirasi gerakan-gerakan mahasiswa Muslim seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk mengkaji pemikiran-pemikiran kritis semacam Mazhab Frankfurt, “Kiri Islam”, teologi pembebasan, post tradisionalisme Islam, serta poskolonial.        

Meskipun Presiden RI keempat ini sudah tiada di penghujung tahun 2009 namun gagasan-gagasannya akan terus bergulir mengairi denyut nadi rumah keindonesiaan kita. Dalam sejarah Islam Indonesia modern, sosok Gus Dur akan dicatat sebagai inspirator dan motor gerakan pembaharuan yang buah pikiran-pikirannya telah mengguncangkan sendi-sendi konservatisme, fundamentalisme, dan eksklusivisme yang menghinggapi bangunan kebangsaan kita. Namun patut diingat pula, kemangkatan Gus Dur meninggalkan banyak tantangan yang harus dijawab oleh generasi pasca Gus Dur seperti persoalan diskriminasi yang terus menghantui hak kebebasan beragama, perlindungan hak-hak minoritas yang masih rendah, radikalisasi di kalangan pelajar, gerakan-gerakan Islam politik transnasional, dan deviasi praktek demokrasi. Akhirnya, selamat jalan Gus, semoga pengabdianmu selama ini kepada bangsa dan kemanusiaan akan menjadi aliran kebajikan yang abadi. Kami, generasi muda, mengikuti dengan takzim jalan perjuanganmu.      
 
feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Last Updated ( Friday, 01 January 2010 )
 
< Prev   Next >

Baca Juga....

JK: Konflik Palestina-Israel Bukan Persoalan Agama

Tuesday, 07 February 2012

article thumbnailINILAH.COM, Jakarta - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengapresiasi peluncuran buku Ahmad...
Selengkapnya.....

Buya Luncurkan Buku Gilad Aztmon

Tuesday, 07 February 2012

article thumbnailINILAH.COM, Jakarta - Mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah Syafii Maarif meluncurkan buku barunya yang...
Selengkapnya.....

Berita Lainnya...

Adobe InCopy CS5.5 MAC
Red Giant Magic Bullet Looks 1.4
SpamSieve MAC
Acronis Disk Director 11 Home
Joboshare DVD to iPod Converter
Microsoft Office Publisher 2007
Autodesk Alias Design 2012
Nuance Dragon NaturallySpeaking 11 Premium
Ashampoo Photo Optimizer 3
Adobe InCopy CS5.5
BoinxTV MAC
Ice Pattern MAC
R10Clean MAC
Joboshare DVD to 3GP Converter
PhotoStyler MAC