|
Kelompok
Kerja Gerakan Penegak Moral Bangsa
“Rakyat
Butuh Pemimpin Yang Peka dan Tegas”
Jakarta,
23 Desember 2009. Kondisi bangsa saat
ini yang ditenggarai gejala memudarnya kepercayaan publik terhadap elit politik
bahkan institusi-institusi pemerintah mencerminkan sebuah krisis ketegasan
kepemimpinan. Padahal menjadi pemimpin berarti harus bersikap peka, tegas, dan
arif terhadap suara-suara rakyat yang diwakilinya. Hakekat pemimpin adalah
kemampuan menghidupkan norma-norma tertib hukum dengan detak keadilan dan suara
hati nurani rakyat. Negara Indonesia adalah
payung untuk semua orang yang hidup dan tinggal di atas tanah air ini tanpa
adanya pembedaan sosial-politik yang menyalahi norma-norma hukum dan
kemanusiaan (diskriminasi).
Dengan semangat Natal tahun ini,
yang mengambil tema “Tuhan Itu Baik”, Kelompok Kerja Gerakan Penegak Moral
Bangsa memandang bahwa selalu ada jalan keselamatan untuk keluar dari lembah
ketidakpastian hukum menuju tatanan tertib hukum yang menjungjung tinggi
keadilan rakyat dan keadaban politik. Kelompok kerja ini selama ini
memfasilitasi Gerakan Penegak Moral Bangsa yang terdiri dari Syafii Maarif,
Kardinal Julius Darmaatmaja, Bikkhu Pannyavaro Mahatera, dan Pdt. Andreas
Yewangoe. Dalam suasana kebangsaan yang nyaris menenggelamkan kepastian
keadilan hukum untuk rakyat kecil sebagaimana dialami Ibu Minah di Banyumas,
kebaikan Tuhan tercermin dari sejauhmana kita sebagai masyarakat beragama
menghadirkan denyut keadilan dalam aliran darah kita sekaligus menolak
prilaku-prilaku korup-kolusi dan juga arogansi kekuasaan.
Dalam konteks inilah Kelompok
Kerja Gerakan Penegak Moral Bangsa yang beranggotakan Fajar Riza Ul Haq
(Direktur Eksekutif MAARIF Institute), Romo Benny Susetyo (Sekretaris Komisi
HAK KWI), dan Pdt. Gomar Gultom (Sekretaris Umum PGI) merefleksikan pesan damai
Natal 2009 ini dalam bentuk:
- meminta
Presiden SBY untuk menata keadaban publik dengan tetap bersikap peka serta
bertindak tegas dalam menyikapi semua dinamika kebangsaan dan mendesak
semua elit politik untuk tidak memunggungi tuntutan politik keadilan
publik dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip konstitusional. Semangat
keadaban politik sudah sepantasnya menjadi panduan moral dan politik semua
pengambil kebijakan di negeri ini sehingga apa yang disebut sebagai
ancaman demokrasi berupa fenomena “tirani koalisi” dapat dicegah.
Penyelesaian kasus Bank Century akan menjadi ujian penting bagi keseriusan
pemerintah dan segenap elit politik negara ini dalam memberantas korupsi
dan menegakkan keadilan.
- mengutuk
keras semua tindakan kekerasan, pengrusakan, dan pembakaran terhadap rumah
ibadah. Pihak aparat kepolisian harus berani bertindak tegas dan menghukum
semua pelaku sesuai hukum yang berlaku. Kepala Negara jangan sampai
terjebak pada gejala pembiaran atas apa yang seharusnya ditindak tegas
secara hukum. Negara harus memberikan penghargaan sekaligus perlindungan
terhadap segala perbedaan keyakinan, pandangan, serta pendapat warga
Negara Indonesia.
- semangat
Natal tahun ini pembumian cinta kasih dan keadilan Tuhan untuk umat
manusia. Dan keadilan adalah hak setiap warga negara yang harus dijamin
kepastiannya dan dengan tetap menghormati hak-hak konstitusionalnya.
Demikian pernyataan bersama
Kelompok Kerja Gerakan Penegak Moral Bangsa ini.
Hormat
Kami,
Tertanda,
Kelompok
Kerja Gerakan Penegak Moral Bangsa
1.
Direktur Eksekutif
MAARIF Institute, Fajar Riza Ul Haq (+62 817 440 343)
2.
Sekretaris Komisi HAK
KWI, Romo Benny Susetyo (+62 812 354 2153)
3.
Sekretaris Umum PGI, Pdt.
Gomar Gultom (+62 811 899 522).
|