Nov 19 2009
MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN ILMU, MUNGKINKAH? Tanggapan atas tulisan Buya Syafi’i Maarif PDF Cetak E-mail
Thursday, 19 November 2009

Tafsir : Sekretaris PW. Muhammadiyah Jawa Tengah

Ketika diminta untuk orasi pada penganugerahan Ma’arif Award tahun 2008 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, penulis katakan, di Ma’arif Institute, Buya Syafi’i dapat menjadi “dirinya sendiri”, tampil sebagai sosok intelektual Muslim yang berwawasan luas cenderung bebas, terbiasa dengan beda pendapat dan jauh dari pemikiran sektarian.

Hal ini tak terjadi ketika beliau menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang dalam banyak hal dibatasi oleh platform persyarikatan. Muhammadiyah menjadi kotak sempit bagi Buya. Sering ada seloroh dalam forum diskusi anak muda Muhammadiyah, bahwa dalam  beberapa hal Muhammadiyah lebih sulit dari Islam, sebab apa yang sebenarnya boleh menurut Islam menjadi bid’ah yang tidak boleh dikerjakan menurut Muhammadiyah. Jika seloroh ini benar, bagaimana mungkin Muhammadiyah dapat menjadi gerakan ilmu?

Ilmu dan Peradaban
Dalam sejarah, puncak peradaban yang pernah dicapai umat Islam adalah ketika pada masa kekhalifahan Harun al-Rasyid (786-809) dan putranya al-Makmun (813-833). Kunci pencapaian masa keemasan itu diraihnya dengan menguasai ilmu pengetahuan. Khalifah Harun al-Rasyid dan al-Makmun adalah dua pemimpin yang sangat gandrung ilmu pengetahuan. Dengan kekuasaan yang dimilikinya mereka gunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dunia kedokteran, filsafat, arsitektur, astronomi dan seni berkembang dengan sangat dahsyat. (Philip K. Hitti, 2006 : 375-394). Kejayaan itu diraihnya salah satunya melalui sebuah lembaga Bait al-Hikmah yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat penterjemahan buku-buku asing, khususnya Yunani, tetapi juga sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang setara dengan lembaga perguruan tinggi. Kehebatan inilah yang telah membawa Baghdad sebagai pusat kekuasaan Abbasiyah menjadi ’kota yang tiada bandingnya di seluruh dunia’ kala itu. Lembaran sejarah dunia abad ke-9 ini menampilkan dua nama besar dalam percaturan dunia, Harun al-Rasyid di Timur dan Charlemagne di Barat. Dari dua nama itu, Harun al-Rasyid jelas lebih berkuasa dan menampilkan budaya yang lebih tinggi.


Kegemilangan peradaban yang diraih pada masa ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor. Pertama, keterbukaan menerima ilmu pengetahuan dari manapun datangnya tanpa melihat latar belakang nara sumber pengetahuan. Sadar bahwa Abbasiyah yang Arab belum memiliki pengetahuan yang memadai untuk membangun peradaban, dengan lapang dada belajar ke negeri “kafir” Yunani yang Kristen. Bahkan juga dari India yang Hindu dan Persia yang Majusi. Kedua, penterjemahan buku asing yang dapat dipakai untuk mendudukung pembangunan peradaban. Di sini, penguasaan bahasa sebagai sumber pengetahuan menjadi sangat mutlak dikuasai. Ketiga, profesionalitas adalah jauh lebih penting daripada hubungan emosional kelompok. Hal dapat dilihat bagaimana megaproyek penterjemahan buku-buku asing pada masa Abbasiyah ini banyak meminta tenaga profesional non-Muslim mengingat belum atau memang tidak ada kalangan internal Abbasiyah yang mampu melakukannya. Salah satu nama penterjemah pada waktu itu adalah seorang Suriah Kristen yang bernama Yuhanna ibn Masawayh (w. 857) yang banyak menterjemahkan manuskrip kedokteran untuk Harun al-Rasyid. Tokoh terpenting dan sering disebut sebagai ’Ketua Para Penterjemah’ adalah Hunayn ibn Ishaq (809-873), seorang penganut Kristen Nestor dari Hirah yang dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh anaknya yang bernama Ishaq. Hunayn ibn Ishaq menterjemahkan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Suriah, kemudian anaknyalah yang menterjemahkan dari bahasa Suriah ke Bahasa Arab. Al-ma’mun membayar Hunayn dengan emas sebesar buku yang diterjemahkannya.
Buku-buku Yunani yang diterjemahkan ke Bahasa Arab adalah karya Plato,  Republic (Siyasah), Aristoteles, Categories (Maqulat), Physics (Thabi’iyat) dan Magna Moralia (Khulqiyat). Juga buku-buku Galen tentang astronomi yang versi bahasa Yunaninya sendiri tidak dapat ditemukan lagi, bersyukur masih terdapat edisi terjemahan bahasa Arabnya. Di sinilah Barat harus berterima kasih kepada dunia Arab.


Kehidupan Baghdad yang gemerlap bak negeri dongeng penuh dengan kemajuan peradaban tak lepas dari rasa semangat yang menggebu untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai simbol peradaban. Ilmu dan peradaban dua hal yang mungkin bisa dibedakan tetapi tak mungkin dipisahkan. Ilmu dapat datang dari siapapun termasuk yang berbeda agama dengan kita.
Sifat terbuka namun jujur terhadap orang lain yang lebih mampu inilah yang ditampilkan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan ketika mengadopsi metode missionaris Kristen dalam mendirikan lembaga-lembaga pelayanan sosial seperti pendidikan, kesehatan dan penyantunan fakir-miskin. Bahkan gerakan kepanduan Hizbul Wathan dibentuk pada tahun 1918 atas saran seorang guru Muhammadiyah di Solo yang menyaksikan kepanduan Kristen secara rutin melakukan latihan di alun-alun Mangkunegaran. (Deliar Noer, 1996 : 91).

Ironisme Ijtihad dan bid’ah
Paham agama Muhammadiyah didasarkan pada kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah, menolak taqlid, bebas madzhab dan membuka pintu ijtihad. Melihat prinsip ini, potensi Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu sangat besar. Muhammadiyah berpeluang besar menjadi organisasi yang akan mampu membawa umat ini ke pintu gerbang kemajuan peradaban.
Tetapi, memasuki umurnya yang satu abad ini, peluang tersebut belum juga berhasil diwujudkan. Muhammadiyah  telah berhasil membangun amal usaha yang sangat ekspansif, tetapi belum bisa menghasilkan peradaban yang memadai, termasuk menjadi gerakan ilmu. Salah satunya masih terdapatnya ironisme di sana. Prinsip membuka pintu ijtihad yang mestinya memberikan porsi yang semestinya dalam keleluasaan berpikir dalam kenyataannya sering dimentahkan oleh doktrin bid’ah yang mematikan. Ruang ijtihad diberikan pada lingkup persoalan yang belum memiliki landasan teks dalam al-Qur’an dan Sunnah. Dalam kenyataannya, Muhammadiyah sering terlalu cepat memberi vonis bid’ah terhadap peristiwa yang tidak memiliki landasan nash al-Qur’an dan Sunnah sebelum hal tersebut dilakukan ijtihad. Kata “tidak ada tuntunannya dalam al-Qur’an dan Sunnah” menjadi momok bagi orang yang akan memberikan keleluasaan berfikir yang mestinya diberikan oleh ruang ijtihad. Jika sesuatu yang tidak ada tuntunannya begitu cepat divonis sebagai bid’ah, lalu kapan dan di mana Muhammadiyah melakukan ijtihad. Muhammadiyah membuka pintu ijtihad, tetapi pintu itu kemudian tertutup kembali oleh doktrin bid’ah yang tidak proporsional.

Reformulasi Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah
Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah adalah jawaban kaum modernis dalam upaya membangun kembali kejayaan umat. Jargon ini telah memberi harapan besar memasuki abad ke-15 H sebagai abad kebangkitan umat Islam. Tetapi setelah sekitar tiga puluh tahun berjalan, resep tersebut tak begitu manjur dalam menjawab tantangan zaman. Resep tersebut terkesan mengalami jalan buntu, mentok  dan kelompok modernis dilanda kekeringan intelektual. Purifikasi sebagai pasangan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah telah berubah menjadi tekstualisasi yang berkecenderungan kaku dan radikal. Formulasi ini telah membawa kaum modernis, termasuk Muhammadiyah tercerabut dari warisan intelektual Islam klasik sehinga kering secara intelektual mungkin juga spiritual.
Mungkin baik untuk menyimak tulisan Alfiyan bagaimana Muhammadiyah memahami rumusan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah dengan mengatakan it opened up the gate for modern interpretations of contents of the two books, provided, of course, that such interpretations were suggested by those who were supposed to be very knowledgable on religion. This was meant to put the Faith a position so that it could always meet the demands of the ever changing world. (Alfiyan, 1989 : 5-6). Inilah yang membedakan Muhammadiyah dengan gerakan salafi yang menginterpretasikan al-Qur’an dan Sunnah dengan cara set-back, ke belakang. Muhammadiyah akan membawa pemahaman al-Qur’an dan Sunnah dalam konteks modernitas dan kemajuan ke depan tanpa tercerabut dari warisan intelektual Islam klasik secara proporsional.

Apresiasi Sumber Bacaan Klasik dan Kontemporer
Akibat pemahaman kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang kebablasan, apresiasi terhadap bacaan klasik dan kontemporer menjadi sangat minim. Sumber klasik dianggap kuno bahkan penuh “bid’ah”, sumber kontemporer dianggap sekuler dan liberal. Keduanya telah menjadi hantu yang menakutkan sebagian warga Muhammadiyah. Wajar jika mereka mengalami kekeringan dan kebuntuan intelektual. Terlebih lagi ilmu alat seperti bahasa masih terdapat dalam sumber klasik yang sering tak tersentuh oleh kader Muhammadiyah. Jika hal ini terus berlanjut agak sulit berharap Muhammadiyah menjadi gerakan ilmu.
Lembaga pendidikan Muhammadiyah banyak didominasi oleh sekolah dan perguruan tinggi yang terbukti belum cukup efektif dalam memberi kemampuan peserta didiknya dalam menguasai ilmu alat, khususnya bahasa. Sementara pondok pesantren yang selama ini terbukti sebagai lembaga pendidikan yang paling berhasil dalam penguasaan sumber-sumber Islam klasik, Muhammadiyah belum memiliki kultur yang memadai. Pondok pesantren Muhammadiyah masih berada pada posisi sekunder dalam mencetak kader ulama dan pimpinan Muhammadiyah.

Peluang itu Tetap Ada
Muhammadiyah dengan sekian banyak kampus yang di dalamnya dihuni para intelektual berpeluang besar memenuhi harapan Buya Syafi’i sebagai gerakan ilmu jika peluang ijtihad dan keleluasaan berfikir lebih ditonjolkan daripada kebiasaan mudah memberi vonis bid’ah secara tidak proporsional. Prinsip ma’ruf  dalam Q.s. Ali Imran 104 mestinya menjadi landasan kearifan Muhammadiyah dalam merespon perkembangan peradaban. Dengan ma’ruf seseorang dituntut memahami tanda-tanda kehidupan tidak sebatas teks tetapi juga konteks. Ayat Allah tentu saja tidak hanya huruf yang membentuk kata dan kalimat dalam dalil, fenomena alam dan sosial juga bagian dari ayat Allah yang harus dipahami oleh Muhammadiyah.


Dengan  pemberian porsi pada keleluasaan berfikir, ilmu akan lebih mudah berkembang dan muaranya adalah majunya peradaban. Muhammadiyah tidak hanya ekspansif membangun gedung amal usaha, tetapi juga  membangun peradaban. Kita mungkin bisa belajar pada Clifford Geertz tentang strategi membangun peradaban : “… that neither blind traditionalism nor headlong modernism can in itself bring about a healthy society and a great civilization. There must, he concluded, be an equilibrium between them…”. (Geertz, 1995 : 88).  Keduanya telah membuktikan bahwa tradisionalisme buta maupun modernisme keras kepala sama-sama tidak dapat dalam dirinya membangun masyarakat yang sehat dan peradaban yang agung. Obral vonis bid’ah secara tidak proporsional adalah bagian dari modernisme keras kepala. Harus ada keseimbangan antara keduanya. Khair al-umur ausathuha, dan kita sepakat tentang posisi moderasi Muhammadiyah. Semoga.  

sumber ; http://suara-muhammadiyah.com/2009/?p=1094
feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Thursday, 19 November 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Baca Juga....

JK: Konflik Palestina-Israel Bukan Persoalan Agama

Tuesday, 07 February 2012

article thumbnailINILAH.COM, Jakarta - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengapresiasi peluncuran buku Ahmad...
Selengkapnya.....

Buya Luncurkan Buku Gilad Aztmon

Tuesday, 07 February 2012

article thumbnailINILAH.COM, Jakarta - Mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah Syafii Maarif meluncurkan buku barunya yang...
Selengkapnya.....

Berita Lainnya...

Autodesk Inventor LT 2012
Autodesk Inventor Engineer-to-Order 2012
Acoustica 5 Premium
Joboshare DVD to iPod Converter
Poser 8 Professional for Mac
Apple Mac OS X 10.6 Snow Leopard
ACID Music Studio 8
PDF Joiner 1.0
Lynda AutoCAD 2010 Essential Training
Lynda InDesign CS5 New Features
Poker Tournament Hero MAC
Adobe Photoshop Lightroom 3
Apple Aperture 3 for Mac