Oct 09 2009
ISLAM, PERADABAN, DAN GERAKAN ILMU PDF Cetak E-mail
Friday, 09 October 2009

(Muhammadiyah Memerlukan Cara Pandang Yang Lebih Segar
Ahmad Syafii Maarif

Pendahuluan

Dengan jumlah umat Islam pada tahun 2009 sebesar 1,82 miliar yang tersebar di 183 negara, (Muslim Population Worldwide (2 August 2009), http://www.islamic population.com; sumber CIA 2009 menyebut angka 1,634,948,648 dari jumlah total penduduk dunia 6,780,584,602. http://www.factbook.net/muslim­­­pop­-php) dari sisi kuantitas tidak ada yang perlu dirisaukan. Bahkan dalam beberapa tahun yang akan datang, satu dari tiga dari penduduk bumi adalah Muslim. Jika sekarang jumlah manusia telah mencapai 6,780,584,602 miliar, maka 1,82 miliar adalah saudara kita seagama. Islam adalah sebuah agama yang  tercepat mendapatkan darah baru sebagai pengikutnya. Dibandingkan dengan agama Kristen, gerak laju kuantitatif Islam seperti tidak dapat dibendung.

 

Pada tahun 1900, pengikut Kristen dan Islam berbanding 26.9% dan 12.4% dari seluruh jumlah penduduk dunia. Tahun 2000 berubah menjadi 29.9% Kristen dan 19.2% Islam. Diproyeksikan tahun 2025, angkanya akan menjadi 25% penganut Kristen dan 30% penganut Islam. Di kawasan Uni Eropa sekarang Islam rata-rata telah menjadi agama kedua. (Muslim Population Statistics,” <http://muslim-canada.org/muslimstatistics.html). Tetapi, jumlah besar yang masih minus kualitas tentu tidak banyak punya makna strategis secara global. Umat ini masih saja belum berdaya untuk mengawal gerak peradaban karena persyaratan untuk itu belum dimiliki; ilmu kurang, wawasan pun terbatas. Mereka belum juga jera untuk saling bertikai-pangkai dengan ego kultural dan kepentingannya masing-masing, sesuatu yang sangat jauh dari cita-cita al-Qur’an tentang persaudaraan imani universal. Situasi Islam di Indonesia tidak jauh berbeda dengan apa yang berlaku di berbagai bagian dunia lainnya, padahal Muhammadiyah ingin membangun peradaban utama di Nusantara ini, bukan? Apa syaratnya? Mari kita bincangkan selanjutnya.

Islam, Kebudayaan, dan Tantangan Global
Dalam bahasa Arab, ada dua perkataan yang dapat diterjemahkan sebagai kebudayaan atau peradaban, yaitu tsaqafah dan hadharah. Dalam beberapa kamus, kedua perkataan itu seringkali  dipertukarkan saja. Tetapi saya lebih cenderung menggunakan hadharah  untuk peradaban, dan tsaqafah untuk kebudayaan.
Hadharah dari kata kerja hadhara- yahdhuru-hudhur berarti hadir, menghadiri, kehadiran, kemudian menjadi hadhar: kawasan maju, beradab, dan terdidik di perkotaan dan desa-desa dengan penduduk yang sudah menetap, sebagai lawan penduduk nomadik, suka berpindah-pindah (badawi). Perkembangan peradaban dengan dukungan ilmu dan teknologi selalu dimotori oleh penduduk menetap, bukan oleh mereka dengan kebiasaan mengembara (badw). Maka badawah atau bidawah adalah kehidupan nomadik/padang pasir, pengembara. Adapun perkataan tsaqâfah dari kata kerja tsaqifa -yatsqafu-tsaqf bermakna asal bertemu, mendapatkan. Bisa juga, tsaqifa dan tsaqufa-yatsqufu-tsaqf  = menjadi pintar, cekatan, cerdas, bijak. Maka, tsaqafah yang berarti kebudayaan adalah hasil olah otak dan budi manusia pintar, cerdas, cekatan, dan bijak. Setidak-tidaknya secara teori demikian itu. Dengan kata lain, dapat pula dikatakan bahwa peradaban merupakan bentuk-bentuk yang lebih terlihat di permukaan, sedangkan kebudayaan adalah ruh yang menafasi semua karya kreatif yang dapat diamati. Maka al-tsaqafah al-Islamiyah (kebudayaan Islam) adalah buah daya ciptaan otak dan budi manusia Muslim yang didorong oleh iman dan amal shalih yang juga diperkaya oleh interaksi mereka dengan berbagai sumber kebudayaan lokal, regional, dan dunia, di Timur dan di Barat, karena baik Timur mau pun Barat adalah milik Allah semata (lih. al-Qur’an surat Al-Baqarah [2]: 115, 142), juga lih. Al-Syu’ara [26]: 28; Al-Muzammil [73]: 9.
Banyak sekali definisi tentang kebudayaan dan peradaban, tetapi semua definisi itu bersifat ad hoc. Menurut Huntington, baik peradaban mau pun kebudayaan sama-sama merujuk kepada “the overall way of life of a people…, both involve the ‘values, norms, institutions, and modes of thinking’…”  (Samuel P. Huntington (1927-2008), The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New Yor: Simon & Schuster, 1996, hlm. 41)
Didorong oleh kekuatan iman dan amal shalih serta diperkaya oleh interaksi kreatifnya dengan sumber-sumber kebudayaan dan peradaban lain, maka Islam dalam tempo relatif singkat telah menjadi agama dunia yang tersebar dari Barat sampai ke Timur selama beberapa abad. Tidak ada tanda-tanda kemudian bahwa pengaruh agama ini akan surut dan menyusut, seperti angka yang dikutip di atas telah mengukuhkan. Apa yang disebut sebagai kebudayaan dan peradaban Islam itu adalah juga sebagai buah dari berbagai gesekan pemikiran internal dan eksternal.
Saat kita takut kepada gesekan dan bahkan benturan pemikiran, itu adalah pertanda dari keruntuhan dan pembusukan kreativitas intelektual. Dengan kata lain, jika itu berlaku berarti kita sedang menggali kuburan kemerdekaan berfikir yang sangat diperlukan dalam upaya meneruka kemajuan. Tentu saja benturan itu harus dikawal oleh iman yang tulus dan daya nalar yang berkualitas tinggi.
Penyakit sebagian para pemikir Muslim klasik yang yang tega hati untuk saling mengafirkan harus dipandang sebagai cacat moral. Oleh sebab itu jangan ditiru, dengan dalih apa pun. Biarlah budaya saling mengafirkan itu menjadi bagian dari masa lalu yang mesti dimasukkan ke dalam museum sejarah, sekali dan untuk selama-lamanya.
Kita kembali kepada kondisi Islam pada tataran global. Yang agak di luar dugaan adalah bahwa di akhir abad ke-20 dan di awal abad ke-21 ini, karya-karya dua penulis non-Muslim, Karen Armstrong dan John L. Esposito tentang Islam telah semakin mempercepat gerak laju agama ini, terutama di belahan bumi Barat. Saat Islam diidentikkan dengan terorisme, dua penulis itu, berdasarkan fakta sejarah telah membantah segala tuduhan busuk yang sangat memojokkan itu.  Akibatnya kedua penulis ini malah dituduh sebagai bersikap apologis terhadap Islam. Salah satu karya Armstrong, Understanding Islam, di awal tahun 2007 di kawasan Pantai Timur Amerika saja telah terjual sebanyak lebih dari 250.000 kopi. Hal ini dapat dilihat dalam wawancara Omayma Abdel-Latif dengan Karen Armstrong “Islam and the West.” http://www.campus-watch.org/article/id/3097.
Fakta ini sekaligus menunjukkan intensitas keingintahuan terhadap Islam semakin menguat, justru pasca Tragedi 9/11/2001. Karya lain tentang Islam yang tidak kurang pentingnya ditulis oleh Hans Küng yang telah dicabut izin dakwahnya oleh Vatikan beberapa tahun yang lalu karena menyarankan agar pusat agama Katolik itu direformasi. (Hans Küng, Islam: Past, Present & Future, tej. John Bowden. Oxford: Oneworld, 2009, setebal 662 halaman plus catatan akhir dan indeks)
Küng ingin sekali agar pengikut agama Yahudi, Kristen, dan Islam menghentikan permusuhan mereka dan bersedia berdamai, sebab perdamaian dunia hanyalah mungkin manakala ketiga agama itu menjadi akur, sesuatu yang masih jauh dari harapan. (Hans Küng, Islam: Past, Present & Future, tej. John Bowden. Oxford: Oneworld, 2009). Bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut:  No peace among the nations/without peace among the religions//No peace among the religions/ without dialogue between the religions//No dialogue between the religions/without global ethical standards// No survival of our globe without/a global ethic, a world ethic,/ supported by both/the religious and the non-religious//
Dibandingkan dengan masyarakat Eropa, menurut Armstrong, rakyat Amerika lebih terbuka dan punya rasa ingin tahu: “Salah satu hal yang baik tentang rakyat Amerika adalah bahwa mereka ingin tahu… sesuatu yang tidak terlihat dalam masyarakat Eropa, seperti Belanda, misalnya.” “Mereka (rakyat Amerika) terbuka untuk kritik dalam cara yang tidak wujud di Eropa di mana orang mengira telah tahu semuanya.” (Armstrong, loc.cit) Terkait dengan tuduhan terhadap dirinya sebagai apologis terhadap Islam, Armstrong menyebut dua nama pembela Zionisme: Bernard Lewis dan Martin Kramer yang tidak mau melihat Islam sebagai agama dengan pesan-pesan kemanusiaan dan perdamaian universal, terlepas dari prilaku kelompok kecil yang merasa benar di jalan yang sesat. Kita kutip:
Mereka mengira saya adalah seorang apologis bagi Muslim, karena artikel saya mengenai nabi sebagai seorang pencipta perdamaian (peacemaker), dan ini tidak sejalan dengan agenda mereka sejauh yang dilakukan Lewis. Baik Lewis mau pun Kramer adalah tokoh Zionis setia yang menulis dari posisi yang teramat bias. Tetapi orang perlu kenal bahwa Islam adalah sebuah agama universal, dan bahwa di situ mengenai (Islam) itu tidak ada yang secara agresif bersifat oriental atau anti-Barat. Sebaliknya, garis Lewis, adalah bahwa Islam itu merupakan sebuah agama pembela kekerasan yang telah menjadi sifatnya. (ibid).l

Sumber : http://suara-muhammadiyah.com/2009/?p=946
feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 13 October 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Baca Juga....

JK: Konflik Palestina-Israel Bukan Persoalan Agama

Tuesday, 07 February 2012

article thumbnailINILAH.COM, Jakarta - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengapresiasi peluncuran buku Ahmad...
Selengkapnya.....

Buya Luncurkan Buku Gilad Aztmon

Tuesday, 07 February 2012

article thumbnailINILAH.COM, Jakarta - Mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah Syafii Maarif meluncurkan buku barunya yang...
Selengkapnya.....

Berita Lainnya...

Autodesk Revit Structure 2011
Joboshare PSP Video Converter
Autodesk Design Suite Ultimate 2012
Autodesk Alias Design 2012
Nuance PaperPort 12
Bigasoft iPod Transfer
Microsoft Office Visio Professional 2007
Joboshare DVD to BlackBerry Converter
Adobe Acrobat 9 Pro Extended
Lynda Creating a Portfolio Web Site Using Flash CS4 Professional
Ashampoo Movie Shrink & Burn 3
ShoveBox MAC
Recover PDF Password MAC
iArchiver for MAC
Bigasoft DVD to Zune Converter