|
(Muhammadiyah Memerlukan Cara Pandang Yang Lebih Segar
Ahmad Syafii Maarif
Pendahuluan
Dengan jumlah umat Islam pada tahun 2009 sebesar 1,82 miliar yang
tersebar di 183 negara, (Muslim Population Worldwide (2 August 2009),
http://www.islamic population.com; sumber CIA 2009 menyebut angka
1,634,948,648 dari jumlah total penduduk dunia 6,780,584,602.
http://www.factbook.net/muslimpop-php) dari sisi kuantitas tidak
ada yang perlu dirisaukan. Bahkan dalam beberapa tahun yang akan
datang, satu dari tiga dari penduduk bumi adalah Muslim. Jika sekarang
jumlah manusia telah mencapai 6,780,584,602 miliar, maka 1,82 miliar
adalah saudara kita seagama. Islam adalah sebuah agama yang tercepat
mendapatkan darah baru sebagai pengikutnya. Dibandingkan dengan agama
Kristen, gerak laju kuantitatif Islam seperti tidak dapat dibendung.
Pada tahun 1900, pengikut Kristen dan Islam berbanding 26.9% dan
12.4% dari seluruh jumlah penduduk dunia. Tahun 2000 berubah menjadi
29.9% Kristen dan 19.2% Islam. Diproyeksikan tahun 2025, angkanya akan
menjadi 25% penganut Kristen dan 30% penganut Islam. Di kawasan Uni
Eropa sekarang Islam rata-rata telah menjadi agama kedua. (Muslim
Population Statistics,”
<http://muslim-canada.org/muslimstatistics.html). Tetapi, jumlah
besar yang masih minus kualitas tentu tidak banyak punya makna
strategis secara global. Umat ini masih saja belum berdaya untuk
mengawal gerak peradaban karena persyaratan untuk itu belum dimiliki;
ilmu kurang, wawasan pun terbatas. Mereka belum juga jera untuk saling
bertikai-pangkai dengan ego kultural dan kepentingannya masing-masing,
sesuatu yang sangat jauh dari cita-cita al-Qur’an tentang persaudaraan
imani universal. Situasi Islam di Indonesia tidak jauh berbeda dengan
apa yang berlaku di berbagai bagian dunia lainnya, padahal Muhammadiyah
ingin membangun peradaban utama di Nusantara ini, bukan? Apa syaratnya?
Mari kita bincangkan selanjutnya.
Islam, Kebudayaan, dan Tantangan Global
Dalam bahasa Arab, ada dua perkataan yang dapat diterjemahkan sebagai
kebudayaan atau peradaban, yaitu tsaqafah dan hadharah. Dalam beberapa
kamus, kedua perkataan itu seringkali dipertukarkan saja. Tetapi saya
lebih cenderung menggunakan hadharah untuk peradaban, dan tsaqafah
untuk kebudayaan.
Hadharah dari kata kerja hadhara- yahdhuru-hudhur berarti hadir,
menghadiri, kehadiran, kemudian menjadi hadhar: kawasan maju, beradab,
dan terdidik di perkotaan dan desa-desa dengan penduduk yang sudah
menetap, sebagai lawan penduduk nomadik, suka berpindah-pindah
(badawi). Perkembangan peradaban dengan dukungan ilmu dan teknologi
selalu dimotori oleh penduduk menetap, bukan oleh mereka dengan
kebiasaan mengembara (badw). Maka badawah atau bidawah adalah kehidupan
nomadik/padang pasir, pengembara. Adapun perkataan tsaqâfah dari kata
kerja tsaqifa -yatsqafu-tsaqf bermakna asal bertemu, mendapatkan. Bisa
juga, tsaqifa dan tsaqufa-yatsqufu-tsaqf = menjadi pintar, cekatan,
cerdas, bijak. Maka, tsaqafah yang berarti kebudayaan adalah hasil olah
otak dan budi manusia pintar, cerdas, cekatan, dan bijak.
Setidak-tidaknya secara teori demikian itu. Dengan kata lain, dapat
pula dikatakan bahwa peradaban merupakan bentuk-bentuk yang lebih
terlihat di permukaan, sedangkan kebudayaan adalah ruh yang menafasi
semua karya kreatif yang dapat diamati. Maka al-tsaqafah al-Islamiyah
(kebudayaan Islam) adalah buah daya ciptaan otak dan budi manusia
Muslim yang didorong oleh iman dan amal shalih yang juga diperkaya oleh
interaksi mereka dengan berbagai sumber kebudayaan lokal, regional, dan
dunia, di Timur dan di Barat, karena baik Timur mau pun Barat adalah
milik Allah semata (lih. al-Qur’an surat Al-Baqarah [2]: 115, 142),
juga lih. Al-Syu’ara [26]: 28; Al-Muzammil [73]: 9.
Banyak sekali definisi tentang kebudayaan dan peradaban, tetapi semua
definisi itu bersifat ad hoc. Menurut Huntington, baik peradaban mau
pun kebudayaan sama-sama merujuk kepada “the overall way of life of a
people…, both involve the ‘values, norms, institutions, and modes of
thinking’…” (Samuel P. Huntington (1927-2008), The Clash of
Civilizations and the Remaking of World Order. New Yor: Simon &
Schuster, 1996, hlm. 41)
Didorong oleh kekuatan iman dan amal shalih serta diperkaya oleh
interaksi kreatifnya dengan sumber-sumber kebudayaan dan peradaban
lain, maka Islam dalam tempo relatif singkat telah menjadi agama dunia
yang tersebar dari Barat sampai ke Timur selama beberapa abad. Tidak
ada tanda-tanda kemudian bahwa pengaruh agama ini akan surut dan
menyusut, seperti angka yang dikutip di atas telah mengukuhkan. Apa
yang disebut sebagai kebudayaan dan peradaban Islam itu adalah juga
sebagai buah dari berbagai gesekan pemikiran internal dan eksternal.
Saat kita takut kepada gesekan dan bahkan benturan pemikiran, itu
adalah pertanda dari keruntuhan dan pembusukan kreativitas intelektual.
Dengan kata lain, jika itu berlaku berarti kita sedang menggali kuburan
kemerdekaan berfikir yang sangat diperlukan dalam upaya meneruka
kemajuan. Tentu saja benturan itu harus dikawal oleh iman yang tulus
dan daya nalar yang berkualitas tinggi.
Penyakit sebagian para pemikir Muslim klasik yang yang tega hati untuk
saling mengafirkan harus dipandang sebagai cacat moral. Oleh sebab itu
jangan ditiru, dengan dalih apa pun. Biarlah budaya saling mengafirkan
itu menjadi bagian dari masa lalu yang mesti dimasukkan ke dalam museum
sejarah, sekali dan untuk selama-lamanya.
Kita kembali kepada kondisi Islam pada tataran global. Yang agak di
luar dugaan adalah bahwa di akhir abad ke-20 dan di awal abad ke-21
ini, karya-karya dua penulis non-Muslim, Karen Armstrong dan John L.
Esposito tentang Islam telah semakin mempercepat gerak laju agama ini,
terutama di belahan bumi Barat. Saat Islam diidentikkan dengan
terorisme, dua penulis itu, berdasarkan fakta sejarah telah membantah
segala tuduhan busuk yang sangat memojokkan itu. Akibatnya kedua
penulis ini malah dituduh sebagai bersikap apologis terhadap Islam.
Salah satu karya Armstrong, Understanding Islam, di awal tahun 2007 di
kawasan Pantai Timur Amerika saja telah terjual sebanyak lebih dari
250.000 kopi. Hal ini dapat dilihat dalam wawancara Omayma Abdel-Latif
dengan Karen Armstrong “Islam and the West.”
http://www.campus-watch.org/article/id/3097.
Fakta ini sekaligus menunjukkan intensitas keingintahuan terhadap Islam
semakin menguat, justru pasca Tragedi 9/11/2001. Karya lain tentang
Islam yang tidak kurang pentingnya ditulis oleh Hans Küng yang telah
dicabut izin dakwahnya oleh Vatikan beberapa tahun yang lalu karena
menyarankan agar pusat agama Katolik itu direformasi. (Hans Küng,
Islam: Past, Present & Future, tej. John Bowden. Oxford: Oneworld,
2009, setebal 662 halaman plus catatan akhir dan indeks)
Küng ingin sekali agar pengikut agama Yahudi, Kristen, dan Islam
menghentikan permusuhan mereka dan bersedia berdamai, sebab perdamaian
dunia hanyalah mungkin manakala ketiga agama itu menjadi akur, sesuatu
yang masih jauh dari harapan. (Hans Küng, Islam: Past, Present &
Future, tej. John Bowden. Oxford: Oneworld, 2009). Bunyi selengkapnya
adalah sebagai berikut: No peace among the nations/without peace among
the religions//No peace among the religions/ without dialogue between
the religions//No dialogue between the religions/without global ethical
standards// No survival of our globe without/a global ethic, a world
ethic,/ supported by both/the religious and the non-religious//
Dibandingkan dengan masyarakat Eropa, menurut Armstrong, rakyat Amerika
lebih terbuka dan punya rasa ingin tahu: “Salah satu hal yang baik
tentang rakyat Amerika adalah bahwa mereka ingin tahu… sesuatu yang
tidak terlihat dalam masyarakat Eropa, seperti Belanda, misalnya.”
“Mereka (rakyat Amerika) terbuka untuk kritik dalam cara yang tidak
wujud di Eropa di mana orang mengira telah tahu semuanya.” (Armstrong,
loc.cit) Terkait dengan tuduhan terhadap dirinya sebagai apologis
terhadap Islam, Armstrong menyebut dua nama pembela Zionisme: Bernard
Lewis dan Martin Kramer yang tidak mau melihat Islam sebagai agama
dengan pesan-pesan kemanusiaan dan perdamaian universal, terlepas dari
prilaku kelompok kecil yang merasa benar di jalan yang sesat. Kita
kutip:
Mereka mengira saya adalah seorang apologis bagi Muslim, karena artikel
saya mengenai nabi sebagai seorang pencipta perdamaian (peacemaker),
dan ini tidak sejalan dengan agenda mereka sejauh yang dilakukan Lewis.
Baik Lewis mau pun Kramer adalah tokoh Zionis setia yang menulis dari
posisi yang teramat bias. Tetapi orang perlu kenal bahwa Islam adalah
sebuah agama universal, dan bahwa di situ mengenai (Islam) itu tidak
ada yang secara agresif bersifat oriental atau anti-Barat. Sebaliknya,
garis Lewis, adalah bahwa Islam itu merupakan sebuah agama pembela
kekerasan yang telah menjadi sifatnya. (ibid).l Sumber : http://suara-muhammadiyah.com/2009/?p=946
|