Jul 03 2009
MANUSIA INDONESIA Dari Huntington sampai Sjafii Ma'arif PDF Cetak E-mail
Friday, 03 July 2009

OLEH : ST SULARTO

Pada tahun 1980-an, Soedjatmoko melontarkan pernyataan, dan ternyata benar, semua gambaran masa depan lekas usang, cepat apak. Perkembangan dan perubahan dunia cepat, dunia lari tunggang langgang. Saat itu belum muncul futurolog besar, seperti Alvin Toffler dan Patricia Aburdene, yang ternyata juga salah satu ramalannya benar, yakni pada era 1990-an dan seterusnya kaum wanita akan semakin berperanan.

 

Buku-buku mereka menjadi acuan selama bertahun-tahun, bahkan Indonesia tak mau kalah, membuat ramalan 30 tahun ke depan meski dikritik kurang berpijak pada realitas. Belakangan masih ada futurolog lain, tetapi yang paling menonjol nama James Canton dengan bukunya, The Extreme Future: The Top Trends That Will Reshape the World for the Next 5, 10, and 20 Years (2006). Dibandingkan dengan yang lain, Canton selain menyampaikan kecenderungan yang negatif, juga menyampaikan harapan dan solusi.

Ketika dihadapkan pada futurologi dunia, terjawab di antaranya oleh hasil penelitian ahli dari Universitas Harvard tahun 1999, yang dibicarakan dalam sebuah simposium ilmiah akhir tahun 1999, diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Culture Matters: How Values Shape Human Progress tahun 2000, dieditori Lawrence Harrison dan Samuel P Huntington. Buku itu memukau tidak saja karena dalamnya analisis ahli, tetapi juga dari sisi aktualitas, tidak berangkat terutama dari spekulasi pemikiran, tetapi digali dari penelitian lapangan.

Bab yang ditampilkan relevan untuk perubahan dan pemajuan negara berkembang, termasuk Indonesia, sampai-sampai seolah menjadi acuan utama setiap kali ada persoalan atau menjadi jawaban kunci mengatasi persoalan. Meskipun demikian, dari serangkaian pertemuan ilmiah di Indonesia, menarik amatan antropolog muda dari UI, Irwan Meulia Pirous.

Dalam Penutup buku bunga rampai Perspektif Budaya (Rajawali Pers, 2009), Irwan mengingatkan perlunya ”relativisme budaya”. Mengutip antropolog Franz Boas, dia tulis sebuah kebudayaan hanya dapat dimengerti melalui perspektif moral, etika, dan estetika kebudayaan. Mengapa? Karena kebudayaan berkembang secara partikular dalam konteks historis yang sangat khusus. Berpikirlah demikian sebelum melakukan generalisasi (hlm 321).

Secara tidak langsung, Penutup itu melengkapi Lawrence Harrison (Culture Matters, hal 296-307), yang mengingatkan 10 nilai Pan American Dream. Sepuluh nilai atau sikap itu membedakan budaya progresif dan budaya statis. Sifatnya berkebalikan dan saling berbenturan, mulai dari nilai orientasi waktu (1), kerja (2), hemat (3), pendidikan (4), manfaat (5), komunitas (6), kode etik (7), keadilan dan kejujuran (8), egaliter (9), sampai sekulerisme (10). Ke-10 nilai itu sebenarnya sudah dihidupi dan menjadi pegangan dalam Konghucu ataupun Taoisme yang menunjukkan kearifan kuno, dan yang membawa Korea Selatan maju pesat, juga etika protestantisme Max Weber yang mendorong Jerman dengan mayoritas penduduknya menganut Kristen Protestan maju pesat dibandingkan dengan negara-negara yang mayoritas penduduknya Katolik Roma.

Kasus Indonesia

Bagaimana Indonesia? Belakangan banyak ilmuwan dan pemerhati kemasyarakatan sosial yang gemar mengutip pembedaan budaya progresif dan budaya negatif dalam melihat 10 nilai itu untuk menjelaskan ketertinggalan bangsa-negara-rakyat Indonesia. Sejumlah nilai adiluhung etnis di Indonesia dirasa kurang mendukung pemajuan Indonesia karena berangkat dari budaya feodal. Tetapi, sebenarnya jauh sebelum Lawrence Harrison dan Huntington menerbitkan Culture Matters, sejumlah antropolog, sosiolog, dan pengamat budaya, termasuk Sutan Takdir Alisjahbana, sudah menyampaikan hal yang serupa dengan temuan Harrison dan Huntington.

Dua di antara mereka tercatat nama Koentjaraningrat dan Mochtar Lubis. Berlatar belakang disiplin antropologi dan aktif melakukan penelitian antropologi kemasyarakatan, Koentjaraningrat menaruh kata kunci Mental Menerabas sebagai salah satu peradaban (dalam arti hasil kebudayaan) yang membuat bangsa Indonesia terus tertinggal. Mental menerabas menafikan kerja keras, hidup hemat, hubungan kekerabatan lebih menentukan dari hubungan fungsional, kejujuran. Pendek kata menolak proses mendahulukan hasil. Keberhasilan memperoleh poin tertinggi, lupakan cara mencapai hasil.

Temuan menerobos itu dilupakan, sampai akhirnya Mochtar Lubis tampil memukau dengan membuka borok-borok mental orang Indonesia dalam pidato kebudayaan tahun 1977, berjudul ”Manusia Indonesia, Sebuah Pertanggungjawaban”. Pidato itu memperoleh banyak tanggapan, kemudian dibukukan dengan judul yang sama oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 1997. Pada tahun 1982 diterbitkan ulang, Mochtar Lubis memberikan komentar, ”keadaannya masih sama, bahkan lebih buruk”.

Menurut Jakob Oetama dalam Pengantar Manusia Indonesia terbitan 1977, gaya dan sikapnya yang terus terang mengupas terutama sifat-sifat negatif orang Indonesia. Kecuali mengundang pendapat pro dan kontra, buku itu juga membangkitkan pemikiran kritis tentang manusia Indonesia.

Mochtar Lubis menggambarkan enam sifat manusia Indonesia, yakni munafik atau hipokrit (1), enggan bertanggung jawab (2), bersikap dan berperilaku feodal (3), percaya takhayul (4), berbakat seni (5), dan lemah watak atau karakternya (6). Keenam stereotip itu bisa saja keliru, tetapi ketika dihadapkan pada kenyataan hidup saat ini dan di sini, benar adanya. Ketika tak ada lagi rasa malu atas kejahatan yang dilakukan, ketika rekam jejak menunjukkan perilaku korup dan ganas atas pelanggaran HAM, begitu saja bisa mengatakan pejuang HAM dan menjadi sponsor antikorupsi.

Jauh sebelumnya, suasana yang digambarkan Mochtar Lubis dan pengalaman kita sehari-hari, tak jauh beda dengan potret zaman edannya pujangga keraton Ranggawarsita. Zaman edan adalah zamannya ketika orang tak mau kehilangan kesempatan agar masih kebagian, agar terjaga citra baiknya, agar tetap mencorong di mata masyarakat. Dan, itu mengabaikan berbagai bentuk etika yang dirumuskan pemikir Barat sebagai jalan keluar mengatasi sikap-sikap mencelakakan seperti versi Harrison dan Huntington dalam kategori budaya statis dan budaya progresif.

Spekulasi ”negara yang gagal”

Indonesia menuju ”negara yang gagal?” Pertanyaan itu mengusik ketika mengkritisi suasana serba kacau sekarang, utamanya kondisi masyarakat dengan mental yang tergambar Huntington-Harrison, Mochtar Lubis, Ranggawarsita. Dalam keadaan semakin menajam, sebab faktor-faktor menuju negara gagal memang terjadi, KH Sjafii Ma’arif tampil ke depan, mengatakan ”tidak”.

Lewat bukunya, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan (Mizan, 2009), Buya Sjafii mengharapkan terus dikembangkannya Indonesia sebagai ”perumahan” dengan mengutip pernyataan Jakob Oetama ”yang membuat bagi kehidupan bersama sebagai bangsa dan negara” (hal 307).

Konkretnya, setelah lebih dari satu dasawarsa bergaul dengan beragam kultur dan beragam penganut agama, Buya Sjafii menyimpulkan, ”mereka bisa menerima kepemimpinan Islam politik yang inklusif, longgar dada, pluralistik, dan adil”. Mereka akan cemas ketika diperlakukan diskriminatif, tidak punya kebebasan dalam menjalankan agama dan tradisinya yang beragam, apalagi tempat-tempat ibadah mereka sering menjadi sasaran amukan kekerasan atas nama Tuhan (hal 244-245).

Peta yang hendaknya dibangun adalah terciptanya rasa nyaman dan aman di satu pihak, Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan—yang berjalan seiring, menyatu saling mengisi membangun sebuah taman sari khas Indonesia—di lain pihak.

Panorama persoalan universal kemanusiaan, manusia Indonesia, mulai dari Harrison-Huntington, Mochtar Lubis, hingga Sjafii Ma’arif ibarat tantangan bersama yang nyaris jadi klasik dan mungkin apak, yang sudah pasti tidak bisa ditangani pada era lima tahun ke depan (2009-2014), tetapi tantangan bidang sosial kemasyarakatan yang senantiasa perlu terus disegarkan dalam membangun sebuah nasion Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/02/05164925/dari.huntington.sampai.sjafii.maarif. 

feed0 Comments

Write comment
 
 
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger
 

security image
Write the displayed characters


busy
Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 03 July 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Baca Juga....

JK: Konflik Palestina-Israel Bukan Persoalan Agama

Tuesday, 07 February 2012

article thumbnailINILAH.COM, Jakarta - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengapresiasi peluncuran buku Ahmad...
Selengkapnya.....

Buya Luncurkan Buku Gilad Aztmon

Tuesday, 07 February 2012

article thumbnailINILAH.COM, Jakarta - Mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah Syafii Maarif meluncurkan buku barunya yang...
Selengkapnya.....

Berita Lainnya...

Ashampoo HDD Control
Quiz press MAC
AVG Anti-Virus 8
Adobe InCopy CS5.5 Student and Teacher Edition
Corel Painter X
Lynda 3ds Max 2010 Lighting and Rendering with mental ray
Autodesk Design Suite Ultimate 2012
Autodesk AutoCAD LT 2011
Joboshare DVD to Mobile Phone Converter
Core Data Editor MAC
Autodesk AutoCAD Electrical 2012
Autodesk AutoCAD Mechanical 2010 32 & 64 Bit
Autodesk AutoCAD Revit MEP Suite 2011
SpamSieve MAC
Microsoft Expression Studio 4 Web Professional