|
OLEH : ST SULARTO
Pada tahun
1980-an, Soedjatmoko melontarkan pernyataan, dan ternyata benar, semua
gambaran masa depan lekas usang, cepat apak. Perkembangan dan perubahan
dunia cepat, dunia lari tunggang langgang. Saat itu belum muncul
futurolog besar, seperti Alvin Toffler dan Patricia Aburdene, yang
ternyata juga salah satu ramalannya benar, yakni pada era 1990-an dan
seterusnya kaum wanita akan semakin berperanan.
Buku-buku mereka menjadi acuan selama
bertahun-tahun, bahkan Indonesia tak mau kalah, membuat ramalan 30
tahun ke depan meski dikritik kurang berpijak pada realitas. Belakangan
masih ada futurolog lain, tetapi yang paling menonjol nama James Canton
dengan bukunya, The Extreme Future: The Top Trends That Will Reshape
the World for the Next 5, 10, and 20 Years (2006). Dibandingkan dengan
yang lain, Canton selain menyampaikan kecenderungan yang negatif, juga
menyampaikan harapan dan solusi.
Ketika dihadapkan pada
futurologi dunia, terjawab di antaranya oleh hasil penelitian ahli dari
Universitas Harvard tahun 1999, yang dibicarakan dalam sebuah simposium
ilmiah akhir tahun 1999, diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Culture
Matters: How Values Shape Human Progress tahun 2000, dieditori Lawrence
Harrison dan Samuel P Huntington. Buku itu memukau tidak saja karena
dalamnya analisis ahli, tetapi juga dari sisi aktualitas, tidak
berangkat terutama dari spekulasi pemikiran, tetapi digali dari
penelitian lapangan.
Bab yang ditampilkan relevan untuk perubahan
dan pemajuan negara berkembang, termasuk Indonesia, sampai-sampai
seolah menjadi acuan utama setiap kali ada persoalan atau menjadi
jawaban kunci mengatasi persoalan. Meskipun demikian, dari serangkaian
pertemuan ilmiah di Indonesia, menarik amatan antropolog muda dari UI,
Irwan Meulia Pirous.
Dalam Penutup buku bunga rampai Perspektif
Budaya (Rajawali Pers, 2009), Irwan mengingatkan perlunya ”relativisme
budaya”. Mengutip antropolog Franz Boas, dia tulis sebuah kebudayaan
hanya dapat dimengerti melalui perspektif moral, etika, dan estetika
kebudayaan. Mengapa? Karena kebudayaan berkembang secara partikular
dalam konteks historis yang sangat khusus. Berpikirlah demikian
sebelum melakukan generalisasi (hlm 321).
Secara
tidak langsung, Penutup itu melengkapi Lawrence Harrison (Culture
Matters, hal 296-307), yang mengingatkan 10 nilai Pan American Dream.
Sepuluh nilai atau sikap itu membedakan budaya progresif dan budaya
statis. Sifatnya berkebalikan dan saling berbenturan, mulai dari nilai
orientasi waktu (1), kerja (2), hemat (3), pendidikan (4), manfaat (5),
komunitas (6), kode etik (7), keadilan dan kejujuran (8), egaliter (9),
sampai sekulerisme (10). Ke-10 nilai itu sebenarnya sudah dihidupi dan
menjadi pegangan dalam Konghucu ataupun Taoisme yang menunjukkan
kearifan kuno, dan yang membawa Korea Selatan maju pesat, juga etika
protestantisme Max Weber yang mendorong Jerman dengan mayoritas
penduduknya menganut Kristen Protestan maju pesat dibandingkan dengan
negara-negara yang mayoritas penduduknya Katolik Roma.
Kasus Indonesia
Bagaimana
Indonesia? Belakangan banyak ilmuwan dan pemerhati kemasyarakatan
sosial yang gemar mengutip pembedaan budaya progresif dan budaya
negatif dalam melihat 10 nilai itu untuk menjelaskan ketertinggalan
bangsa-negara-rakyat Indonesia. Sejumlah nilai adiluhung etnis di
Indonesia dirasa kurang mendukung pemajuan Indonesia karena berangkat
dari budaya feodal. Tetapi, sebenarnya jauh sebelum Lawrence Harrison
dan Huntington menerbitkan Culture Matters, sejumlah antropolog,
sosiolog, dan pengamat budaya, termasuk Sutan Takdir Alisjahbana, sudah
menyampaikan hal yang serupa dengan temuan Harrison dan Huntington.
Dua
di antara mereka tercatat nama Koentjaraningrat dan Mochtar Lubis.
Berlatar belakang disiplin antropologi dan aktif melakukan penelitian
antropologi kemasyarakatan, Koentjaraningrat menaruh kata kunci Mental
Menerabas sebagai salah satu peradaban (dalam arti hasil kebudayaan)
yang membuat bangsa Indonesia terus tertinggal. Mental menerabas
menafikan kerja keras, hidup hemat, hubungan kekerabatan lebih
menentukan dari hubungan fungsional, kejujuran. Pendek kata menolak
proses mendahulukan hasil. Keberhasilan memperoleh poin tertinggi,
lupakan cara mencapai hasil.
Temuan menerobos itu dilupakan,
sampai akhirnya Mochtar Lubis tampil memukau dengan membuka borok-borok
mental orang Indonesia dalam pidato kebudayaan tahun 1977, berjudul
”Manusia Indonesia, Sebuah Pertanggungjawaban”. Pidato itu memperoleh
banyak tanggapan, kemudian dibukukan dengan judul yang sama oleh
Yayasan Obor Indonesia tahun 1997. Pada tahun 1982 diterbitkan ulang,
Mochtar Lubis memberikan komentar, ”keadaannya masih sama, bahkan lebih
buruk”.
Menurut Jakob Oetama dalam Pengantar Manusia Indonesia
terbitan 1977, gaya dan sikapnya yang terus terang mengupas terutama
sifat-sifat negatif orang Indonesia. Kecuali mengundang pendapat pro
dan kontra, buku itu juga membangkitkan pemikiran kritis tentang
manusia Indonesia.
Mochtar Lubis menggambarkan enam sifat manusia
Indonesia, yakni munafik atau hipokrit (1), enggan bertanggung jawab
(2), bersikap dan berperilaku feodal (3), percaya takhayul (4),
berbakat seni (5), dan lemah watak atau karakternya (6). Keenam
stereotip itu bisa saja keliru, tetapi ketika dihadapkan pada kenyataan
hidup saat ini dan di sini, benar adanya. Ketika tak ada lagi rasa malu
atas kejahatan yang dilakukan, ketika rekam jejak menunjukkan perilaku
korup dan ganas atas pelanggaran HAM, begitu saja bisa mengatakan
pejuang HAM dan menjadi sponsor antikorupsi.
Jauh sebelumnya, suasana yang
digambarkan
Mochtar Lubis dan pengalaman kita sehari-hari, tak jauh beda dengan
potret zaman edannya pujangga keraton Ranggawarsita. Zaman edan adalah
zamannya ketika orang tak mau kehilangan kesempatan agar masih
kebagian,
agar terjaga citra baiknya, agar tetap mencorong di mata masyarakat.
Dan, itu mengabaikan berbagai bentuk etika yang dirumuskan pemikir
Barat sebagai jalan keluar mengatasi sikap-sikap mencelakakan seperti
versi Harrison dan Huntington dalam kategori budaya statis dan budaya
progresif.
Spekulasi ”negara yang gagal”
Indonesia
menuju ”negara yang gagal?” Pertanyaan itu mengusik ketika mengkritisi
suasana serba kacau sekarang, utamanya kondisi masyarakat dengan mental
yang tergambar Huntington-Harrison, Mochtar Lubis, Ranggawarsita. Dalam
keadaan semakin menajam, sebab faktor-faktor menuju negara gagal memang
terjadi, KH Sjafii Ma’arif tampil ke depan, mengatakan ”tidak”.
Lewat
bukunya, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan (Mizan,
2009), Buya Sjafii mengharapkan terus dikembangkannya Indonesia sebagai
”perumahan” dengan mengutip pernyataan Jakob Oetama ”yang membuat bagi
kehidupan bersama sebagai bangsa dan negara” (hal 307).
Konkretnya,
setelah lebih dari satu dasawarsa bergaul dengan beragam kultur dan
beragam penganut agama, Buya Sjafii menyimpulkan, ”mereka bisa menerima
kepemimpinan Islam politik yang inklusif, longgar dada, pluralistik,
dan adil”. Mereka akan cemas ketika diperlakukan diskriminatif, tidak
punya kebebasan dalam menjalankan agama dan tradisinya yang beragam,
apalagi tempat-tempat ibadah mereka sering menjadi sasaran amukan
kekerasan atas nama Tuhan (hal 244-245).
Peta yang hendaknya
dibangun adalah terciptanya rasa nyaman dan aman di satu pihak, Islam,
keindonesiaan, dan kemanusiaan—yang berjalan seiring, menyatu saling
mengisi membangun sebuah taman sari khas Indonesia—di lain pihak.
Panorama
persoalan universal kemanusiaan, manusia Indonesia, mulai dari
Harrison-Huntington, Mochtar Lubis, hingga Sjafii Ma’arif ibarat
tantangan bersama yang nyaris jadi klasik dan mungkin apak, yang sudah
pasti tidak bisa ditangani pada era lima tahun ke depan (2009-2014),
tetapi tantangan bidang sosial kemasyarakatan yang senantiasa perlu
terus disegarkan dalam membangun sebuah nasion Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/02/05164925/dari.huntington.sampai.sjafii.maarif.
|